Home Blog

Menanti Layanan Dokter Desa, 6 Wilayah Andalkan Pustu

0

MALANGVOICE– Program Satu Desa-Satu Dokter belum sepenuhnya terselenggara secara merata. Dari total 24 desa/kelurahan di Kota Batu, masih 18 desa/kelurahan yang mendapat layanan dari program tersebut. Dengan begitu, ada sebanyak 6 desa/kelurahan yang belum tersentuh layanan dokter.

Pemkot Batu pun berencana melakukan rekrutmen enam tenaga dokter baru pada triwulan kedua tahun ini. Sehingga program unggulan ini terealisasi sesuai rencana. Program Satu Desa-Satu Dokter merupakan bagian dari visi-misi kepala daerah yang dituangkan dalam RPJMD Kota Batu 2025-2030. Pemerataan akses layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam menjamin hak dasar masyarakat.

Graha Amarilis Karsa Husada Layanan Kesehatan Serasa Hotel Berbintang

Program tersebut ditujukan untuk memberi kemudahan akses layanan kesehatan yang termasuk salah satu syarat mutlak untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Karena SDM unggul menjadi landasan utama untuk mewujudkan Mbatu SAE. Sehingga penempatan tenaga dokter di desa/kelurahan dapat mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.

Wali Kota Batu, Nurochman mengatakan, proses rekrutmen ditargetkan berlangsung dalam waktu dekat. Dengan penambahan tenaga medis itu, seluruh desa dan kelurahan di Kota Batu diharapkan bisa segera memiliki dokter yang siaga melayani masyarakat.

“Kemungkinan kami upayakan sekitar triwulan ke dua, untuk dilakukan rekrutmen menambah tenaga lagi. Kami ingin enam wilayah yang tersisa segera terpenuhi dalam waktu dekat,” ujar Cak Nur, sapaannya.

Melalui rekrutmen yang ditargetkan rampung tahun ini, Pemkot Batu optimistis target 24 desa dan kelurahan memiliki dokter dapat tercapai. Ia juga memastikan proses seleksi akan dilakukan secara ketat untuk mendapatkan tenaga medis yang memiliki kompetensi sekaligus dedikasi dalam melayani masyarakat.

“Yang kami cari bukan hanya dokter yang kompeten, tetapi juga yang punya dedikasi tinggi untuk pelayanan masyarakat,” tegasnya.
Selama ini, enam wilayah yang belum memiliki dokter masih mengandalkan layanan dari Puskesmas Pembantu (Pustu) di sekitar desa. Skema tersebut dinilai belum maksimal karena tenaga medis harus membagi waktu dan fokus pelayanan di beberapa titik sekaligus.

Menurut Nurochman yang akrab disapa Cak Nur, kehadiran dokter tetap di tingkat desa akan membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih cepat dan spesifik. Warga tidak perlu lagi jauh-jauh ke rumah sakit atau menunggu antrean panjang hanya untuk pemeriksaan kesehatan dasar.

“Kalau ada dokter yang standby di desa, keluhan masyarakat bisa ditangani lebih cepat dan lebih detail,” jelasnya.

Sementara itu, untuk tenaga bidan desa, Pemkot Batu memastikan tidak ada kekurangan. Saat ini, seluruh 24 desa dan kelurahan di Kota Batu sudah memiliki bidan yang bertugas melayani kebutuhan kesehatan ibu dan anak.

Program Satu Desa Satu Dokter juga mulai menunjukkan dampak positif bagi masyarakat. Dengan adanya dokter yang lebih dekat, warga kini bisa melakukan pemeriksaan rutin seperti kontrol tekanan darah, konsultasi kesehatan, hingga penanganan penyakit ringan di fasilitas kesehatan desa.

Manfaat program ini paling dirasakan oleh kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Keberadaan dokter di desa memungkinkan deteksi dini berbagai keluhan kesehatan tanpa harus menunggu kondisi memburuk.

“Dokter yang turun langsung ke desa bisa lebih memahami kondisi warga secara personal. Itu sebabnya penambahan dokter ini menjadi prioritas kami,” imbuh Cak Nur.

