Home Blog

Eduwisata ke Gudang Bulog, Siswa MAN 1 Kota Malang Belajar Langsung Proses Pangan dari Hulu ke Hilir

MALANGVOICE — Puluhan siswa MAN 1 Kota Malang mengikuti kegiatan eduwisata di Gudang Kebonagung, Kamis (23/4), yang digelar Bulog Cabang Malang. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran literasi pangan sejak dini dengan pendekatan langsung di lapangan.

Tak hanya mendengarkan penjelasan, para siswa diajak berkeliling gudang untuk melihat secara nyata setiap tahapan pengelolaan pangan. Mereka mempelajari alur lengkap, mulai dari proses penerimaan gabah dari petani, pengeringan, penyortiran kualitas, hingga penggilingan yang mengubah gabah menjadi beras siap konsumsi.

Polresta Malang Kota Tanam Jagung dan Cabai, Dukung Swasembada Pangan

Selain itu, siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai tugas dan fungsi Bulog dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Penjelasan mencakup proses penerimaan, penyimpanan, perawatan, hingga distribusi beras kepada masyarakat.

Selama kunjungan, para siswa tampak antusias dan kagum melihat tumpukan karung beras yang tersusun rapi, bersih, dan dalam jumlah besar di dalam gudang.

“Saya sudah melihat langsung, ternyata stok beras bulog benar-benar berlimpah seperti di belakang saya saat ini, dan semua ini asli dari petani indonesia. Negara kita keren banget, bisa mewujudkan swasembada pangan” ujar Laila, salah satu siswa MAN 1 Kota Malang.

Eduwisata siswa MAN 1 Kota Malang di gudang Bulog Kebonagung. (Istimewa)

Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak memahami teknik penyimpanan beras agar kualitasnya tetap terjaga dalam jangka waktu tertentu. Petugas menjelaskan sistem pengawasan stok, pengendalian hama, serta pentingnya menjaga kelembapan gudang.

Pimpinan Cabang Bulog Malang, M. Nurjuliansyah Rachman, mengungkapkan stok beras di wilayahnya mencapai 79.000 ton hingga Kamis (23/4). Jumlah tersebut dinilai mencukupi untuk kebutuhan penyaluran selama 10 hingga 11 bulan ke depan.

Pria yang akrab disapa Anung ini menegaskan kunjungan tersebut bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari edukasi untuk mengenalkan peran strategis Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Ia menambahkan, kegiatan ini membuka wawasan siswa bahwa sektor pangan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa pun menyadari bahwa gudang Bulog bukan hanya tempat penyimpanan beras, tetapi juga menjadi bagian vital dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Wisata edukasi ini diharapkan memberikan pengalaman berharga sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya ketahanan pangan bagi masa depan bangsa.

“Kegiatan ini penting bagi siswa dan kami untuk memberikan edukasi dan literasi pangan. Jadi pangan yang beredar di pasar untuk butuh proses yang panjang sehingga akhirnya bisa dikonsumsi,” tandasnya.(der)

Sejumlah Warung Remang-remang di Kedungkandang Dirazia, Polisi Sita Ratusan Botol Miras

0

MALANGVOICE – Polsek Kedungkandang merazia sejumlah warung remang-remang di Jalan Kalianyar, Buring tepatnya di selatan GOR Ken Arok pada Kamis (23/4) malam.

Dalam razia itu dipimpin langsung Kapolsek Kedungkandang, Kompol M Roichan bersama anggota menuju tiga kafe sekaligus.

Menurut M Roichan, razia ini dilakukan karena banyak laporan masyarakat yang reseh dengan aktivitas warung remang-remang di sana.

Kalapas Malang Christo Toar Tancap Gas, Luncurkan “Bulan Membangun SDM” Benahi Internal

“Setelah kami razia diduga tempat tersebut melanggar ketentuan operasional dan tidak memiliki usaha,” katanya, Jumat (24/4).

