Home Blog

GEBER MALANG di Lawang: Kolaborasi Warga Tanam Pohon untuk Lingkungan Lebih Sehat

MALANGVOICE — Upaya menjaga kelestarian lingkungan kembali digaungkan melalui kegiatan “GEBER MALANG” (Gerakan Bersama Masyarakat Lawang untuk Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digelar di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (24/4).

Aksi ini diwujudkan dalam bentuk penanaman pohon yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kecamatan Lawang, Polsek dan Koramil Lawang, hingga pemerintah desa dan kelurahan se-Kecamatan Lawang. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sektor swasta dan komunitas, seperti PT Otsuka, PT Molindo, PT New Minatex, komunitas Arela, PGL, serta GKJW Lawang.

Nur Soleh Hidayat Resmi Jabat Camat Lawang, Ajak Warga Kompak Bangun Daerah dan Jaga Kerukunan

Kepala Desa Srigading, Hadori, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari jajaran Muspika Kecamatan Lawang. Ia mengaku bangga karena desanya dipercaya menjadi lokasi kegiatan tersebut.

“Saya mewakili warga Srigading sangat berterima kasih kepada Muspika karena berkenan berkegiatan di desa kami. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga dan merawat lingkungan,” ujarnya.

Camat Lawang, Nur Soleh Hidayat, menjelaskan kegiatan ini mengusung tema “MELIJAU”, singkatan dari Merawat, Melindungi, dan Menghijaukan lingkungan. Ia menegaskan, gerakan ini bukan sekadar simbolis, tetapi langkah nyata menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengantisipasi potensi bencana seperti longsor dan banjir.

“Giat hari ini adalah program yang sangat baik dan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun Kabupaten Malang. Ini akan terus kita jalankan secara berkelanjutan,” katanya.

Melalui GEBER MALANG, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas dinilai menjadi kunci dalam menciptakan wilayah yang hijau, aman, dan sehat.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa gerakan berbasis masyarakat dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari langkah sederhana di sekitar tempat tinggal.(der)

NESCO 2 di Malang: Ajang Esai Nasional Buktikan Siswa Mampu Bersaing di Level Tertinggi

MALANGVOICE – National Essay Competition (NESCO) ke-2 sukses digelar pada 18–19 April 2026 di Kota Malang. Kompetisi ini diinisiasi Pusat Riset Siswa, Mahasiswa, dan Akademisi (PRISMA) bersama STMIK PPKIA Pradnya Paramita (STIMATA), Fakultas Sains dan Teknologi Informasi Universitas Widya Gama Malang, serta Departemen Pendidikan Tata Boga dan Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.

Mengangkat tema “Solusi Kreatif Pemuda untuk Mewujudkan Indonesia yang Berdaya Saing Global”, NESCO 2 menjadi ruang bagi generasi muda untuk menuangkan ide inovatif dalam bentuk esai yang solutif dan aplikatif.

Tidak hanya diikuti mahasiswa, ajang ini juga melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Hasilnya pun mencuri perhatian. Sejumlah siswa berhasil meraih posisi juara, membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di tingkat nasional melalui ide, kreativitas, dan kerja keras.

National Essay Competition (NESCO). (Istimewa)

Antusiasme peserta terlihat sejak awal. Sebanyak 1.094 peserta yang tergabung dalam 351 tim dari 118 instansi dan 24 provinsi mengikuti seleksi awal. Setelah melalui proses ketat, 146 tim dengan total 319 finalis lolos ke tahap akhir dan berkompetisi langsung di Malang. Para finalis berasal dari 68 instansi pendidikan di 16 provinsi.

Acara dibuka oleh Ketua STIMATA, Dr. Tubagus Mohammad Akhriza. Ia menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan kolaborasi yang telah memasuki tahun kedua. Menurutnya, kerja sama ini menunjukkan sinergi yang konsisten dan memberi dampak positif. Ia juga mengapresiasi para finalis yang telah melewati seleksi ketat dan menyebut mereka sebagai juara. Ia berharap pencapaian ini menjadi dorongan untuk terus berkembang.

Rangkaian kegiatan berlangsung di Auditorium Malang Creative Center (MCC) untuk pembukaan dan penutupan, serta Gedung Amfiteater sebagai lokasi presentasi sesuai bidang.