Lebih lanjut, selain penambahan dokter umum, Pemkot Batu juga menyiapkan dua strategi utama untuk memperkuat layanan kesehatan dasar. Pertama yakni rencana penambahan fasilitas poli gigi di setiap Puskesmas guna memperluas cakupan layanan kesehatan mulut yang selama ini dinilai masih terbatas.

Kedua, penguatan Program Home Care di mana layanan ‘jemput bola’ tersebut sudah berjalan di seluruh Puskesmas akan diperluas jangkauannya hingga ke tingkat Polindes (Pondok Bersalin Desa).

Ia menekankan perluasan layanan home care ini secara khusus menyasar kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan mobilitas untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan.

“Fokus kami adalah lansia dan penyandang disabilitas. Kami ingin memastikan tim medis hadir langsung ke rumah-rumah mereka melalui koordinasi hingga tingkat Polindes,” tutupnya.(der)

PJT I dan Polres Malang Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Tebus Murah Sembako di Karangkates

MALANGVOICE – Perum Jasa Tirta I (PJT I) bersama Kepolisian Resor Malang menunjukkan kepedulian sosial melalui kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis bagi wanita pra lansia dan program tebus murah sembako bagi warga Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jumat (24/4).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas ini menyasar dua kebutuhan utama masyarakat: kesehatan dan ekonomi. Sebanyak 250 paket sembako disediakan dalam program tebus murah, sementara layanan kesehatan difokuskan pada kelompok wanita pra lansia yang rentan terhadap berbagai risiko penyakit.

GEBER MALANG di Lawang: Kolaborasi Warga Tanam Pohon untuk Lingkungan Lebih Sehat

Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi Korporat PJT I, Aris Widya, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata untuk membantu masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan pokok.

“Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga membantu meringankan beban ekonomi warga,” ujarnya.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh tenaga medis dari Jasa Tirta Medika bersama tim medis Polres Malang. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, konsultasi, hingga edukasi pola hidup sehat.

Sejak pagi, warga tampak memadati lokasi kegiatan. Antusiasme tinggi terlihat terutama pada program tebus murah sembako, yang dinilai sangat membantu kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Aris menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berorientasi pada dampak nyata.

“PJT I tidak hanya fokus pada pengelolaan sumber daya air, tetapi juga berkomitmen hadir di tengah masyarakat melalui program sosial yang manfaatnya langsung dirasakan. Kolaborasi dengan Polres Malang menunjukkan bahwa sinergi lintas sektor bisa memberikan dampak nyata, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi serupa akan terus diperkuat sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek kesehatan dan ketahanan sosial masyarakat.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Camat Sumberpucung, perangkat Desa Karangkates, serta jajaran Polres Malang, di antaranya Kabag Log Kompol Edy Jarwoko, Kasi Dokkes dr. Anita, dan Kapolsek Sumberpucung AKP Choirul Mustofa.

Melalui kegiatan ini, PJT I dan Polres Malang tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga memperkuat kehadiran negara di tengah masyarakat. Sinergi tersebut menjadi contoh bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga kepedulian terhadap kualitas hidup warga.(der)

Bangun Kesadaran Kolektif, Perlindungan Sumber Mata Air Bukan Hanya Soal Teknis

0

MALANGVOICE– Kolaborasi multipihak merumuskan langkah strategis dalam melindungi keberlanjutan sumber mata air. Berbagai rekomendasi dihasilkan melalui gelaran Rembuk Ekologi dalam rangkaian Festival Mata Air ke-3 yang berpusat di Balai Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Gelaran Rembuk Ekologi diikuti 100 peserta dari berbagai latar belakang. Mulai dari dari perwakilan Perum Perhutani, pengelola Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) se-Kecamatan Bumiaji, kalangan pemerintahan, akademisi hingga tokoh masyarakat.