Dari tiga warung yang menjadi sasaran razia, petugas menemukan berbagai jenis minuman keras berbagai jenis dan merek. Ratusan botol miras itu kemudian dibawa petugas untuk diamankan sebagai barang bukti.

“Dari tiga warung yang kami razia, ditemukan total sebanyak 179 botol miras dari berbagai jenis mulai dari arak bali, bir, anggur merah, hingga vodka,” jelasnya.

Selain itu untuk pemilik atau penjaga warung dikenai sanksi tindak pidana ringan (tipiring) sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Keputusan nanti setelah tipiring. Termasuk barang bukti apabila tidak ada izin akan dimusnahkan,” pungkasnya.

Ia berharap dengan razia ini bisa menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kedungkandang.(der)

Kartini Cilik di Tengah Dentuman Musik: Antara Makna dan Meriahnya Zaman”

Oleh: Al-laily Azzahroh
Prodi PPKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Perayaan Kartini yang dahulu lekat dengan nuansa sederhana dan penuh makna kini perlahan mengalami transformasi yang cukup mencolok menuju bentuk yang lebih meriah dan modern. Salah satu perubahan paling terlihat tampak pada pawai Kartini cilik yang kini tidak lagi sekadar berjalan santai dengan balutan kebaya dan lagu-lagu nasional, melainkan telah berkembang menjadi arak-arakan yang dipenuhi dentuman sound system besar, musik energik, hingga penampilan yang menyerupai karnaval hiburan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang cukup mendasar: masihkah nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini benar-benar hadir dalam perayaan tersebut, atau justru mulai tersisih oleh gemerlapnya modernisasi?

Suryadi Soroti Menu Kering MBG, Tegaskan Gizi Anak Tak Boleh Dikompromikan

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setiap peringatan Hari Kartini, perubahan ini semakin nyata terlihat di berbagai daerah, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat umum. Anak-anak sebagai tokoh utama tetap tampil dengan pakaian adat yang indah dan beragam, didampingi oleh guru serta orang tua yang turut berkontribusi dalam menyukseskan acara.

Namun, esensi pelaksanaan yang dahulu sederhana kini berubah menjadi lebih kompetitif dan atraktif, seolah berlomba-lomba menampilkan yang paling meriah dan menarik perhatian.

Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari arus perkembangan zaman yang membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan selera masyarakat. Budaya populer yang serba cepat, visual, dan menghibur perlahan meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perayaan tradisional.

Keinginan untuk menciptakan suasana yang “hidup” dan tidak membosankan menjadi alasan utama penggunaan musik modern dan sound system yang megah. Bahkan, dalam beberapa kasus, unsur hiburan menjadi lebih dominan dibandingkan nilai edukatif yang seharusnya menjadi inti dari peringatan tersebut. Di satu sisi, kondisi ini memang memberikan dampak positif berupa meningkatnya antusiasme dan keberanian anak-anak untuk tampil di ruang publik, sekaligus menjadikan acara terasa lebih semarak dan berkesan.

Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan, yakni tergerusnya makna mendalam tentang perjuangan emansipasi perempuan, kesederhanaan, serta pentingnya pendidikan yang dahulu menjadi semangat utama Kartini.

Jika dibiarkan tanpa arah yang jelas, pergeseran ini berpotensi menjadikan pawai Kartini cilik hanya sebagai rutinitas tahunan yang kehilangan ruhnya—ramai, meriah, tetapi hampa makna. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama dari berbagai pihak untuk menjaga keseimbangan antara unsur hiburan dan nilai edukasi. Modernisasi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, tetapi perlu diarahkan agar tetap selaras dengan pesan moral yang ingin disampaikan.

Pawai Kartini seharusnya tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas dan kemeriahan, melainkan juga ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami siapa Kartini dan apa yang ia perjuangkan. Dengan demikian, perayaan ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang mampu menanamkan nilai-nilai luhur secara lebih mendalam dan bermakna.