Berdasarkan penilaian dewan juri, Juara 1 diraih tim dari SMAN 1 Sumbawa Besar yang diketuai Nindra Maharjeng Adhegantary. Juara 2 diraih Adiluhung dari Universitas Indonesia. Juara 3 diraih Naila Izzah Fathiyyah dari SMAN 1 Sumbawa Besar.

Sementara itu, Juara Harapan 1 diraih tim Politeknik Negeri Semarang (Gigih Panjih Mulyanto), Juara Harapan 2 diraih Narnia Cahyarani dari SMA Negeri 4 Bojonegoro, dan Juara Harapan 3 diraih tim Universitas Udayana yang diketuai Ayundina Oktavia Bella.

Selain kategori utama, NESCO 2 juga memberikan berbagai penghargaan seperti Gold, Silver, Bronze Medal, Best Poster, Best Paper, Best Presentation, hingga kategori favorit. Best Poster diraih tim Universitas Lambung Mangkurat (Ayudhea), Best Paper oleh tim Universitas Indonesia (Adiluhung), dan Best Presentation oleh tim Universitas Lambung Mangkurat (Andi Majdah Rahmadhani Syam).

Kategori favorit juga menjadi sorotan. Favorite Paper dimenangkan tim SMAN 1 Kedungpring (Afroh Asliyah), sementara The Most Favorite diraih tim SMAN Taruna Nala Jawa Timur (Nadya Salwa Dahayu Putri Winarto).

Untuk kategori Favorite Poster per subtema, pemenang berasal dari berbagai institusi, mulai dari Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Lambung Mangkurat, SMAN 1 Lumajang, hingga Universitas Syiah Kuala dan Universitas Mulawarman. Keberagaman ini menunjukkan luasnya partisipasi dan kualitas ide yang bersaing.

Juara umum NESCO 2 diraih oleh SMAN 1 Sumbawa Besar sebagai institusi dengan total poin tertinggi.

Tahun ini, panitia juga menghadirkan penghargaan spesial berupa Fully Funded Reward dari sponsor Rasyid Ridho Scholarship. Penghargaan ini diberikan kepada Nadya Salwa Dahayu Putri Winarto dari SMAN Taruna Nala Jawa Timur sebagai pemenang Favorite Poster dengan jumlah likes tertinggi. Ia berhak mengikuti program internasional ke Malaysia atau Singapura melalui program Next Impact.

Tidak hanya kompetisi, para finalis juga mengikuti field trip edukatif ke sejumlah destinasi unggulan di Malang, seperti Sunrise Point Bromo (Seruni Point), Widodaren, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletubbies.

PRISMA bersama seluruh mitra penyelenggara menyampaikan terima kasih kepada peserta, dewan juri, panitia, sponsor, serta semua pihak yang telah mendukung acara ini. NESCO diharapkan terus berlanjut sebagai wadah pengembangan intelektual dan kepemimpinan generasi muda, sekaligus ruang kolaborasi untuk melahirkan gagasan bagi kemajuan bangsa.(der)

Pemkot Malang Bagi “Resep” Jurus Dongkrak PAD ke Tasikmalaya

0

MALANGVOICE – Pemerintah Kota Malang mulai “membagikan resep” suksesnya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Melalui penandatanganan kesepakatan bersama dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya, Kamis (23/4/2026), kedua daerah sepakat memperkuat kolaborasi di bidang inovasi pendapatan daerah.

Kesepakatan itu diteken langsung oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan di Balai Kota Malang. Bukan sekadar seremoni, kerja sama ini jadi pintu masuk transfer pengetahuan antar daerah di tengah tekanan fiskal yang makin terasa.

Wahyu Hidayat menegaskan, kondisi saat ini menuntut kepala daerah berpikir lebih kreatif. Ketergantungan pada dana pusat tak lagi cukup, apalagi dengan adanya efisiensi anggaran dan penyesuaian Tunjangan Kinerja Daerah (TKD).

“Daerah harus punya inovasi sendiri untuk bertahan dan berkembang. Kami sudah merasakan dampaknya, PAD bisa meningkat cukup signifikan,” ujarnya.

Salah satu yang jadi sorotan adalah aplikasi Persada, sistem digital yang membantu optimalisasi pajak daerah, terutama dari sektor hotel dan restoran. Inovasi ini sebelumnya juga dipaparkan dalam forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia dan menarik perhatian banyak daerah.