Kebaya Merah Sukarni, Simbol Perjuangan Perempuan di Tengah Jalanan di Hari Kartini

Forum strategis ini bertujuan merumuskan sinergi antara kebijakan pemerintah, kajian akademis, dan kearifan lokal guna menjamin keberlanjutan sumber air di wilayah hulu yang menjadi penopang hidup masyarakat Malang Raya. Sejumlah butir rekomendasi strategis terkait perlindungan sumber mata air diserahkan kepada Pemkot Batu sebagai bahan pertimbangan penyusunan regulasi lingkungan di masa mendatang.

Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, hadir langsung dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan bahwa Desa Bulukerto memiliki peran vital sebagai benteng alam. Jika ekosistem di hulu rusak, maka dampak krisis air akan dirasakan langsung oleh masyarakat di wilayah hilir.

“Setiap tetes air adalah pertaruhan antara hidup dan kehidupan. Karena itu, menjaga sumber air bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut masa depan generasi kita,” tegas Heli Suyanto.

Menurutnya, butuh kolaborasi triple helix antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan, akademisi sebagai penyedia landasan ilmiah, dan masyarakat sebagai garda terdepan pelaksana di lapangan. Karena gerakan konservasi mata air tidak bisa dilakukan secara parsial.

​Forum ini menghadirkan perspektif lintas disiplin melalui sejumlah narasumber kompeten seperti ​Prof. Rachmad Kristiono Dwi Susilo (Kaprodi S2 Sosiologi UMM) yang menyampaikan materi Meninjau dari aspek sosial dan penguatan komunitas.

Kemudian ​M. Fahrudin Andriansyah Dosen Ilmu Hukum Unisma yang menitikberatkan pada aspek legal dan perlindungan hukum sumber air. Serta Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan yang memaparkan implementasi kebijakan lingkungan di tingkat daerah.

Dalam forum ini, keterlibatan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) mendapat apresiasi khusus. Heli mendorong agar hasil riset mengenai lingkungan tidak hanya berhenti di perpustakaan kampus, melainkan didigitalisasi agar bisa diakses oleh masyarakat luas.

“Kita butuh aksi nyata yang terintegrasi. Saya berharap riset dari para peneliti bisa masuk ke perpustakaan daerah dalam bentuk digital. Dengan begitu, generasi muda bisa belajar konservasi dari sumber yang kredibel,” tambah pria asli Kota Batu tersebut.

Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, menjelaskan bahwa Festival Mata Air ini merupakan agenda konsisten tahunan yang kini memasuki tahun ketiga. Baginya, posisi geografis Bulukerto di dataran tinggi adalah sebuah tanggung jawab moral yang besar.

“Bulukerto berada di kawasan hulu yang menjadi benteng alam. Setiap kebijakan yang kami ambil di tingkat desa harus benar-benar berpihak pada pelestarian mata air. Ini adalah komitmen kami untuk warga Batu dan sekitarnya,” jelas Suhermawan.(der)

Kebakaran Hebat Melanda Gudang Rokok Suket Teki

0

MALANGVOICE – Gudang rokok milik PT Suket Teki mengalami kebakaran pada Jumat (24/4). Asap hitam membumbung tinggi terlihat dari gudang yang terletak di Jalan Mayjen Sungkono itu sejak sore tadi sekitar pukul 16.15 WIB.

Menurut Kanit Binmas Polsek Kedungkandang, Ipda Agus Widodo, sejak ada laporan kebakaran itu langsung menerjunkan tim PMK ke lokasi. Tak berselang lama petugas PMK langsung melakukan pemadaman agar api tidak meluas.

Gedung Dinsos Kota Malang Kebakaran, Diduga Korsleting Listrik

Kbakaran pertama kali muncul tak lama setelah para karyawan pulang kerja. Api pertama muncul di area gudang bahan bahan kertas bungkus rokok.

“Untuk tembakau, informasinya masih aman. Jadi memang di sini kan juga ada tembakaunya,” ujarnya.

Berdasarkan laporan, api cepat membesar di lokasi karena gudang itu menyimpan bahan mudah terbakar, seperti kertas atau etiket (bungkus rokok).

