Asckal, Ketika Seni Kaligrafi Menjadi Pundi-Pundi Uang

Direktur Asckal (kanan) saat ditemui MVoice. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Ada banyak macam klub atau komunitas seni di Kota Malang. Namun tidak banyak komunitas yang fokus pada kesenian kaligrafi atau seni menulis huruf arab. Adalah Asckal atau Al-Qur’an Study Club Kaligrafi, komunitas pemuda penghobi kaligrafi di Kota Malang.

Berdiri sejak 2015 lalu, Asckal menjadi solusi bagi pemuda penghobi dan pecinta seni kaligrafi. Menurut direktur Asckal, Maltufullah Muyasir, seniman kaligrafi selama ini merasa kesulitan memasarkan karyanya. Bahkan seringkali karya-karya kaligrafi mereka berakhir di gudang.

“Selama ini seniman kaligrafi bingung karyanya mau dikemanakan,” tukas dia saat ditemui MVoice di stand Asckal MTQ Mahasiswa Nasional 2017, Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (1/8).

Asckal menjual aneka produk berbau kaligrafi. (Anja Arowana)

Melihat seni kaligrafi memiliki potensi, Asckal pun berubah menjadi perusahaan berbasis CV pada tahun 2016. Dengan 10 anggota tetap, Asckal rutin memperkenalkan brand Asckal sebagai perusahaan seni kaligrafi. Seniman kaligrafi yang kesulitan menjual karyanya bisa dititipkan di Asckal.

Asckal juga rutin membuka stan di bazaar untuk menjual aneka produk kaligrafi dan mengadakan workshop kaligrafi gratis setiap Kamis/Jumat di Masjid UM. Demikian, mengenalkan kaligrafi sebagai produk tidak semudah yang dibayangkan.

Maltufullah bercerita, segmen pasar kaligrafi biasanya untuk kalangan menengah ke atas. Asckal menargetkan tahun ini bisa memperluas pasar lewat promosi dan juga selling door to door.

“Karya kaligrafi bisa berharga Rp 300 ribu – Rp 3 jutaan. Tidak semua orang bisa membeli seni kaligrafi. Tapi kami tidak putus asa, biasanya pasar kami ada pada kalangan dosen, masjid besar, dan juga pejabat. Untuk sekolah dan institusi kecil biasanya suka produk gantungan kunci kaligrafi, kalau anak muda suka dekorasi kaligrafi ukuran mini. Karya-karya kami sudah pernah terjual sampai Bogor, Jogja, Kalimantan, ” paparnya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Cinta Indonesia, Alasan Eka Tertarik Jadi Putri Duta Anti Narkoba

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

MALANGVOICE – Eka Fahrun Nisak Ramadhani, dinobatkan sebagai putri duta anti narkoba Badan Narkotika Nasional Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Ia berhasil menyisihkan 130 orang peserta lain. Sedangkan putra duta anti narkoba disandang M Renaldi Bagus Wijayanto, siswa MAN Gondanglegi.

Perempuan kelahiran Malang 06 Desember 2000 lalu ini mengaku tertarik menjadi duta anti narkoba lantaran memiliki misi kemanusiaan. Terlebih, menyangkut hidup masyarakat banyak.

Berlatar belakang sebagai organisatoris sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Eka tak terlalu sulit untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Siswi kelas XI SMAN 1 Kepanjen tersebut pun bersyukur dinobatkan sebagai duta anti narkoba. Selain peduli terhadap sesama, Eka mengaku mencintai Indonesia.

Putri duta anti narkoba Kabupaten Malang, Eka Fahrun Nisak Ramadhani. (istimewa)

“Seusia saya banyak yang terjerat narkoba. Saya tidak ingin teman-teman dan pelajar di Kabupaten Malang terjebak hal serupa,” aku putri sulung pasangan Kariono dan Anis Sulistiyoningsih ini.

Baginya, narkoba sangat berbahaya. Sasaran barang haram tersebut pun menyerang generasi muda Indonesia. Lantas bagaimana Indonesia di masa mendatang jika pemudanya telah terjangkit narkoba?

“Padahal, kami digadang-gadang sebagai penerus bangsa. Harapan masyarakat luas,” ungkap perempuan yang hobi berenang itu.

Langkah awal menyuarakan stop narkoba, katanya, akan dimulai dari diri sendiri. Sehingga nantinya bisa mengajak dan memberi contoh pelajar lain.

Mensosialisasikan bahaya narkoba membutuhkan keuletan dan kesabaran. Tidak hanya dilakukan di sekitar sekolah, tetapi juga di lingkungan masyarakat.