Tasikmalaya termasuk yang paling serius menindaklanjuti. Viman mengaku ketertarikannya sudah muncul sejak mengikuti forum APEKSI di Malang. Ia melihat langsung bagaimana sistem tersebut mampu mengelola berbagai sumber pajak, mulai dari PBB hingga retribusi.

“Kami tidak ingin hanya melihat, tapi juga belajar dan, kalau memungkinkan, mengadopsinya,” kata Viman.

Dorongan itu makin kuat karena kondisi fiskal Tasikmalaya yang sedang menghadapi pemangkasan TKD hingga 30 persen. Situasi tersebut membuat peningkatan PAD bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Menurut Viman, kolaborasi antar daerah bisa menjadi jalan keluar yang realistis. Dengan saling berbagi kelebihan, masing-masing daerah dapat mempercepat penguatan kapasitas fiskalnya.

Hasil yang dicapai Malang pun menjadi tolok ukur yang cukup mencolok. Dengan sistem yang terintegrasi, PAD kota ini disebut bisa menembus rata-rata Rp3 miliar per hari.

“Angka itu bukan hanya besar, tapi juga menunjukkan sistemnya berjalan. Kami berharap Tasikmalaya bisa mengejar ke arah sana,” ujarnya.

Lebih jauh, peningkatan PAD juga berkaitan langsung dengan kesehatan struktur anggaran. Sesuai ketentuan, belanja pegawai harus dijaga maksimal 30 persen dari total anggaran daerah.

“Kalau PAD naik, otomatis proporsi belanja pegawai turun. Itu penting untuk menjaga keseimbangan fiskal,” kata Viman.

Kerja sama ini menjadi sinyal bahwa di tengah keterbatasan, inovasi dan kolaborasi justru semakin krusial. Bagi Malang, ini kesempatan memperluas dampak inovasinya. Bagi Tasikmalaya, ini langkah cepat untuk mengejar kemandirian fiskal.(der)

Pria Asal Lumajang Tewas di Jembatan Cangar, Diduga Bunuh Diri

0

MALANGVOICE– Sesosok mayat berinisial DPW (24) ditemukan tergeletak di dasar Jembatan Kembangar Cangar perbatasan Batu-Mojokerto. Mayat berjenis kelamin pria tersebut ditemukan sekitar Kamis pagi (23/4).

Diduga pria asal Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang itu nekat bunuh diri melompat dari jembatan. Di sekitar lokasi juga terdapat sepeda motor serta sandal miliknya. Penemuan jenazah ini pertama kali dilaporkan oleh warga sekitar pukul 10.00 WIB.

Olah TKP dilakukan anggota kepolisian Polsek Bumiaji dan Tim Inafis Polres Batu. Begitu proses olah TKP selesai, jenazah DWP dievakuasi ke RS Bhayangkara Hasta Brata, Kota Batu untuk menjalani visum.

“Informasi penemuan mayat diterima Polsek Bumiaji sekitar pukul 10.00 WIB,” ujar Kapolsek Bumiaji, AKP Anton Hendri Subagijo.

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Joko Suprianto, menengarai tewasnya DPW mengarah pada tindakan bunuh diri. Namun, pihak kepolisian tidak ingin gegabah dan tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan motif serta kronologi pasti sebelum korban terjatuh.

“Kami masih berupaya menggali informasi tambahan dan menghubungi pihak keluarga korban di Lumajang guna memastikan kronologi lengkap peristiwa ini,” pungkasnya.(der)

Laga Arema vs Persebaya Pindah di Bali, Panpel Akui Kecewa

0

MALANGVOICE – Laga Arema FC menjamu Persebaya Surabaya hampir pasti tidak jadi digelar di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026.

Berdasar rekomendasi Polres Malang dengan surat Nomor : B/666 /IV/YAN.2.1./2026 tertanggal 21 April 2026 yang merekomendasikan agar laga Derby Jawa Timur melawan Persebaya Surabaya tidak diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan.

Sekaligus surat dari regulator I League Nomor : 371/LI-KOM/IV/2026 tertanggal 22 April 2026
Perihal Circular Penyesuaian Venue Kompetisi BRI Super League 2025/26 laga Arema FC vs Persebaya berpindah ke Stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali.