“Ini gudangnya, jadi di sini ada gudang kertas, etiket dan tembakau. Untuk pabriknya tidak di sini,” tambahnya.

Agus memastikan sejauh ini tak ada korban jiwa. Sementara soal penyebab kebakaran, ia masih belum bisa memastikan.

“Faktor kebakaran masih dalam penyelidikan. Ini tim damkar masih melakukan pemadaman,” singkatnya.(der)

Hilang Kendali di Jalur Tanjakan, Truk Terperosok ke Jurang Sedalam 4 Meter

0

MALANGVOICE– Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di Jalan Raya Giripurno, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Jalur alternatif penghubung Batu-Karangploso, Kabupaten Malang ini memiliki medan yang relatif ekstrem dengan tanjakan curam.

Sehingga mengharuskan para pengendara harus waspada dan menguasai medan jalan saat melintasi jalur tersebut. Karena jika tidak pengendara bakal bernasib apes seperti yang dialami Cahyo Mulyohusodo (22) warga Desa Wadung, Pakisaji, Kabupaten Malang.

GEBER MALANG di Lawang: Kolaborasi Warga Tanam Pohon untuk Lingkungan Lebih Sehat

Kendaraan truk yang dikemudikan oleh Cahyo terperosok ke dasar jurang sedalam 4 meter. Peristiwa kecelakaan tunggal itu terjadi di KM05-06 Jalan Raya Giripurno atau dikenal dengan Jurang Susuh oleh masyarakat setempat.

“Pengendara truk Hino bernopol N-9382-UA, Cahyo Mulyohusodo kurang bisa menguasai kendaraan hingga hilang kendali/gagal menanjak, mengakibatkan kendaraan masuk ke jurang,” terang Kasat Lantas Polres Batu, AKP Kevin ibrahim (Jum’at, 24/4).

Diduga kecelakaan tunggal ini disebabkan faktor kelalain pengendara. Sopir truk bernama Cahyo kurang bisa menguasai kendaraan sehingga gagal menanjak. Peristiwa ini bermula saat truk melaju dari arah timur ke barat dengan kecepatan sedang. Namun ketika melewati tanjakan, truk bermuatan galvalum tersebut tidak kuat menanjak hingga terperosok ke dasar jurang.

“Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp5 juta,” pungkas Kevin.(der)

Eduwisata ke Gudang Bulog, Siswa MAN 1 Kota Malang Belajar Langsung Proses Pangan dari Hulu ke Hilir

MALANGVOICE — Puluhan siswa MAN 1 Kota Malang mengikuti kegiatan eduwisata di Gudang Kebonagung, Kamis (23/4), yang digelar Bulog Cabang Malang. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran literasi pangan sejak dini dengan pendekatan langsung di lapangan.

Tak hanya mendengarkan penjelasan, para siswa diajak berkeliling gudang untuk melihat secara nyata setiap tahapan pengelolaan pangan. Mereka mempelajari alur lengkap, mulai dari proses penerimaan gabah dari petani, pengeringan, penyortiran kualitas, hingga penggilingan yang mengubah gabah menjadi beras siap konsumsi.

Polresta Malang Kota Tanam Jagung dan Cabai, Dukung Swasembada Pangan

Selain itu, siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai tugas dan fungsi Bulog dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Penjelasan mencakup proses penerimaan, penyimpanan, perawatan, hingga distribusi beras kepada masyarakat.

Selama kunjungan, para siswa tampak antusias dan kagum melihat tumpukan karung beras yang tersusun rapi, bersih, dan dalam jumlah besar di dalam gudang.

“Saya sudah melihat langsung, ternyata stok beras bulog benar-benar berlimpah seperti di belakang saya saat ini, dan semua ini asli dari petani indonesia. Negara kita keren banget, bisa mewujudkan swasembada pangan” ujar Laila, salah satu siswa MAN 1 Kota Malang.

Eduwisata siswa MAN 1 Kota Malang di gudang Bulog Kebonagung. (Istimewa)

Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak memahami teknik penyimpanan beras agar kualitasnya tetap terjaga dalam jangka waktu tertentu. Petugas menjelaskan sistem pengawasan stok, pengendalian hama, serta pentingnya menjaga kelembapan gudang.

