Polemik Ojek dan Taksi Online di Kota Malang

Pemkot Dinilai Lamban Sikapi Polemik Transportasi Online dan Konvensional!

Direktur Hasta Komunika Research and Consulting, Muhammad Anas Muttaqin. (Muhammad Choirul)
Direktur Hasta Komunika Research and Consulting, Muhammad Anas Muttaqin. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Direktur Hasta Komunika Research and Consulting, Muhammad Anas Muttaqin, menyayangkan sikap Pemkot Malang terkait polemik antara transportasi online dan konvensional. Dia menilai, Pemkot lamban merespon dan mengantisipasi hal ini.

Pasalnya, layanan transportasi berbasis online seperti GoJek, Grab, dan Uber sudah lumayan lama beroperasi di Kota Malang. Pria yang akrab disapa Anas ini menyebut, Pemkot terkesan melakukan pembiaran, hingga muncul protes sopir angkutan konvensional seperti saat ini.

Dampaknya, konflik horisontal terjadi dikarenakan tidak tegasnya pemerintah. “Fenomena ini kan juga sudah terjadi di berbagai daerah, seharusnya dari awal sudah diantisipasi, tidak reaktif seperti sekarang,” ungkapnya kepada MVoice, Selasa (21/2).

Anas menambahkan, warga Malang sudah terlanjur merasakan manfaat layanan angkutan online tersebut. Baik GoJek, Uber maupun Grab, menjadi pilihan alternatif warga karena memiliki banyak kemudahan akses dan fasilitas.

Mantan Ketua Karang Taruna Kota Malang ini juga menyesalkan kelambanan Pemkot dalam pembenahan sistem transportasi umum, seperti angkot, yang dinilai masyarakat masih bermasalah. Dengan begitu, lanjut Anas, jangan disalahkan bila warga memilih layanan yang dinilai lebih baik seiring dengan perkembangan zaman.

“Jika belum bisa memberikan pelayanan publik yang baik bagi warga, minimal Pemkot harus memberikan regulasi yang berkeadilan,” tambahnya.

Anas melanjutkan, perlu beberapa pendekatan seperti public service dan rational choice dalam menyikapi hal ini. Substansinya, kata dia lagi, warga sama-sama diuntungkan karena menyerap tenaga kerja dan perputaran ekonomi. Perlu didorong juga kemungkinan kerjasama dua jenis angkutan itu.

“Saya kira warga masih sangat butuh angkutan konvensional, segmennya berbeda. Perlu dikaji juga soal dampaknya, apa betul menurun karena ada angkutan online, atau karena warga memilih pakai kendaraan pribadi,” pungkasnya.