Aplikasi Persada Milik Bapenda Kota Malang Siap Direplikasi di Banyak Daerah

0

MALANGVOICE – Kesuksesan Pemkot Malang mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dilirik kota lain. Baru-baru ini Pemerintah Kota Tasikmalaya resmi mengadopsi sistem pajak digital (e-Tax) milik Kota Malang.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, Handi Priyanto, menyebut aplikasi bernama Persada menjadi poin utama dalam kesepakatan kedua daerah. Aplikasi ini sebelumnya telah dikembangkan sebagai solusi modern dalam pengelolaan pajak daerah.

Menurut Handi, sistem Persada bukan sekadar alat pemantau pajak, tetapi juga memiliki fungsi ganda sebagai sistem kasir digital bagi pelaku usaha.

Dorong Transformasi Pajak Daerah, Bapenda Kota Malang Hadirkan Inovasi Pelayanan Berbasis Teknologi

“Persada ini sudah direkomendasikan oleh KPK melalui Korsupgah untuk direplikasi di berbagai daerah,” ujar Handi, Kamis (23/4).

Sejumlah daerah diketahui telah lebih dulu mengadopsi aplikasi ini, seperti Kabupaten Bangkalan, Lombok Barat, Kota Cirebon, Pekanbaru, hingga Kendari. Sementara beberapa wilayah lain seperti Gorontalo, Palembang, Lubuklinggau, dan Lombok Utara masih dalam tahap proses adopsi.

Dengan penandatanganan kerja sama terbaru, Kota Tasikmalaya menjadi daerah berikutnya yang akan mengimplementasikan sistem tersebut.

“Nanti setelah MoU, aplikasi Persada ini akan kami berikan secara gratis untuk diterapkan di Kota Tasikmalaya,” tambahnya.

Handi menjelaskan, Persada dirancang dengan dua fitur utama. Pertama, fitur pencatatan stok barang dan harga kulakan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha secara gratis. Kedua, fitur pencatatan omzet yang menjadi dasar perhitungan potensi pajak daerah.

Menariknya, data pada fitur stok barang sepenuhnya menjadi milik pelaku usaha dan tidak diakses oleh pemerintah.

“Yang kami lihat hanya omzetnya untuk menghitung potensi pajak. Data lainnya murni untuk kepentingan pengusaha,” jelasnya.

Dengan sistem ini, transparansi dan akurasi data pajak dapat ditingkatkan tanpa membebani wajib pajak.

Inovasi ini dinilai menjadi jawaban atas tantangan berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD). Pemerintah daerah dituntut mampu mengoptimalkan penerimaan tanpa menaikkan tarif pajak.

Persada hadir sebagai solusi berbasis teknologi yang mampu menekan potensi kebocoran pajak sekaligus meningkatkan efisiensi.

“Aplikasi ini lebih unggul dibanding e-Tax konvensional karena terintegrasi dengan sistem kasir,” tegas Handi.

Pengembangan aplikasi ini juga mendapat perhatian dari Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Ketua APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mendorong agar Persada bisa dikembangkan bersama dan diterapkan secara luas di 98 kabupaten/kota di Indonesia.

Dari sisi capaian, implementasi Persada terbukti berdampak signifikan. Realisasi pendapatan pajak harian Kota Malang kini melampaui target yang ditetapkan.

“Target kami Rp3,2 miliar per hari, realisasinya bisa mencapai Rp3,3 hingga Rp3,5 miliar,” ungkap Handi.

Aplikasi ini mulai dikembangkan sejak 2022 bersama tim IT dan telah dipatenkan di Kementerian Hukum dan HAM.

Berkat inovasi tersebut, Pemkot Malang sukses meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada 2022 dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada 2024 dari Kementerian PAN-RB.

Handi menegaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan sistem dalam meminimalisir kebocoran pajak, terutama pada sektor Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) seperti hotel, restoran, hiburan, dan parkir.