Pimpinan Cabang Bulog Malang, M. Nurjuliansyah Rachman, mengungkapkan stok beras di wilayahnya mencapai 79.000 ton hingga Kamis (23/4). Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk kebutuhan penyaluran selama 10 hingga 11 bulan ke depan.

Pria yang akrab disapa Anung ini menegaskan kunjungan tersebut bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari edukasi untuk mengenalkan peran strategis Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Ia menambahkan, kegiatan ini membuka wawasan siswa bahwa sektor pangan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa pun menyadari bahwa gudang Bulog bukan hanya tempat penyimpanan beras, tetapi juga menjadi bagian vital dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Wisata edukasi ini diharapkan memberikan pengalaman berharga sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya ketahanan pangan bagi masa depan bangsa.

“Kegiatan ini penting bagi siswa dan kami untuk memberikan edukasi dan literasi pangan. Jadi pangan yang beredar di pasar untuk butuh proses yang panjang sehingga akhirnya bisa dikonsumsi,” tandasnya.(der)

Sejumlah Warung Remang-remang di Kedungkandang Dirazia, Polisi Sita Ratusan Botol Miras

0

MALANGVOICE – Polsek Kedungkandang merazia sejumlah warung remang-remang di Jalan Kalianyar, Buring tepatnya di selatan GOR Ken Arok pada Kamis (23/4) malam.

Dalam razia itu dipimpin langsung Kapolsek Kedungkandang, Kompol M Roichan bersama anggota menuju tiga kafe sekaligus.

Menurut M Roichan, razia ini dilakukan karena banyak laporan masyarakat yang reseh dengan aktivitas warung remang-remang di sana.

Kalapas Malang Christo Toar Tancap Gas, Luncurkan “Bulan Membangun SDM” Benahi Internal

“Setelah kami razia diduga tempat tersebut melanggar ketentuan operasional dan tidak memiliki usaha,” katanya, Jumat (24/4).

Dari tiga warung yang menjadi sasaran razia, petugas menemukan berbagai jenis minuman keras berbagai jenis dan merek. Ratusan botol miras itu kemudian dibawa petugas untuk diamankan sebagai barang bukti.

“Dari tiga warung yang kami razia, ditemukan total sebanyak 179 botol miras dari berbagai jenis mulai dari arak bali, bir, anggur merah, hingga vodka,” jelasnya.

Selain itu untuk pemilik atau penjaga warung dikenai sanksi tindak pidana ringan (tipiring) sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Keputusan nanti setelah tipiring. Termasuk barang bukti apabila tidak ada izin akan dimusnahkan,” pungkasnya.

Ia berharap dengan razia ini bisa menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kedungkandang.(der)

Kartini Cilik di Tengah Dentuman Musik: Antara Makna dan Meriahnya Zaman”

Oleh: Al-laily Azzahroh
Prodi PPKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Perayaan Kartini yang dahulu lekat dengan nuansa sederhana dan penuh makna kini perlahan mengalami transformasi yang cukup mencolok menuju bentuk yang lebih meriah dan modern. Salah satu perubahan paling terlihat tampak pada pawai Kartini cilik yang kini tidak lagi sekadar berjalan santai dengan balutan kebaya dan lagu-lagu nasional, melainkan telah berkembang menjadi arak-arakan yang dipenuhi dentuman sound system besar, musik energik, hingga penampilan yang menyerupai karnaval hiburan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang cukup mendasar: masihkah nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini benar-benar hadir dalam perayaan tersebut, atau justru mulai tersisih oleh gemerlapnya modernisasi?

Suryadi Soroti Menu Kering MBG, Tegaskan Gizi Anak Tak Boleh Dikompromikan

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setiap peringatan Hari Kartini, perubahan ini semakin nyata terlihat di berbagai daerah, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat umum. Anak-anak sebagai tokoh utama tetap tampil dengan pakaian adat yang indah dan beragam, didampingi oleh guru serta orang tua yang turut berkontribusi dalam menyukseskan acara.