Meski demikian, perempuan yang aktif di Karang Taruna di desanya ini mengaku belum terlalu luas memahami kompleksitas soal narkoba. Eka butuh belajar lebih banyak agar wawasannya akan narkoba mumpuni.

“Saya harapkan ada bimbingan dari BNN. Terpenting, sebelum mengajak orang lain, saya harus bebas dari barang haram itu,” paparnya.

Ke depan, Eka berharap Indonesia bebas narkoba dan masyarakatnya hidup sehat tanpa narkoba. Sekaligus bersama-sama memberantas peredaran narkoba.

“Ini akan jadi pengalaman baru bagi saya dan teman-teman. Semakin banyak yang mensosialisasikan, saya yakin suatu saat Indonesia terbebas dari narkoba,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Bripda M.Kevin, Anggota Polres Batu Jago Judo, Wakili Polda Jatim di Piala Kapolri 2017

Bripda M. Kevin saat menerima apresiasi dari Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto. (istimewa)

MALANGVOICE – Olahraga bela diri Judo jadi bagian hidup Bripda M. Kevin Firmansyah. Berbagai prestasi telah diraihnya. Teranyar, anggota Sabhara Polres Batu ini mewakili Polda Jatim dalam ajang Piala Kapolri dan Ibu Asuh Tahun 2017, Agustus mendatang, di Jakarta.

Hampir dua pekan terakhir ini, kelahiran 17 Desember 1998 digembleng pelatihan di Polda Jatim. Padahal sebelumnya, sekitar awal Juli, Kevin baru selesai berlaga di Internasioanl Bali Open dan meraih peringkat tiga.

“Lawannya cukup kuat. Apalagi dari atlet Judo asal Uzbekistan. Badanya kekar -kekar maka harus pintar cari titik kelemahannya agar menang,” kenang Kevin.

Di usianya yang masih muda, Kevin yang juga anggota Sat Sabhara Polres Batu, berhasil mendapatkan juara satu dibeberapa kejuaraan internasional. Seperti Juara 1 Kejurda Sejatim tahun 2012-2016, Juara 3 Sirkuit Judo tahun 2013, Juara 1 pon remaja I tahun 2014, Juara 2 internasional bali open 2015, Juara 1 Sirkuit Judo tahun 2014, Juara 3 Popnas Jatim tahun 2015, Juara 2 Porprov Jatim 2015, Juara 3 internasional bali open 2016, Juara 3 internasional bali open 2017.

Tak heran, Polda Jatim melirik Alumus SMA bersekolah di SMANOR (SMA Negeri Olah Raga), Sidoarjo ini untuk menjadi untuk berlaga di Piala Kapolri dan Ibu Asuh Tahun 2017, Agustus mendatang, di Jakarta.

“Kepercayaan dan amanah ini harus saya buktikan dengan medali emas,” ujarnya optimis.

Kevin menambahkan, inspirasi awal menekuni Judo datang dari ayahnya yang juga atlet Judo. Kevin pun menginginkan menjadi seorang atlet Judo. Sepenuhnya, ia didukung oleh keluarganya dalam setiap kegiatan apapun. Ia tak pernah mendapat larangan untuk mengembangkan bakatnya.

Sya audah mengikuti Judo sejak SD kelas 6. Pertama kali ikut Judo langsung dapat juara satu. Dari situ saya teruskan hobi saya di Judo ini sampai jadi Polisi,” kata putra pasangan Dodik Triadi Firmanto dan Neny Wuryani Indah Jaya.


Reporter: Aziz Ramadani
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Okada Ali, Mahasiswa Jepang yang Turut Meramaikan MTQMN 2017

Okada Ali (kanan) saat mengenakan pakaian tari tradisional Bali (istimewa)
Okada Ali (kanan) saat mengenakan pakaian tari tradisional Bali (istimewa)

MALANGVOICE – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya yang sedang mengikuti Program Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA), Okada Ali, akan turut mengisi pagelaran Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XV.

Mahasiswa asal Jepang ini bersama 23 penari dari UKM Unit Tari dan Karawitan (Unitantri), akan mempersembahkan tari tradisional.

“Saya bersama 23 penari dari Unitantri akan menari tarian tradisional. Kebetulan saya kebagian membawakan Tari Rudat dari Lombok,” kata Oka, Kamis (27/7).

Oka mengaku senang sekali dengan keterlibatannya dalam pagelaran MTQMN kali ini. Dia mengaku tertarik dengan budaya Indonesia sejak diajak keluarganya berkunjung pada 19 tahun lalu.