“Ini menjadi bukti bahwa digitalisasi mampu memperkuat tata kelola pajak daerah secara transparan dan akuntabel,” pungkasnya.(der)

GEBER MALANG di Lawang: Kolaborasi Warga Tanam Pohon untuk Lingkungan Lebih Sehat

MALANGVOICE — Upaya menjaga kelestarian lingkungan kembali digaungkan melalui kegiatan “GEBER MALANG” (Gerakan Bersama Masyarakat Lawang untuk Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digelar di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (24/4).

Aksi ini diwujudkan dalam bentuk penanaman pohon yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kecamatan Lawang, Polsek dan Koramil Lawang, hingga pemerintah desa dan kelurahan se-Kecamatan Lawang. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sektor swasta dan komunitas, seperti PT Otsuka, PT Molindo, PT New Minatex, komunitas Arela, PGL, serta GKJW Lawang.

Nur Soleh Hidayat Resmi Jabat Camat Lawang, Ajak Warga Kompak Bangun Daerah dan Jaga Kerukunan

Kepala Desa Srigading, Hadori, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari jajaran Muspika Kecamatan Lawang. Ia mengaku bangga karena desanya dipercaya menjadi lokasi kegiatan tersebut.

“Saya mewakili warga Srigading sangat berterima kasih kepada Muspika karena berkenan berkegiatan di desa kami. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga dan merawat lingkungan,” ujarnya.

Camat Lawang, Nur Soleh Hidayat, menjelaskan kegiatan ini mengusung tema “MELIJAU”, singkatan dari Merawat, Melindungi, dan Menghijaukan lingkungan. Ia menegaskan, gerakan ini bukan sekadar simbolis, tetapi langkah nyata menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengantisipasi potensi bencana seperti longsor dan banjir.

“Giat hari ini adalah program yang sangat baik dan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun Kabupaten Malang. Ini akan terus kita jalankan secara berkelanjutan,” katanya.

Melalui GEBER MALANG, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas dinilai menjadi kunci dalam menciptakan wilayah yang hijau, aman, dan sehat.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa gerakan berbasis masyarakat dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari langkah sederhana di sekitar tempat tinggal.(der)

NESCO 2 di Malang: Ajang Esai Nasional Buktikan Siswa Mampu Bersaing di Level Tertinggi

MALANGVOICE – National Essay Competition (NESCO) ke-2 sukses digelar pada 18–19 April 2026 di Kota Malang. Kompetisi ini diinisiasi Pusat Riset Siswa, Mahasiswa, dan Akademisi (PRISMA) bersama STMIK PPKIA Pradnya Paramita (STIMATA), Fakultas Sains dan Teknologi Informasi Universitas Widya Gama Malang, serta Departemen Pendidikan Tata Boga dan Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.

Mengangkat tema “Solusi Kreatif Pemuda untuk Mewujudkan Indonesia yang Berdaya Saing Global”, NESCO 2 menjadi ruang bagi generasi muda untuk menuangkan ide inovatif dalam bentuk esai yang solutif dan aplikatif.

Tidak hanya diikuti mahasiswa, ajang ini juga melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Hasilnya pun mencuri perhatian. Sejumlah siswa berhasil meraih posisi juara, membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di tingkat nasional melalui ide, kreativitas, dan kerja keras.

National Essay Competition (NESCO). (Istimewa)

Antusiasme peserta terlihat sejak awal. Sebanyak 1.094 peserta yang tergabung dalam 351 tim dari 118 instansi dan 24 provinsi mengikuti seleksi awal. Setelah melalui proses ketat, 146 tim dengan total 319 finalis lolos ke tahap akhir dan berkompetisi langsung di Malang. Para finalis berasal dari 68 instansi pendidikan di 16 provinsi.