Namun, esensi pelaksanaan yang dahulu sederhana kini berubah menjadi lebih kompetitif dan atraktif, seolah berlomba-lomba menampilkan yang paling meriah dan menarik perhatian.

Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari arus perkembangan zaman yang membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan selera masyarakat. Budaya populer yang serba cepat, visual, dan menghibur perlahan meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perayaan tradisional.

Keinginan untuk menciptakan suasana yang “hidup” dan tidak membosankan menjadi alasan utama penggunaan musik modern dan sound system yang megah. Bahkan, dalam beberapa kasus, unsur hiburan menjadi lebih dominan dibandingkan nilai edukatif yang seharusnya menjadi inti dari peringatan tersebut. Di satu sisi, kondisi ini memang memberikan dampak positif berupa meningkatnya antusiasme dan keberanian anak-anak untuk tampil di ruang publik, sekaligus menjadikan acara terasa lebih semarak dan berkesan.

Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan, yakni tergerusnya makna mendalam tentang perjuangan emansipasi perempuan, kesederhanaan, serta pentingnya pendidikan yang dahulu menjadi semangat utama Kartini.

Jika dibiarkan tanpa arah yang jelas, pergeseran ini berpotensi menjadikan pawai Kartini cilik hanya sebagai rutinitas tahunan yang kehilangan ruhnya—ramai, meriah, tetapi hampa makna. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama dari berbagai pihak untuk menjaga keseimbangan antara unsur hiburan dan nilai edukasi. Modernisasi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, tetapi perlu diarahkan agar tetap selaras dengan pesan moral yang ingin disampaikan.

Pawai Kartini seharusnya tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas dan kemeriahan, melainkan juga ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami siapa Kartini dan apa yang ia perjuangkan. Dengan demikian, perayaan ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang mampu menanamkan nilai-nilai luhur secara lebih mendalam dan bermakna.

Aplikasi Persada Milik Bapenda Kota Malang Siap Direplikasi di Banyak Daerah

0

MALANGVOICE – Kesuksesan Pemkot Malang mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dilirik kota lain. Baru-baru ini Pemerintah Kota Tasikmalaya resmi mengadopsi sistem pajak digital (e-Tax) milik Kota Malang.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, Handi Priyanto, menyebut aplikasi bernama Persada menjadi poin utama dalam kesepakatan kedua daerah. Aplikasi ini sebelumnya telah dikembangkan sebagai solusi modern dalam pengelolaan pajak daerah.

Menurut Handi, sistem Persada bukan sekadar alat pemantau pajak, tetapi juga memiliki fungsi ganda sebagai sistem kasir digital bagi pelaku usaha.

Dorong Transformasi Pajak Daerah, Bapenda Kota Malang Hadirkan Inovasi Pelayanan Berbasis Teknologi

“Persada ini sudah direkomendasikan oleh KPK melalui Korsupgah untuk direplikasi di berbagai daerah,” ujar Handi, Kamis (23/4).

Sejumlah daerah diketahui telah lebih dulu mengadopsi aplikasi ini, seperti Kabupaten Bangkalan, Lombok Barat, Kota Cirebon, Pekanbaru, hingga Kendari. Sementara beberapa wilayah lain seperti Gorontalo, Palembang, Lubuklinggau, dan Lombok Utara masih dalam tahap proses adopsi.

Dengan penandatanganan kerja sama terbaru, Kota Tasikmalaya menjadi daerah berikutnya yang akan mengimplementasikan sistem tersebut.

“Nanti setelah MoU, aplikasi Persada ini akan kami berikan secara gratis untuk diterapkan di Kota Tasikmalaya,” tambahnya.

Handi menjelaskan, Persada dirancang dengan dua fitur utama. Pertama, fitur pencatatan stok barang dan harga kulakan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha secara gratis. Kedua, fitur pencatatan omzet yang menjadi dasar perhitungan potensi pajak daerah.

