Site icon MalangVoice

Hulu DAS Brantas Hadapi Tekanan Eksploitasi, Pelestarian Sumber Air Butuh Gerakan Bersama

Kesadaran untuk melestarikan lingkungan demi keberlanjutan sumber daya air ditegaskan melalui kegiatan lokakarya dan diskusi kelompok terpumpun "Sustainability Water and Conservation”. Kegiatan ini diinisiasi Bentoel Group menggandeng Komunitas Bantuan Sosial Komunikasi Masyarakat (Baskomas) dan Gerakan Kesadaran Alamku Hijau. (MVoice/Baskomas).

MALANGVOICE– Setiap tetes air adalah pertaruhan mempertahankan denyut kehidupan. Pelestarian sumber mata bukan hanya soal urusan teknis, namun juga butuh gerakan kolektif bersama multipihak. Sehingga sumber kehidupan ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Kesadaran untuk melestarikan lingkungan demi keberlanjutan sumber daya air ditegaskan melalui kegiatan lokakarya dan diskusi kelompok terpumpun “Sustainability Water and Conservation” yang digelar di UPT BLK Wonojati, Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diinisiasi Bentoel Group menggandeng Komunitas Bantuan Sosial Komunikasi Masyarakat (Baskomas) dan Gerakan Kesadaran Alamku Hijau.

Kurang lebih ada sebanyak 100 peserta yang menghadiri kegiatan ini. Melibatkan unsur pemerintah, akademisi hingga pegiat lingkungan. Forum pertemuan dari berbagai latar belakang kalangan membahas tantangan pengelolaan sumber daya air di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Bendungan Lahor Ditutup untuk Mobil Mulai Agustus 2026

Sustainability Lead PT Bentoel Prima, Partha Winata menegaskan arah komitmen perusahaannya dalam pengelolaan air yang berkelanjutan melalui pendekatan alliance for water stewardship (AWS). Perusahanny telah mengimplementasikan berbagai program strategis, meliputi konservasi air, penanaman pohon, penguatan sempadan sungai, penebaran benih ikan endemik, pemantauan kualitas air, pengelolaan limbah, serta peningkatan efisiensi melalui penggunaan kembali dan daur ulang air di wilayah operasional Karanglo dan Singosari.

“Kami percaya keberlanjutan sumber daya air tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, akademisi dan masyarakat,” ujarnya.

Manajer PT Bentoel Prima, Moganraj Palianysamy menyampaikan pendapat serupa soal komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya air. Menurutnya, kolaborasi dengan Baskomas dan Gerakan Kesadaran Alamku Hijau memperkuat implementasi di tingkat lapangan, khususnya dalam edukasi lingkungan, kampanye kesadaran publik. Serta pelibatan masyarakat dalam aksi konservasi di kawasan Daerah Aliran Sungai Brantas (DAS Brantas).

“Sebagai bentuk apresiasi, Bentoel Group bersama Gerakan Kesadaran Alamku Hijau memberikan bibit pohon serta plakat penghargaan kepada local hero yang dinilai aktif berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Langkah ini sekaligus menjadi dorongan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian alam,” imbuh dia.

Sementara itu, Founder Baskomas dan Gerakan Kesadaran Alamku Hijau, Fitri Harianto atau yang akrab disapa Cak Ndan, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan yang semakin tertekan akibat eksploitasi dan minimnya kesadaran kolektif. Menurutnya, prinsip hijau harus diterapkan sejak awal dalam setiap pembangunan dan aktivitas masyarakat. Ia menilai konservasi tanah dan air merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan demi menjaga keseimbangan alam untuk generasi mendatang.

“Konservasi tanah dan air merupakan program pembangunan berkelanjutan menuju restorasi mata air kawasan hulu DAS Brantas. Kalau hari ini kita abai, generasi mendatang yang akan menerima dampaknya,” tegas Cak Ndan.

Melalui kegiatan ini, PT Bentoel Prima menegaskan bahwa pengelolaan Daerah Aliran Sungai Brantas memerlukan sinergi berkelanjutan dari hulu hingga hilir guna memastikan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. Kolaborasi multipihak juga tak bisa dielakkan dalam pengelolaan DAS Brantas Hulu yang tengah mengalami tekanan perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim.

Maraknya alih fungsi lahan di kawasan hulu DAS Brantas membuat hilangnya area tangkapan air. Maka perlu dilakukan aksi penyelamatan untuk merehabilitasi area hutan melalui penanaman dan konservasi berkelanjutan.

“Juga dari sisi kualitas air, Sungai Brantas masih menghadapi tekanan pencemaran dari berbagai sektor, mulai dari domestik hingga industri,” tandas perwakilan dari Perum Jasa Tirta I, Aulia Agusta Alamsjah.(der)

Exit mobile version