Percepatan Destinasi Wisata Halal, Wali Kota Malang Dorong Kemudahan Sertifikasi

Wali Kota Malang Sutiaji menghadiri Workshop Penguatan Wisata Halal bertajuk Mewujudkan Kota Malang Sebagai Destinasi Wisata Halal Unggulan di Hotel Sahid Montana 2, Selasa (11/2).
Wali Kota Malang Sutiaji menghadiri Workshop Penguatan Wisata Halal bertajuk Mewujudkan Kota Malang Sebagai Destinasi Wisata Halal Unggulan di Hotel Sahid Montana 2, Selasa (11/2).

MALANGVOICE – Pemkot Malang serius percepatan terwujudnya Kota Malang sebagai destinasi wisata halal. Salah satunya mendorong lembaga sertifikasi memudahkan persyaratan.

Hal ini diungkapkan Wali Kota Malang Sutiaji menghadiri Workshop Penguatan Wisata Halal bertajuk Mewujudkan Kota Malang Sebagai Destinasi Wisata Halal Unggulan di Hotel Sahid Montana 2, Selasa (11/2). Ia berharap agar proses persyaratan bagi pelaku usaha untuk mengurus sertifikasi halal diberikan kemudahan .

“Saya minta baik dari BPOM Provinsi atau dari MUI itu kadang-kadang persyaratannya berbelit, harapan kami itu tidak terjadi. Sehingga UMKM, restoran, atau catering itu dilakukan kemudahan untuk pengurusan,” kata Sutiaji.

BNN Kota Malang

Sutiaji juga menekankan bahwa Malang Halal yang saat ini menjadi salah satu centre of tourism diharapkan mempermudah wisatawan untuk mencari tempat-tempat (destinasi) halal di Kota Malang.

“Destinasi wisata halal kan komponennya banyak, value-nya harus mendukung. Kalau sudah bersertifikat, hotel mana saja atau restaurant mana saja yang halal itu mudah dicari wisatawan. Seperti di Jepang itu juga wisata halal mencarinya gampang,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengatakan, ada 20 usaha yang difasilitasi dan diupayakan untuk segera bersertifikat. Ia mengakui, jika masih perlu peningkatan persyaratan untuk mendapatkan sertifikat halal.

“Artinya masih dilihat persyaratan yang ditentukan belum dipenuhi, misalnya untuk dapur halal. Ada salah satu bahan makanan saos, mereka butuh sertifikat, kalau misalnya tidak punya maka harus ada penggantinya,” urai perempuan akrab disapa Dayu ini.

“Hal-hal seperti itu yang menjadi kendala bagi hotel, restaurant untuk pengurusan tersebut,” imbuhnya.(Der/Aka)