Acara dibuka oleh Ketua STIMATA, Dr. Tubagus Mohammad Akhriza. Ia menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan kolaborasi yang telah memasuki tahun kedua. Menurutnya, kerja sama ini menunjukkan sinergi yang konsisten dan memberi dampak positif. Ia juga mengapresiasi para finalis yang telah melewati seleksi ketat dan menyebut mereka sebagai juara. Ia berharap pencapaian ini menjadi dorongan untuk terus berkembang.

Rangkaian kegiatan berlangsung di Auditorium Malang Creative Center (MCC) untuk pembukaan dan penutupan, serta Gedung Amfiteater sebagai lokasi presentasi sesuai bidang.

Berdasarkan penilaian dewan juri, Juara 1 diraih tim dari SMAN 1 Sumbawa Besar yang diketuai Nindra Maharjeng Adhegantary. Juara 2 diraih Adiluhung dari Universitas Indonesia. Juara 3 diraih Naila Izzah Fathiyyah dari SMAN 1 Sumbawa Besar.

Sementara itu, Juara Harapan 1 diraih tim Politeknik Negeri Semarang (Gigih Panjih Mulyanto), Juara Harapan 2 diraih Narnia Cahyarani dari SMA Negeri 4 Bojonegoro, dan Juara Harapan 3 diraih tim Universitas Udayana yang diketuai Ayundina Oktavia Bella.

Selain kategori utama, NESCO 2 juga memberikan berbagai penghargaan seperti Gold, Silver, Bronze Medal, Best Poster, Best Paper, Best Presentation, hingga kategori favorit. Best Poster diraih tim Universitas Lambung Mangkurat (Ayudhea), Best Paper oleh tim Universitas Indonesia (Adiluhung), dan Best Presentation oleh tim Universitas Lambung Mangkurat (Andi Majdah Rahmadhani Syam).

Kategori favorit juga menjadi sorotan. Favorite Paper dimenangkan tim SMAN 1 Kedungpring (Afroh Asliyah), sementara The Most Favorite diraih tim SMAN Taruna Nala Jawa Timur (Nadya Salwa Dahayu Putri Winarto).

Untuk kategori Favorite Poster per subtema, pemenang berasal dari berbagai institusi, mulai dari Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Lambung Mangkurat, SMAN 1 Lumajang, hingga Universitas Syiah Kuala dan Universitas Mulawarman. Keberagaman ini menunjukkan luasnya partisipasi dan kualitas ide yang bersaing.

Juara umum NESCO 2 diraih oleh SMAN 1 Sumbawa Besar sebagai institusi dengan total poin tertinggi.

Tahun ini, panitia juga menghadirkan penghargaan spesial berupa Fully Funded Reward dari sponsor Rasyid Ridho Scholarship. Penghargaan ini diberikan kepada Nadya Salwa Dahayu Putri Winarto dari SMAN Taruna Nala Jawa Timur sebagai pemenang Favorite Poster dengan jumlah likes tertinggi. Ia berhak mengikuti program internasional ke Malaysia atau Singapura melalui program Next Impact.

Tidak hanya kompetisi, para finalis juga mengikuti field trip edukatif ke sejumlah destinasi unggulan di Malang, seperti Sunrise Point Bromo (Seruni Point), Widodaren, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletubbies.

PRISMA bersama seluruh mitra penyelenggara menyampaikan terima kasih kepada peserta, dewan juri, panitia, sponsor, serta semua pihak yang telah mendukung acara ini. NESCO diharapkan terus berlanjut sebagai wadah pengembangan intelektual dan kepemimpinan generasi muda, sekaligus ruang kolaborasi untuk melahirkan gagasan bagi kemajuan bangsa.(der)

Pemkot Malang Bagi “Resep” Jurus Dongkrak PAD ke Tasikmalaya

0

MALANGVOICE – Pemerintah Kota Malang mulai “membagikan resep” suksesnya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Melalui penandatanganan kesepakatan bersama dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya, Kamis (23/4/2026), kedua daerah sepakat memperkuat kolaborasi di bidang inovasi pendapatan daerah.