Menanggapi hal itu, Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC, mengaku kecewa namun menghormati pertimbangan teknis dan keamanan yang menjadi dasar rekomendasi tersebut, dengan alasan menjaga stabilitas Kamtibmas di Malang Raya.

“Secara emosional tentu ada rasa kecewa karena keinginan kami membuktikan kesiapan Kanjuruhan sangat besar. Namun, kami memilih untuk tidak larut dalam emosi. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada arahan otoritas kepolisian dan akan mengikuti regulasi yang ditetapkan,” kata Ketua Panpel Arema FC, Erwin Hardiyono.

Dengan berpindahnya venue pertandingan derby Jatim itu, pihaknya bakal segera melakukan koordinasi cepat dengan pihak pengelola stadion dan otoritas keamanan setempat di Bali agar pertandingan tetap bisa berjalan sesuai jadwal.

Erwin menambahkan Panpel Arema FC juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada rekan-rekan suporter yang tergabung dalam Presidium Aremania. Upaya diplomasi, kedewasaan, dan komitmen nyata yang ditunjukkan Aremania dalam menjaga kondusifitas wilayah menjadi catatan moral yang sangat berharga bagi klub.

“Kami melihat kedewasaan luar biasa dari Aremania. Langkah Presidium yang berkomunikasi secara elegan dengan Kapolda Jatim maupun Kapolres Malang adalah wujud kecintaan tulus pada klub. Kami sangat menghargai ikhtiar mereka yang berbesar hati menerima situasi ini tanpa aksi destruktif,” tegas Erwin.

Erwin juga berterima kasih kepada banyak pihak yang memberi support agar Stadion Kanjuruhan bisa menggelar laga derby klasik tersebut, meskipun ujungnya belum mendapatkan izin.

Panpel mengimbau kepada seluruh Aremania untuk tetap tenang dan mendukung keputusan ini dengan bijak. Fokus utama saat ini adalah memastikan Arema FC dapat bertanding dengan tenang dan meraih hasil maksimal meskipun harus bermain jauh dari rumah sendiri.

“Mari kita tunjukkan bahwa Aremania adalah suporter yang taat hukum dan lebih mengutamakan kondusivitas bangsa. Tetaplah bersatu dan jangan terprovokasi oleh narasi yang dapat merugikan nama baik klub dan kota kita tercinta,” tutupnya.(der)

Kalapas Malang Christo Toar Tancap Gas, Luncurkan “Bulan Membangun SDM” Benahi Internal

0

MALANGVOICE – Gaya kepemimpinan baru mulai terasa di Lapas Kelas I Malang. Kepala Lapas (Kalapas) Christo Victor Nixon Toar langsung tancap gas melakukan pembenahan internal sejak awal menjabat.

Langkah cepat itu diwujudkan melalui program bertajuk “Bulan Membangun SDM” yang akan dimulai pada 1 Mei 2026 dan menyasar seluruh petugas lapas.

“Setiap pemimpin memiliki cara dan perlakuan yang berbeda, dan saya akan menerapkan pendekatan yang berbeda pula,” ujar Christo, Rabu (22/4/) malam.

Petugas Lapas Malang Gagalkan Penyelundupan Wafer ‘Rasa’ Sabu

Program tersebut, kata dia, bukan muncul tiba-tiba. Sejak pertama masuk ke Lapas Malang, Christo sudah memetakan berbagai persoalan yang perlu dibenahi, sekaligus melanjutkan langkah perbaikan dari pejabat sebelumnya.

Salah satu sorotan utamanya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menilai, banyak persoalan di dalam lapas berakar dari minimnya pembekalan bagi petugas baru.

“Kurangnya ilmu saat petugas pertama kali masuk,” tegasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pelatihan disiplin dan pemahaman tugas, sebagaimana diterapkan di berbagai instansi lain. Menurutnya, penguatan SDM menjadi fondasi utama sebelum melangkah ke pembenahan yang lebih luas.

Tak hanya itu, Christo juga menaruh perhatian besar pada penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP). Terutama dalam hal pengawasan terhadap tamu maupun petugas yang keluar masuk lapas.

“HP dan narkoba itu musuh utama. Pelaksanaan SOP harus dikuatkan lagi,” tandasnya.

