Bincang Riset dalam Ilmu Komunikasi

Kasus Ahok Contoh Nyata Peristiwa Perkawinan Politik dan Agama

Dr Sunarto, peneliti bidang gender dan media saat memberikan kuliah tamu di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta menjadi moment Pilkada paling menarik. Hal ini sempat dibahas pada kuliah tamu bertema Bincang Riset dalam Ilmu Komunikasi, di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB, Selasa (14/3) sore tadi.

“Kasus Ahok di DKI, bukan sekedar peristiwa penistaan agama, tapi juga peristiwa politik yang dikawinkan dengan agama,” demikian komentar Dr Sunarto selaku pembicara kuliah tamu itu.

Menurut peneliti yang sekaligus Dekan Universitas Diponegoro (Undip) ini, paradigma untuk melihat kasus Ahok dalam Pilkada DKI menentukan penilaian masyarakat luas. Jika kasus ini dinilai dalam kacamata agama, media akan menampilkan persidangan Ahok dengan foto demonstrasi menolak penista agama.

“Padahal peristiwa Ahok di DKI sama seperti peristiwa politik lain, tidak hanya sederhana dilihat sebagai kasus penistaan agama,” ujarnya.

Sunarto kembali menegaskan, paradigma dalam melihat fenomena sosial penting dipahami masyarakat luas. Pembicaraan paradigma yang berawal dari riset di perguruan tinggi ini, sebenarnya sama ketika dipakai memahami berita dalam media.

“Perbedaan paradigma membuat realitas di media dipahami secara berbeda,” tegas peraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia ini.

Dikatakannya, keberadaan media dalam beragam kasus Pilkada di berbagai daerah tidak dapat dikesampingkan. Media memiliki kekuatan menciptakan wacana di masyarakat. Selain itu, lanjut dia, melihat peristiwa politik tidak sederhana melihat berita yang ditampilkan media.

Sunarto mengatakan, masyarakat harus jeli melihat fenomena dan konteks sosial secara lebih kritis. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab perguruan tinggi pada masyarakat, yakni menyebarkan gagasan mencerahkan berdasarkan perspektif keilmuan yang ditekuni.

“Perspektif komunikasi untuk membaca media secara kritis dapat membantu membaca media secara lebih mudah,” pungkasnya.