Kesepakatan itu diteken langsung oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan di Balai Kota Malang. Bukan sekadar seremoni, kerja sama ini jadi pintu masuk transfer pengetahuan antar daerah di tengah tekanan fiskal yang makin terasa.

Wahyu Hidayat menegaskan, kondisi saat ini menuntut kepala daerah berpikir lebih kreatif. Ketergantungan pada dana pusat tak lagi cukup, apalagi dengan adanya efisiensi anggaran dan penyesuaian Tunjangan Kinerja Daerah (TKD).

“Daerah harus punya inovasi sendiri untuk bertahan dan berkembang. Kami sudah merasakan dampaknya, PAD bisa meningkat cukup signifikan,” ujarnya.

Salah satu yang jadi sorotan adalah aplikasi Persada, sistem digital yang membantu optimalisasi pajak daerah, terutama dari sektor hotel dan restoran. Inovasi ini sebelumnya juga dipaparkan dalam forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia dan menarik perhatian banyak daerah.

Tasikmalaya termasuk yang paling serius menindaklanjuti. Viman mengaku ketertarikannya sudah muncul sejak mengikuti forum APEKSI di Malang. Ia melihat langsung bagaimana sistem tersebut mampu mengelola berbagai sumber pajak, mulai dari PBB hingga retribusi.

“Kami tidak ingin hanya melihat, tapi juga belajar dan, kalau memungkinkan, mengadopsinya,” kata Viman.

Dorongan itu makin kuat karena kondisi fiskal Tasikmalaya yang sedang menghadapi pemangkasan TKD hingga 30 persen. Situasi tersebut membuat peningkatan PAD bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Menurut Viman, kolaborasi antar daerah bisa menjadi jalan keluar yang realistis. Dengan saling berbagi kelebihan, masing-masing daerah dapat mempercepat penguatan kapasitas fiskalnya.

Hasil yang dicapai Malang pun menjadi tolok ukur yang cukup mencolok. Dengan sistem yang terintegrasi, PAD kota ini disebut bisa menembus rata-rata Rp3 miliar per hari.

“Angka itu bukan hanya besar, tapi juga menunjukkan sistemnya berjalan. Kami berharap Tasikmalaya bisa mengejar ke arah sana,” ujarnya.

Lebih jauh, peningkatan PAD juga berkaitan langsung dengan kesehatan struktur anggaran. Sesuai ketentuan, belanja pegawai harus dijaga maksimal 30 persen dari total anggaran daerah.

“Kalau PAD naik, otomatis proporsi belanja pegawai turun. Itu penting untuk menjaga keseimbangan fiskal,” kata Viman.

Kerja sama ini menjadi sinyal bahwa di tengah keterbatasan, inovasi dan kolaborasi justru semakin krusial. Bagi Malang, ini kesempatan memperluas dampak inovasinya. Bagi Tasikmalaya, ini langkah cepat untuk mengejar kemandirian fiskal.(der)

Pria Asal Lumajang Tewas di Jembatan Cangar, Diduga Bunuh Diri

0

MALANGVOICE– Sesosok mayat berinisial DPW (24) ditemukan tergeletak di dasar Jembatan Kembangar Cangar perbatasan Batu-Mojokerto. Mayat berjenis kelamin pria tersebut ditemukan sekitar Kamis pagi (23/4).

Diduga pria asal Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang itu nekat bunuh diri melompat dari jembatan. Di sekitar lokasi juga terdapat sepeda motor serta sandal miliknya. Penemuan jenazah ini pertama kali dilaporkan oleh warga sekitar pukul 10.00 WIB.

Olah TKP dilakukan anggota kepolisian Polsek Bumiaji dan Tim Inafis Polres Batu. Begitu proses olah TKP selesai, jenazah DWP dievakuasi ke RS Bhayangkara Hasta Brata, Kota Batu untuk menjalani visum.