Pengalaman memimpin Lapas Karawang selama dua tahun lima bulan menjadi bekal berharga bagi Christo. Ia mengaku sempat menghadapi resistensi besar saat mencoba mengubah budaya kerja di sana.

Namun, perlahan pola pikir petugas berhasil diubah. Dari yang sebelumnya ingin dilayani, menjadi petugas yang benar-benar melayani masyarakat tanpa biaya.

Semangat perubahan itu kini ia bawa ke Malang lewat slogan #AyoBerubah dan #SorryGueBeda.

Tak hanya pengalaman di lapas, latar belakangnya di Ombudsman RI pada 2017–2020 juga ikut membentuk karakter kepemimpinannya, terutama dalam hal pelayanan publik dan pencegahan praktik korupsi.

“Saya banyak belajar di Ombudsman terkait pelayanan,” ujarnya.

Meski fokus pada pembenahan internal, Christo memastikan hak-hak warga binaan tetap menjadi perhatian utama. Namun, ia juga menegaskan tidak akan mentoleransi pelanggaran.

“Jika warga binaan tidak bisa dibina di Lapas Malang, saya tidak ragu untuk ‘melayarkan’ atau memindahkan mereka ke lapas lain,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya integritas dalam menjalankan tugas. Menurutnya, melayani bukan berarti menuruti semua keinginan, apalagi jika melanggar aturan.

Penyelundupan ponsel, misalnya, tetap dikategorikan sebagai pelanggaran serius. Christo mengakui praktik tersebut kemungkinan masih ada, namun ia berkomitmen untuk terus memberantas peredaran HP ilegal dan narkoba di dalam lapas.

Di sisi lain, tantangan besar juga datang dari keterbatasan jumlah personel. Berdasarkan data per Rabu (22/4/2026) pagi, hanya ada sekitar 15 petugas yang harus mengawasi 2.414 warga binaan.

Meski demikian, ia optimistis pembenahan tetap bisa berjalan melalui kolaborasi dengan seluruh jajaran pejabat di lapas.

“Fokus awal tetap internal lapas. SDM-nya dulu kita kuatkan,” pungkas pria asli Manado tersebut sambil tersenyum.(der)

Infrastruktur yang Memadai Jadi Kunci Penting dalam Mendorong Sektor Pariwisata

MALANGVOICE– Destinasi wisata Mikutopia menjadi magnet yang menarik minat kunjungan wisatawan. Kondisi tersebut membawa konsekuensi terhadap meningkatnya volume kendaraan yang mengakibatkan kepadatan lalu lintas. Lantaran jembatan akses masuk menuju destinasi wisata tersebut tergolong sempit.

Manajemen Mikutopia pun berinisiatif melakukan pelebaran jembatan yang ada di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Pelebaran jembatan tak hanya berdampak pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga menjadi harapan baru bagi peningkatan ekonomi dan sektor wisata desa.

Proyek tersebut dikebut dengan sistem kerja 24 jam guna mempercepat penyelesaian. Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan akses yang selama ini menjadi kendala utama, terutama saat arus wisatawan membludak.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono, menyampaikan apresiasi atas dilaksanakannya proyek pelebaran jembatan tersebut. Menurutnya, infrastruktur yang memadai menjadi kunci penting dalam mendorong kemajuan desa, khususnya di sektor pariwisata.

“Pelebaran jembatan ini sangat kami apresiasi. Selama ini akses di titik tersebut memang menjadi kendala, terutama saat musim libur. Dengan kondisi yang lebih lebar, tentu akan memperlancar mobilitas warga dan wisatawan,” ujar Suliyono.

Ia menambahkan, keberadaan akses jalan yang baik akan berdampak langsung terhadap geliat ekonomi masyarakat, mulai dari pelaku UMKM hingga sektor pertanian dan wisata.

“Kami optimistis, dengan akses yang semakin baik, kunjungan wisata akan meningkat dan secara otomatis berdampak pada pendapatan masyarakat. Ini menjadi peluang besar bagi warga Tulungrejo,” imbuhnya.

Diketahui, sebelumnya jembatan tersebut hanya memiliki lebar 6 meter sehingga tidak mampu menampung dua kendaraan secara bersamaan. Kondisi ini kerap menimbulkan kemacetan hingga harus diberlakukan sistem buka-tutup arus kendaraan.

