Sistem Pendidikan Dinilai Tertinggal, Mahasiswa Filkom UB Buat Permainan Gorlids Bagi Anak

Tim GORLIDS Bersama Guru dan Siswa TK Cempaka. (istimewa)

MALANGVOICE – Di berbagai lembaga survei menyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih tertinggal. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan di Indonesia belum menerapkan metode pembelajaran, yang menuntun para peserta didiknya untuk memiliki kemampuan berpikir Computational Thinking (CT).

Perlu diketahui, metode pembelajaran Computational Thinking adalah metode pembelajaran yang menuntut siswa untuk memikirkan problem solving secara terstruktur, kritis dan logis. Kemampuan berpikir seperti itu sangat diperlukan agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Dalam menanggapi persoalan tersebut, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) membuat sebuah permainan Algorithm for Life Kids (Gorlids) untuk anak usia 4 hingga 6 tahun yang berfungsi memunculkan sifat berpikir CT.

BNN Kota Malang

Pemilihan usia 4 hingga 6 tahun untuk penerapan permainan berdasarkan Piaget Teori, untuk mengungkapkan bahwa anak usia 4 hingga 6 tahun berada dalam tahap praoperasional di mana anak masih berpikir konkret. Apabila diterapkan hal yang positif pada anak usia tersebut, maka anak-anak akan bertumbuh dengan cara berpikir alamiah.

Penelitian dalam penerapan Gorlids tersebut dilakukan Syarifuddin beserta tim dengan menggunakan metode True Design Experimental, yakni metode yang mengetahui sebab dan akibat dari suatu tindakan.

Pertama, yakni menentukan sasaran peserta didik di Taman Kanak-Kanak (TK) Cempaka dan TK Brawijaya Smart School (BSS).

Kemudian tim mempelajari kondisi CT anak melalui wawancara dengan empat guru di kedua TK tersebut, kemudian melakukan observasi secara langsung untuk membandingkan hasil ulasan guru TK dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Dari kegiatan tersebut diketahui tingkat berpikir CT siswa kedua TK tersebut masih kurang.Penelitian Syarifuddin tersebut dilakukan dengan mengujicobakan permainan GORLIDS, yaitu anak akan menyusun sebuah potongan puzzle secara acak.

Dalam hal ini anak menerima tiga tahapan bermain Gorlids. Pertama tahap PreTest, yaitu anak diberi kesempatan bermain sesuka mereka hingga GORLIDS tersusun dengan benar.

Dilanjutkan Syarifuddin, tahap kedua anak akan diberi Treatment Test, atau diberi arahan dengan cara menyelesaikan puzzle dengan berpikir Computational Thinking. Menyendirikan potongan yang mempunyai warna sama, menyusun puzzle dari tepi-tepi, membagi tugas dengan temannya, sabar untuk menyesaikan permainan, jika menghadapi kesulitan bertanya pada teman yang sudah selesai, tenang dan tetap fokus.

“Tahap ketiga PosTest, yakni anak akan bermain Gorlids sekali lagi dengan menerapkan treatment yang diberikan peneliti,” katanya.

Hasil dari penelitian tersebut, anak dapat menyesaikan Gorlids dengan terstruktur, kritis dan logis sesuai dengan treatment dan indikator yang dibuat peneliti. Didapatkan hasil PreTest bermain Gorlids untuk dua TK dengan 62 siswa, sebanyak 30 persen anak berpikir problem solving, 39 persen berpikir terstruktur, 55 persen berpikir kritis dan 43 perseb berpikir logis.

Jjika dibandingkan dengan hasil PosTest, tercatat lebih banyak anak yang berpikir problem solving, terstruktur dan logis. Dimana hasil postest sebanyak 84 persen anak berpikir problem solving, 80 persen berpikir terstruktur, 86 persen berpikir kritis dan 77 persen berpikir logis.

“Sehingga kenaikan berfikir CT dari keselurahan indikator sebesar 40 persen,” tambahnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa permainan Gorlids dengan metode True Design Experimental dapat memunculkan sifat berfikir CT, sehingga dapat meningkatkan kualitas berpikir SDM. Hasil penelitian sosial humaniora Syarifuddin beserta tim ini telah lolos pendanaan DIKTI pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 didanai tahun 2019.

Kini Syarifuddin bersama tim telah menyelesaikan penelitiannya tersebut dan masih berjuang untuk dapat lolos menjadi yang terbaik dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIMNAS) 2019 yang tahap monitoring dan evaluasi (monev) internalnya akan diselenggarakan bulan Juni 2019 dan monev eksternalnya pada bulan Juli 2019 mendatang.

Diketahui, tim tersebut di antaranya adalah Azifatul Istna Hanifah (Sistem Informasi/2016), Diva Fardiana Risa (Teknik Informatika/2016) dan Muhammad Syarifuddin (Pendidikan Teknologi Informasi/2017).(Der/Aka)