“Informasi penemuan mayat diterima Polsek Bumiaji sekitar pukul 10.00 WIB,” ujar Kapolsek Bumiaji, AKP Anton Hendri Subagijo.

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Joko Suprianto, menengarai tewasnya DPW mengarah pada tindakan bunuh diri. Namun, pihak kepolisian tidak ingin gegabah dan tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan motif serta kronologi pasti sebelum korban terjatuh.

“Kami masih berupaya menggali informasi tambahan dan menghubungi pihak keluarga korban di Lumajang guna memastikan kronologi lengkap peristiwa ini,” pungkasnya.(der)

Laga Arema vs Persebaya Pindah di Bali, Panpel Akui Kecewa

0

MALANGVOICE – Laga Arema FC menjamu Persebaya Surabaya hampir pasti tidak jadi digelar di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026.

Berdasar rekomendasi Polres Malang dengan surat Nomor : B/666 /IV/YAN.2.1./2026 tertanggal 21 April 2026 yang merekomendasikan agar laga Derby Jawa Timur melawan Persebaya Surabaya tidak diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan.

Sekaligus surat dari regulator I League Nomor : 371/LI-KOM/IV/2026 tertanggal 22 April 2026
Perihal Circular Penyesuaian Venue Kompetisi BRI Super League 2025/26 laga Arema FC vs Persebaya berpindah ke Stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali.

Menanggapi hal itu, Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC, mengaku kecewa namun menghormati pertimbangan teknis dan keamanan yang menjadi dasar rekomendasi tersebut, dengan alasan menjaga stabilitas Kamtibmas di Malang Raya.

“Secara emosional tentu ada rasa kecewa karena keinginan kami membuktikan kesiapan Kanjuruhan sangat besar. Namun, kami memilih untuk tidak larut dalam emosi. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada arahan otoritas kepolisian dan akan mengikuti regulasi yang ditetapkan,” kata Ketua Panpel Arema FC, Erwin Hardiyono.

Dengan berpindahnya venue pertandingan derby Jatim itu, pihaknya bakal segera melakukan koordinasi cepat dengan pihak pengelola stadion dan otoritas keamanan setempat di Bali agar pertandingan tetap bisa berjalan sesuai jadwal.

Erwin menambahkan Panpel Arema FC juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada rekan-rekan suporter yang tergabung dalam Presidium Aremania. Upaya diplomasi, kedewasaan, dan komitmen nyata yang ditunjukkan Aremania dalam menjaga kondusifitas wilayah menjadi catatan moral yang sangat berharga bagi klub.

“Kami melihat kedewasaan luar biasa dari Aremania. Langkah Presidium yang berkomunikasi secara elegan dengan Kapolda Jatim maupun Kapolres Malang adalah wujud kecintaan tulus pada klub. Kami sangat menghargai ikhtiar mereka yang berbesar hati menerima situasi ini tanpa aksi destruktif,” tegas Erwin.

Erwin juga berterima kasih kepada banyak pihak yang memberi support agar Stadion Kanjuruhan bisa menggelar laga derby klasik tersebut, meskipun ujungnya belum mendapatkan izin.

Panpel mengimbau kepada seluruh Aremania untuk tetap tenang dan mendukung keputusan ini dengan bijak. Fokus utama saat ini adalah memastikan Arema FC dapat bertanding dengan tenang dan meraih hasil maksimal meskipun harus bermain jauh dari rumah sendiri.

“Mari kita tunjukkan bahwa Aremania adalah suporter yang taat hukum dan lebih mengutamakan kondusivitas bangsa. Tetaplah bersatu dan jangan terprovokasi oleh narasi yang dapat merugikan nama baik klub dan kota kita tercinta,” tutupnya.(der)

Kalapas Malang Christo Toar Tancap Gas, Luncurkan “Bulan Membangun SDM” Benahi Internal

0

MALANGVOICE – Gaya kepemimpinan baru mulai terasa di Lapas Kelas I Malang. Kepala Lapas (Kalapas) Christo Victor Nixon Toar langsung tancap gas melakukan pembenahan internal sejak awal menjabat.

