Oleh: Al-laily Azzahroh
Prodi PPKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang
Perayaan Kartini yang dahulu lekat dengan nuansa sederhana dan penuh makna kini perlahan mengalami transformasi yang cukup mencolok menuju bentuk yang lebih meriah dan modern. Salah satu perubahan paling terlihat tampak pada pawai Kartini cilik yang kini tidak lagi sekadar berjalan santai dengan balutan kebaya dan lagu-lagu nasional, melainkan telah berkembang menjadi arak-arakan yang dipenuhi dentuman sound system besar, musik energik, hingga penampilan yang menyerupai karnaval hiburan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang cukup mendasar: masihkah nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini benar-benar hadir dalam perayaan tersebut, atau justru mulai tersisih oleh gemerlapnya modernisasi?
Suryadi Soroti Menu Kering MBG, Tegaskan Gizi Anak Tak Boleh Dikompromikan
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setiap peringatan Hari Kartini, perubahan ini semakin nyata terlihat di berbagai daerah, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat umum. Anak-anak sebagai tokoh utama tetap tampil dengan pakaian adat yang indah dan beragam, didampingi oleh guru serta orang tua yang turut berkontribusi dalam menyukseskan acara.
Namun, esensi pelaksanaan yang dahulu sederhana kini berubah menjadi lebih kompetitif dan atraktif, seolah berlomba-lomba menampilkan yang paling meriah dan menarik perhatian.
Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari arus perkembangan zaman yang membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan selera masyarakat. Budaya populer yang serba cepat, visual, dan menghibur perlahan meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perayaan tradisional.
Keinginan untuk menciptakan suasana yang “hidup” dan tidak membosankan menjadi alasan utama penggunaan musik modern dan sound system yang megah. Bahkan, dalam beberapa kasus, unsur hiburan menjadi lebih dominan dibandingkan nilai edukatif yang seharusnya menjadi inti dari peringatan tersebut. Di satu sisi, kondisi ini memang memberikan dampak positif berupa meningkatnya antusiasme dan keberanian anak-anak untuk tampil di ruang publik, sekaligus menjadikan acara terasa lebih semarak dan berkesan.
Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan, yakni tergerusnya makna mendalam tentang perjuangan emansipasi perempuan, kesederhanaan, serta pentingnya pendidikan yang dahulu menjadi semangat utama Kartini.
Jika dibiarkan tanpa arah yang jelas, pergeseran ini berpotensi menjadikan pawai Kartini cilik hanya sebagai rutinitas tahunan yang kehilangan ruhnya—ramai, meriah, tetapi hampa makna. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama dari berbagai pihak untuk menjaga keseimbangan antara unsur hiburan dan nilai edukasi. Modernisasi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, tetapi perlu diarahkan agar tetap selaras dengan pesan moral yang ingin disampaikan.
Pawai Kartini seharusnya tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas dan kemeriahan, melainkan juga ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami siapa Kartini dan apa yang ia perjuangkan. Dengan demikian, perayaan ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang mampu menanamkan nilai-nilai luhur secara lebih mendalam dan bermakna.