Menariknya, data pada fitur stok barang sepenuhnya menjadi milik pelaku usaha dan tidak diakses oleh pemerintah.

“Yang kami lihat hanya omzetnya untuk menghitung potensi pajak. Data lainnya murni untuk kepentingan pengusaha,” jelasnya.

Dengan sistem ini, transparansi dan akurasi data pajak dapat ditingkatkan tanpa membebani wajib pajak.

Inovasi ini dinilai menjadi jawaban atas tantangan berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD). Pemerintah daerah dituntut mampu mengoptimalkan penerimaan tanpa menaikkan tarif pajak.

Persada hadir sebagai solusi berbasis teknologi yang mampu menekan potensi kebocoran pajak sekaligus meningkatkan efisiensi.

“Aplikasi ini lebih unggul dibanding e-Tax konvensional karena terintegrasi dengan sistem kasir,” tegas Handi.

Pengembangan aplikasi ini juga mendapat perhatian dari Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Ketua APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mendorong agar Persada bisa dikembangkan bersama dan diterapkan secara luas di 98 kabupaten/kota di Indonesia.

Dari sisi capaian, implementasi Persada terbukti berdampak signifikan. Realisasi pendapatan pajak harian Kota Malang kini melampaui target yang ditetapkan.

“Target kami Rp3,2 miliar per hari, realisasinya bisa mencapai Rp3,3 hingga Rp3,5 miliar,” ungkap Handi.

Aplikasi ini mulai dikembangkan sejak 2022 bersama tim IT dan telah dipatenkan di Kementerian Hukum dan HAM.

Berkat inovasi tersebut, Pemkot Malang sukses meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada 2022 dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada 2024 dari Kementerian PAN-RB.

Handi menegaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan sistem dalam meminimalisir kebocoran pajak, terutama pada sektor Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) seperti hotel, restoran, hiburan, dan parkir.

“Ini menjadi bukti bahwa digitalisasi mampu memperkuat tata kelola pajak daerah secara transparan dan akuntabel,” pungkasnya.(der)

GEBER MALANG di Lawang: Kolaborasi Warga Tanam Pohon untuk Lingkungan Lebih Sehat

MALANGVOICE — Upaya menjaga kelestarian lingkungan kembali digaungkan melalui kegiatan “GEBER MALANG” (Gerakan Bersama Masyarakat Lawang untuk Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digelar di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (24/4).

Aksi ini diwujudkan dalam bentuk penanaman pohon yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kecamatan Lawang, Polsek dan Koramil Lawang, hingga pemerintah desa dan kelurahan se-Kecamatan Lawang. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sektor swasta dan komunitas, seperti PT Otsuka, PT Molindo, PT New Minatex, komunitas Arela, PGL, serta GKJW Lawang.

Nur Soleh Hidayat Resmi Jabat Camat Lawang, Ajak Warga Kompak Bangun Daerah dan Jaga Kerukunan

Kepala Desa Srigading, Hadori, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari jajaran Muspika Kecamatan Lawang. Ia mengaku bangga karena desanya dipercaya menjadi lokasi kegiatan tersebut.

“Saya mewakili warga Srigading sangat berterima kasih kepada Muspika karena berkenan berkegiatan di desa kami. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga dan merawat lingkungan,” ujarnya.

Camat Lawang, Nur Soleh Hidayat, menjelaskan kegiatan ini mengusung tema “MELIJAU”, singkatan dari Merawat, Melindungi, dan Menghijaukan lingkungan. Ia menegaskan, gerakan ini bukan sekadar simbolis, tetapi langkah nyata menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengantisipasi potensi bencana seperti longsor dan banjir.

“Giat hari ini adalah program yang sangat baik dan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun Kabupaten Malang. Ini akan terus kita jalankan secara berkelanjutan,” katanya.

Melalui GEBER MALANG, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas dinilai menjadi kunci dalam menciptakan wilayah yang hijau, aman, dan sehat.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa gerakan berbasis masyarakat dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari langkah sederhana di sekitar tempat tinggal.(der)