Langkah cepat itu diwujudkan melalui program bertajuk “Bulan Membangun SDM” yang akan dimulai pada 1 Mei 2026 dan menyasar seluruh petugas lapas.

“Setiap pemimpin memiliki cara dan perlakuan yang berbeda, dan saya akan menerapkan pendekatan yang berbeda pula,” ujar Christo, Rabu (22/4/) malam.

Petugas Lapas Malang Gagalkan Penyelundupan Wafer ‘Rasa’ Sabu

Program tersebut, kata dia, bukan muncul tiba-tiba. Sejak pertama masuk ke Lapas Malang, Christo sudah memetakan berbagai persoalan yang perlu dibenahi, sekaligus melanjutkan langkah perbaikan dari pejabat sebelumnya.

Salah satu sorotan utamanya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menilai, banyak persoalan di dalam lapas berakar dari minimnya pembekalan bagi petugas baru.

“Kurangnya ilmu saat petugas pertama kali masuk,” tegasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pelatihan disiplin dan pemahaman tugas, sebagaimana diterapkan di berbagai instansi lain. Menurutnya, penguatan SDM menjadi fondasi utama sebelum melangkah ke pembenahan yang lebih luas.

Tak hanya itu, Christo juga menaruh perhatian besar pada penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP). Terutama dalam hal pengawasan terhadap tamu maupun petugas yang keluar masuk lapas.

“HP dan narkoba itu musuh utama. Pelaksanaan SOP harus dikuatkan lagi,” tandasnya.

Pengalaman memimpin Lapas Karawang selama dua tahun lima bulan menjadi bekal berharga bagi Christo. Ia mengaku sempat menghadapi resistensi besar saat mencoba mengubah budaya kerja di sana.

Namun, perlahan pola pikir petugas berhasil diubah. Dari yang sebelumnya ingin dilayani, menjadi petugas yang benar-benar melayani masyarakat tanpa biaya.

Semangat perubahan itu kini ia bawa ke Malang lewat slogan #AyoBerubah dan #SorryGueBeda.

Tak hanya pengalaman di lapas, latar belakangnya di Ombudsman RI pada 2017–2020 juga ikut membentuk karakter kepemimpinannya, terutama dalam hal pelayanan publik dan pencegahan praktik korupsi.

“Saya banyak belajar di Ombudsman terkait pelayanan,” ujarnya.

Meski fokus pada pembenahan internal, Christo memastikan hak-hak warga binaan tetap menjadi perhatian utama. Namun, ia juga menegaskan tidak akan mentoleransi pelanggaran.

“Jika warga binaan tidak bisa dibina di Lapas Malang, saya tidak ragu untuk ‘melayarkan’ atau memindahkan mereka ke lapas lain,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya integritas dalam menjalankan tugas. Menurutnya, melayani bukan berarti menuruti semua keinginan, apalagi jika melanggar aturan.

Penyelundupan ponsel, misalnya, tetap dikategorikan sebagai pelanggaran serius. Christo mengakui praktik tersebut kemungkinan masih ada, namun ia berkomitmen untuk terus memberantas peredaran HP ilegal dan narkoba di dalam lapas.

Di sisi lain, tantangan besar juga datang dari keterbatasan jumlah personel. Berdasarkan data per Rabu (22/4/2026) pagi, hanya ada sekitar 15 petugas yang harus mengawasi 2.414 warga binaan.

Meski demikian, ia optimistis pembenahan tetap bisa berjalan melalui kolaborasi dengan seluruh jajaran pejabat di lapas.

“Fokus awal tetap internal lapas. SDM-nya dulu kita kuatkan,” pungkas pria asli Manado tersebut sambil tersenyum.(der)