
Bapak tiga anak yang tinggal di Perum Alam Dieng Residence, A-1, Pisang Candi, Blimbing, Kota Malang, itu bisa mengubah botol plastik bekas menjadi mainan baru.
Model diecast atau mainan miniatur berbahan plastik itu kini semakin diseriusi Taufiq Saguanto. Berbagai macam model mainan seperti becak, helikopter, sepeda motor hingga robot, sudah berhasil ia ciptakan. Padahal Taufiq sendiri berbasic pengusaha konveksi.
Kepada MVoice Ia menceritakan, awal ide itu muncul tidak sengaja. Berdasar pada kepedulian terhadap lingkungan dan dampak pencemaran botol plastik yang sangat merugikan. Daur ulang botol plastik dirasa tidak maksimal, berbeda dengan bahan lain.
“Waktu itu tidak sengaja saja, lha kok ternyata bisa. Akhirnya jadi sampai sekarang,” katanya, Kamis (25/8).
Setelah itu, banyak model diecast yang ia kembangkan dan mulai rumit. Ia mengaku, satu model bisa menghabiskan waktu dua sampai empat jam tergantung kesulitan. Karena kebutuhan, bahannya pun tak hanya botol minum saja. Ia bisa menggunakan botol sampo, bedak, botol oli hingga setrika rusak.
Seperti membuat model klasik, Taufiq hanya perlu satu buah botol bekas untuk jadi body, ditopang plastik bekas pengait pakaian sebagai chasis. Di bagian roda, empat dasar botol dipotong dan semua ditempel menggunakan lem tembak.
Untuk warna, Taufiq sengaja hanya melapisi dengan cat hitam, alasannya kalau dijual, warnanya bisa diubah sesuai keinginan.
“Jadi harus hapal karakter botol, nanti jadi desain mengikuti,” katanya sambil menunjukkan ruang kerja di lantai dua rumahnya.
Harapannya, kata pencipta merek Hot Bottles itu, dengan kreasinya bisa memancing ide kreatif lain untuk mengurangi sampah plastik yang merugikan. Ia tak akan menolak bila ada yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik bekas.
“Impian saya itu, sedikit kampanye stop botol plastik dan Malang punya museum sampah. Semua hasil kreativitas seniman dipajang di sana,” harapnya.
Ketiga anak Taufiq, sekarang ikut membantu kerja sang Abi, sapaannya di rumah. Setiap pulang sekolah, atau bermain selalu membawa sampah botol plastik bekas dari jalan. Mereka tak ada rasa minder atau gengsi. “Semuanya saya ajarkan untuk peduli lingkungan dengan cara lain. Semua pasti ada hasilnya di masa mendatang,” imbuhnya.
“Intinya, kalau kita mau pasti bisa. Jadi kreatif atau pengusaha tak perlu biaya besar. Hal semacam itu, pasti banyak orang lain bisa tapi tetap perlu perhatian serius dari pemerintah daerah,” tutupnya.