Kini, setelah dilakukan pelebaran hingga 10 meter, jembatan diproyeksikan mampu dilalui dua kendaraan sekaligus, sehingga arus lalu lintas menjadi lebih lancar dan aman.

Suliyono berharap, pembangunan infrastruktur seperti ini dapat terus berlanjut di titik-titik lain yang masih membutuhkan peningkatan akses.

“Kami berharap ke depan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat terus terjalin untuk mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan,” pungkasnya.

PN Kepanjen Lakukan Eksekusi Ruko di Sengkaling, Termohon Perjuangkan Keadilan

MALANGVOICE- Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen melaksanakan eksekusi ruko di Jalan Raya Sengkaling, Dau, Kabupaten Malang, Rabu (22/4).

Eksekusi ruko ini merupakan tindak lanjut dari putusan pengadilan terkait permohonan eksekusi pemenang lelang. Dalam pelaksanaannya, proses pengosongan dijaga ketat aparat keamanan dari Kepolisian Polres Kepanjen.

Suasana jelang eksekusi awalnya berjalan lancar meski ada sedikit penolakan dari termohon Junaidi. Namun, pelaksanaan tetap dilanjutkan.

Marak Copet Beraksi di Konser Slank, Polisi Terima Belasan Laporan Kehilangan HP

Eksekusi ini bermula dari adanya pinjaman oleh termohon ekseskusi Achmad Junaidi warga Desa Mulyoagung, Dau, Kabupaten Malang, melalui BRI Kantor Cabang Martadinata yang telah mengunakan fasilitas Pinjaman Kredit. Hak Tanggungan Pertama Nomor: 1801/2019 sebesar Rp3,900 miliar, berdasarkan Akta Hak Tanggungan Nomor: 147/2019 yang dibuat oleh PPAT Agustina Cahayani, SH, M.kn tanggal 18 Maret 2019.

Pinjaman itu dijaminkan dengan berupa dua bidang tanah dan bangunan Serifikat Hak Milik (SHM) Nomor 3382 seluas 65 M² dan Serifikat Hak Milik (SHM) Nomor 3383 seluas 62 M². Namun, tanpa pemberitahuan atau somasi tiba-tiba jaminan sudah dilelang, padahal proses hukum masih berjalan.

Kuasa hukum termohon, Dalu A Prasetyo, mengatakan, pihaknya menghargai pelaksanaan eksekusi, namun tetap meminta keringanan perihal pengosongan objek ruko. Pasalnya Junaidi selaku termohon memiliki kerja sama dengan suplier terkait barang penjualan yang ada di dalam toko.

“Saya tadi bilang ke panitera yang ditunjuk PN agar memohon ke pemenang lelang mengunci aset ini, nanti kuncinya yang memegang pengadilan dan kita buat pernyataan disaksikan Muspika, karena kita harus selesaikan dulu sama supplier barang,” katanya.

Selain itu Dalu menjelaskan ada beberapa kejanggalan sebelum pelaksanaan eksekusi, mulai perjanjian pinjaman serta lelang.

Dalam perjanjian antara Junaidi dan BRI itu berlangsung hingga 2027. Selama dalam perjalanan kredit, Junaidi selaku debitur masih melaksanakan kewajibannya membayar cicilan pinjaman.

“Ada bukti waktu sidang, dari pihak bank malah memberikan bukti tangkapan layar Pak Jun melakukan pembayaran. Berarti kan ada itikad baik,” jelasnya.

Kemudian pada Mei 2024, pihak bank memutuskan melelang aset yang dijaminkan Junaidi karena dianggap wanprestasi. Padahal menurutnya hanya ada somasi atau peringatan yang dilayangkan kepada Junaidi.

“Wanprestasi itu dibuktikan dengan adanya putusan pengadilan,” tegasnya.

Kemudian ia juga menilai ada yang janggal saat appraisal aset. Pihak appraisal menerangkan bahwa objek tidak ditempati atau berpenghuni.

“Faktanya ditempati, malah dibuat usaha. Yang kedua, objek terlalu masuk jalur desa, faktanya kan di pinggir jalan. Yang ketiga, objek dilakukan lelang sudah lebih dari satu kali, faktanya cuma satu kali. Terus yang lebih fatal lagi, menggunakan rujukan bahan tahun 2022 di zaman COVID, padahal lelangnya 2024,” tegasnya.