“Ibu saya asli orang Indonesia. Maka dari itu saya tertarik untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia,” katanya.

Meskipun ibunya tidak secara intens memperkenalkan budaya Indonesia dia mengaku merasa harus mempelajari budaya Indonesia karena ada darah yang mengalir dalam tubuhnya.

Karena tidak mempunyai cita-cita sebagai penari dia tidak belajar menari sejak kecil. Akan tetapi menurut Oka salah satu upayanya untuk mengenal budaya Indonesia adalah dengan mempelajari tari-tarian tradisional Indonesia.

“Menurut saya tari tradisional Indonesia berbeda dan rumit dibandingkan di Jepang. Padahal gerak dan lagunya sangat kalem namun kostum yang dipakai sangat berkilau dan banyak,” katanya.

Tidak hanya itu, menurut Oka Budaya Indonesia sangat sangat bervariasi. Setiap daerah mempunyai budaya yang berbeda-beda bahkan ketika hanya berjarak beberapa kilometer saja budayanya sudah berbeda.

Oleh karena itu, dia tertarik untuk mengambil jurusan bahasa Indonesia di Universitas Kajian Asing Tokyo. Disana juga ada UKM tarian Indonesia. Oka mengaku sudah mengikutinya selama dua tahun.

Sementara itu, untuk mempersiapkan tarian pada pagelaran nanti Oka bersam tim UKM Unitantri sudah berlatih sejak awal puasa.

“Kami berlatih setiap hari mulai dari siang hingga sore hari. Kami berharap bisa menampilkan tarian dengan bagus pada pagelaran nantinya,”katanya.

Di akhir pendidikannya nanti Oka bercita-cita bisa tetap mempunyai sebuah pekerjaan yang berhubungan dengan budaya Indonesia.

“Meskipun nanti saya sudah lulus saya berharap masih bisa berhubungan dengan Indonesia dan semua budayanya,” pungkas pengagum Gunung Bromo tersebut.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria
BNN Kota Malang

Subekti dan Fattahu, Alumni UMM Jadi Perawat Profesional di Jepang

Subekti fan Fattahu (tengah) setelah berbagi pengalaman bekerja di Jepang. (istimewa)

MALANGVOICE – Dua alumni Program Diploma Tiga (D3) Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sobaruddin Subekti dan Muhammad Fattahu, saat ini bekerja sebagai tenaga keperawatan di Jepang.

Mereka merupakan dua dari tujuh alumni D3 Keperawatan UMM yang saat ini bekerja di sejumlah rumah sakit dan lembaga kesehatan di Jepang. Subekti bekerja di Sangenjaya Hospital, sementara Fattahu di Central Otaku, keduanya terletak di Tokyo.

Mereka bekerja di Jepang melalui program kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Bagi Subekti, kualitas lulusan D3 Keperawatan UMM sudah sangat mumpuni untuk bersaing secara profesional dengan lulusan luar negeri.

“Pengetahun dan pengalaman yang kami dapat selama kuliah di UMM sudah lebih dari cukup untuk bersaing dengan perawat dari Filipina maupun Jepang sendiri. Kendala kita hanya bahasa saja, dan itu bisa dilatih,” ungkapnya.

Pengalaman bekerja di luar negeri bagi mereka sungguh mengesankan. Selain merasakan suasana baru dengan budaya dan gaya hidup berbeda, dari sisi pendapatan juga cukup tinggi, terlebih jika dibandingkan dengan gaji perawat di Indonesia.

Gaji pertama seorang perawat bisa mencapai Rp 19 Juta, sedangkan biaya hidup berkisar antara Rp 8 hingga 9 juta saja. Subekti malah digaji mencapai Rp 35 juta karena sudah memperoleh registered number (RN) sebagai perawat profesional.

Diakui Subekti, perawat yang telah memiliki RN memang digaji dua kali lipat karena telah dianggap profesional dan sudah bisa menangani pasien secara langsung. RN merupakan sertifikasi nasional bagi perawat di Jepang yang juga diakui secara internasional. Untuk memiliki RN, seorang perawat harus mengikuti ujian keperawatan yang sepenuhnya berbahasa Jepang.

“Bahkan, ini juga berlaku bagi perawat yang lulus kuliah di Jepang. Mereka pun tidak mudah untuk lulus ujian ini dan bisa mendapatkan RN. Dari segi persentase, hanya 10 persen perawat yang bisa lulus ujian ini,” jelas Subekti.