Berdasarkan beberapa hal yang dialami termohon, maka dari itu pihaknya juga melalui kuasa hukumnya melakukan perlawanan.

“Kami akan terus mencari keadilan. Karena Seharusnya pengadilan kan tempat orang mencari keadilan,” tandasnya.(der)

Konsolidasi Alkes hingga Peresmian Grand Paviliun RSSA, Upaya Pemprov Jatim Tingkatkan Layanan Kesehatan

0

MALANGVOICE – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kesehatan melalui konsolidasi pengadaan alat kesehatan (alkes) serta penguatan fasilitas rumah sakit. Hal ini disampaikan saat meresmikan Grand Paviliun di RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA), Rabu (22/4).

Khofifah menjelaskan, konsolidasi pengadaan alkes dilakukan dengan melibatkan berbagai rumah sakit, baik di Jawa Timur maupun lintas provinsi seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Langkah ini dinilai mampu menekan harga sekaligus menjamin ketersediaan barang.

“Kalau kebutuhan alkes, misalnya ortopedi, kita konsolidasikan dengan rumah sakit lain. Jadi meskipun kebutuhan kita hanya terpakai 150 dari rencana 200 unit, harga tetap mengikuti kontrak awal yang lebih murah karena pembelian dalam jumlah besar,” ujar Khofifah.

Tampung Aspirasi YKTK Tolak Laga Arema vs Persebaya di Kanjuruhan, DPRD Kota Malang Segera Tentukan Sikap

Menurutnya, strategi tersebut tidak hanya diterapkan pada alkes, tetapi juga pada pengadaan obat-obatan. Ia bahkan memantau langsung proses konsolidasi hingga dini hari untuk memastikan efisiensi berjalan optimal.

“Efisiensi ini kita lakukan untuk semua kebutuhan rumah sakit, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga bersama rumah sakit lain. Dengan begitu, harga bisa terkontrol dan ketersediaan barang lebih terjamin,” katanya.

Salah satu fokus utama adalah pengadaan infus, yang disebut Khofifah sebagai kebutuhan vital rumah sakit. Ia mengungkapkan pabrik infus dalam negeri yang berlokasi di Pasuruan akan segera mengembangkan lini produksi keempat pada 28 April mendatang.

“Kami mendorong adanya jaminan harga dan ketersediaan dari produsen. Misalnya, kita kontrak kebutuhan tertentu, meskipun yang terpakai hanya 80 persen, harga tetap sesuai kesepakatan awal,” jelasnya.

Khofifah menambahkan, langkah konsolidasi ini merupakan bagian dari upaya pembenahan tata kelola (governance) sektor kesehatan di Jawa Timur. Ia juga menyoroti capaian sejumlah rumah sakit daerah, termasuk RSSA yang memiliki keunggulan layanan laboratorium terintegrasi dan menjadi rujukan berbagai rumah sakit, bahkan dari luar provinsi.

“Setiap rumah sakit punya keunggulan masing-masing, baik kompetitif maupun komparatif. Ini yang terus kita dorong,” ujarnya.

Peresmian Grand Pavilion RS Saiful Anwar. (Deny/MVoice)

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga meresmikan Grand Paviliun RSSA yang ditujukan untuk layanan pasien kelas menengah ke atas. Menurutnya, fasilitas ini penting agar masyarakat tidak perlu berobat ke luar negeri.

“Kalau kita tidak siapkan layanan dengan kualitas tinggi, mereka akan ke Singapura atau Malaysia, cukup di sini saja,” tegasnya.

Ia menilai Grand Paviliun RSSA telah memenuhi standar layanan modern dengan sistem terintegrasi, mulai dari ruang operasi, farmasi, hingga fasilitas penunjang lainnya dalam satu gedung.

Sementara itu, Direktur RSSA, Moch Bachtiar Budianto, menyampaikan, Grand Paviliun terdiri dari tujuh lantai dengan kapasitas total 124 tempat tidur. Saat ini, sebanyak 80 tempat tidur telah beroperasi.

“Gedung ini melayani pasien VIP dan VVIP. Dalam hampir satu tahun operasional, pendapatannya cukup menjanjikan dan membantu menyeimbangkan keuangan rumah sakit,” ujarnya.

Bachtiar menjelaskan, selama ini sekitar 90 persen layanan RSSA didominasi pasien BPJS. Dengan hadirnya Grand Paviliun, proporsi tersebut mulai berkurang.