Selain Subekti dan Fattahu, pada bulan Februari lalu, alumni D3 Keperawatan UMM lainnya yang juga bekerja di Jepang, Micky Herera, sempat mengunjungi adik-adiknya di UMM untuk memberikan motivasi dan inspirasi. Seperti halnya Subekti, Micky juga termasuk di antara sedikit perawat yang sudah mendapatkan RN dari pemerintah Jepang.

Sekalipun mereka lulusan D3, namun di Jepang kualifikasi mereka disetarakan dengan S1. Dengan adanya RN ini, mereka juga berkesempatan bekerja di Eropa, karena RN di Jepang diakui secara internasional.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Guru Besar UM Dipilih Jokowi Jadi Deputi Pembinaan Pancasila

Pelantikan di Jakarta (istimewa)

MALANGVOICE – Presiden Jokowi baru saja melantik Deputi Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) di Jakarta, Rabu kemarin. (5/7)

Bangganya, salah seorang yang terpilih menjadi Deputi tersebut adalah Guru besar Sejarah Politik Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Hariyono MPd.

Seperti apa profil Hariyono sehingga Presiden Jokowi memberi tugas itu? Ternyata Hariyono sudah sering berkecimpung dan melakukan studi terkait Pancasila dan nasionalisme. Sampai saat ini, pria yang menjabat Wakil Rektor 1 UM itu telah menerbitkan enam judul buku, salah satunya adalah terbaru berjudul Ideologi Pancasila, Roh Progresif Nasionalisme Indonesia yang diterbitkan pada 2014.

Prof Hariyono seusai pelantikan/kanan (istimewa)

Lulusan IKIP Malang dan IKIP Jakarta itu juga pernah meraih Satyalancana Karya Satya 20 tahun mengabdi sebagai pegawai negeri sipil pada 2012.

Sebagai deputi advokasi, Hariyono bertugas melakukan pembinaan ideologi Pancasila pada kementrian/lembaga dan pemerintah daerah, penanganan penyelesaian dan penanggulangan masalah dan kendala pembinaan ideologi Pancasila, serta mengelola strategi pembinaan ideologi Pancasila.

Ia bersama UKP-PIP juga akan mengkaji materi dan strategi pembelajaran Pancasila dengan pembelajaran yang lain pada pendidikan formal dan non formal.

Selain itu, pendidikan karakter juga akan disinergikan dengan nilai-nilai kebangsaan Pancasila dan kebhinnekaan. Menurutnya, ideologi Pancasila bukan sekedar untuk hapalan saja, namun penting untuk diamalkan. Terutama anak muda sebagai penerus bangsa harus memahami dan belajar mengamalkan Pancasila.

“Pancasila sebagai ideologi yang berjalan seharusnya tidak hanya sekadar dihafalkan tapi juga diamalkan dalam bentuk inovasi karya anak bangsa,” kata Hariyono.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang

Salah Satu Keajaiban Dunia Itu Bernama Ade ‘Wonder’ Irawan


MALANGVOICE-Seorang Jaya Suprana saja menitikan air mata ketika melihat dan
mendengarkan suara dan penampilan Ade “Wonder” Irawan ketika memainkan
piano dalam acara buka puasa bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)
dan Kantor Berita Politik RMOL, Minggu, (11/05)

“Ade Irawan adalah salah satu keajaiban dunia,” tutur Jaya Suprana, dalam
rilis yang sikirim ke Resaksi MVoice, petang ini.

Disebut salah satu keajaiban dunia, karena dari lahir, Ade Irawan tidak
pernah bisa melihat indahnya dunia, alias tunanetra, tapi dia mampu
membagikan keindahan melalui alunan musik piano dan suara emasnya yang bisa
membuat kita menitikan air mata bahagia karena kagum.

Dari kecil dia tidak ada yang mengajari bermain piano namun Ade Irawan
mampu memainkan segala jenis aliran musik, mulai dari klasik, rock, pop
hingga dangdut, apalagi jazz, dimainkan dengan lincah melalui
jari-jemarinya.

Ade Irawan tidak pernah diundang tampil di istana kepresidenan, tapi Ade
Irawan telah manggung di berbagai belahan kota besar dunia, terakhir di
Gedung Opera Sydney dan tahun depan dia akan tampil di panggung opera
terkenal dunia di New York, Amerika.

Kata Jaya Suprana, kemampuan bermain piano Ade Irawan melebihi Stevie
Wonder. Dia dapat disejajarkan dengan Nat King Cole.

Ade Irawan (22) adalah salah satu pianis terbaik dunia dan telah diakui
para musisi dunia yang tentu membanggakan Indonesia.

BNN Kota Malang