“Dengan adanya pelayanan ini, maka layanan BPJS menjadi berkurang persentasenya, sekarang tinggal 85%,” katanya.

Fasilitas di Grand Paviliun mencakup rawat jalan, rawat inap (VIP dan VVIP), laboratorium, radiologi, ICU, kamar operasi, hingga layanan farmasi. Selain itu, pengadaan CT-Scan juga sedang dalam proses.

Ke depan, RSSA berencana mengembangkan layanan tambahan seperti estetika dan terapi stem cell, mengingat masih tersedianya ruang yang cukup luas.

“Potensi pengembangan masih besar. Kita juga akan menambah kapasitas tempat tidur hingga maksimal 124 unit, tentu dengan penyesuaian sumber daya manusia,” jelas Bachtiar.

Saat ini, RSSA memiliki lebih dari 3.000 tenaga kesehatan secara keseluruhan, dengan beberapa ratus di antaranya bertugas di Grand Paviliun. Jumlah tersebut masih akan ditingkatkan seiring pengembangan layanan.

Dengan berbagai upaya tersebut, Pemprov Jawa Timur berharap layanan kesehatan di daerah semakin berkualitas, terjangkau, dan mampu bersaing dengan fasilitas medis di luar negeri.(der)

Terungkap Pelaku Pembuangan Bayi di JA Suprapto, Sang Ibu Masih Mahasiswi

0

MALANGVOICE – Kasus pembuangan jasad bayi perempuan yang menggegerkan warga Jalan Jaksa Agung Suprapto, Klojen, Kota Malang, akhirnya terungkap. Polresta Malang Kota berhasil mengamankan dua pelaku yang tak lain merupakan orang tua kandung bayi tersebut.

Kedua pelaku berinisial AZ (22) dan ASD (21) asal Kabupaten Pasuruan, diketahui masih berstatus mahasiswi dan tinggal di kos wilayah Kota Malang.

Jasad Bayi Dibungkus Plastik di Desa Palaan, Ditemukan Surat

Peristiwa ini bermula dari penemuan jasad bayi perempuan di dalam kardus oleh warga pada Minggu (19/4) pagi. Saat ditemukan, bayi tersebut sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, AKP Rakhmad Aji Prabowo, menjelaskan pengungkapan kasus ini dilakukan melalui penyelidikan intensif. Polisi menelusuri rekaman dari sedikitnya 12 titik CCTV di sekitar lokasi kejadian.

“Dari rekaman itu, kami berhasil mengidentifikasi kendaraan yang digunakan pelaku hingga mengarah ke wilayah Pasuruan,” jelasnya.

Petugas kemudian mengamankan tersangka perempuan lebih dulu, disusul tersangka laki-laki di lokasi berbeda. Keduanya ditangkap pada Selasa (21/4) malam sekitar pukul 23.00 WIB di tempat kos masing-masing.

Hasil pemeriksaan mengungkap fakta memilukan. Bayi tersebut baru berusia dua hari dan dilahirkan melalui operasi caesar di salah satu rumah sakit di Pasuruan pada Kamis (16/4).

Dua hari berselang, tepatnya Sabtu (18/4) malam, bayi itu dibuang di wilayah Kota Malang dalam kondisi masih hidup.

“Bayi dibuang pada malam hari. Namun saat ditemukan warga keesokan paginya, sudah dalam kondisi meninggal dunia dengan posisi setengah tertelungkup,” lanjut AKP Aji.

Didampingi Kanit PPA Iptu Khusnul Khotimah, ia menambahkan penyebab kematian bayi diduga karena kehabisan napas akibat posisi tubuh tengkurap di dalam kardus.

Motif di balik aksi nekat tersebut dipicu ketidaksiapan kedua pelaku secara mental maupun ekonomi untuk merawat bayi yang baru dilahirkan.

“Alasannya karena belum siap secara mental dan ekonomi. Setelah melahirkan, keduanya langsung nekat melakukan perbuatan itu,” tegasnya.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit mobil Daihatsu Xenia yang digunakan saat pembuangan, sepeda motor, pakaian pelaku, kardus, serta perlengkapan bayi.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara, serta Pasal 460 KUHP Nasional dengan ancaman hukuman hingga tujuh tahun penjara.(der)