Suangar! Mahasiswa Unikama Kembangkan Alat Deteksi Tanah Mengadung Emas

Achmad ketika ditemui MVoice. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Apa jadinya jika keberadaan mineral emas dalam tanah bisa dideteksi dengan monitoring via gadget smartphone Android? Salah seorang lulusan terbaik Univeritas Kanjuruhan Malang (Unikama) mengembangkan sebuah alat yang kedepannya bisa digunakan untuk mendeteksi kandungan mineral seperti emas, perak, dan lain sebagainya.

Dialah Achmad Cholirul Rohman, membuat sistem pendukung keputusan penentuan letak lahan pertanian, pertambangan, dan perindustrian dalam metode smarter. Achmad memanfaatkan teknologi satelit UAD taksonomi Amerika.

“Penelitian ini adalah penggabungan gadget dengan website dan memanfaatkan satelit. Gadget mengambil data dari satelit untuk menentukan letak lahan yang kita injak saat ini,” paparnya saat ditemui MVoice.

Dengan begitu, titik kordinat latitude dan longitude bisa diketahui. Setelah mengetahui koordinat lahan, aplikasi tersebut akan membaca PH, kandungan tanah dan mineral seperti emas dan perak sampai 20 cm ke dalam tanah.

“Memang masih dangkal namun sudah berguna untuk lahan pertanian atau perkebunan. Sehingga lahan kosong bisa termanfaatkan dengan baik, setidaknya jadi tahu kalau musim tertentu, tanah tersebut paling cocok ditanam apa. Jadi lebih meningkatkan perekonomian warga,” ujar pria kalem hobi mengaji ini.

Bekerja sama dengan Perhutani dia menerapkan aplikasi tersebut di Desa Genengan, Pakisaji, Kabupaten Malang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan lahan kosong.

Untuk deteksi emas, Achmad sedang melakukan penelitian lebih lanjut agar alatnya mampu mendeteksi kandungan tanah hingga kedalaman berkilo-kilo meter.

“Setidaknya harus bisa mendeteksi hingga 1000 meter kalau mau deteksi emas. Dan perlu electron khusus yang lebih besar. Akan saya lanjutkan penelitiannya setelah lulus dengan dana hibah penelitian,” katanya optimistis.(Der/Yei)

Sering Diremehkan, Ternyata Sarjana Perpustakaan Punya Banyak Peluang

Riska saat ditemui MVoice di UM. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Sebagian orang masih menganggap profesi seorang pustakawan tampak sepele. Duduk saja di pojokan menjaga buku-buku perpustakaan, mencatat keluar masuk pinjaman, dan menyortir koleksi buku. Tak pelak mereka yang berkuliah mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan sering diremehkan oleh teman dan kerabat. ‘Wah apa itu jurusan perpustakaan. Gak kanggo (gak berguna)!’ Begitulah kata yang sering didengar mahasiswa Ilmu Perpustakaan. 

Tapi itu tidak menghalangi semangat Riska Amelia, lulusan program D3 Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik dalam wisuda ke-89 UM 2017, 14 Oktober 2017. 

Gadis asli Malang ini, awalnya agak keberatan ketika harus masuk jurusan D3 Perpustakaan karena target awal adalah masuk ke Fakultas Sastra. Namun, Riska mantap mengambil jurusan itu lantaran jurusan Ilmu Perpustakaan ternyata cukup langka. Dan lagi, lulusanya banyak dicari dan memiliki peluang kerja yang besar. Buktinya Riska sebelum diwisuda, sudah bekerja sebagai pustakawan di SMP/SMA Islamic Boarding School di Kota Batu. 

Serunya selama kuliah, lanjut Riska, dia dapat mempelajari banyak disiplin ilmu pengetahuan. Apalagi ketika menyeleksi buku, seorang pustakawan harus paham topik buku tersebut, dan kebermanfaatan isi buku kepada pembaca. 

“Jika orang meremehkan, maka saya jelaskan bahwa seorang pustakawan tak hanya sekedar jaga buku, tapi kamu juga menentukan isi koleksi perpustakaan itu, dan juga kami belajar banyak hal. Selain itu kami juga ahli IT,” katanya optimis. 

Riska pun sedikit mengkritik pelayanan dan fasilitas perpustakaan di Kota Batu. Menurutnya, lokasi perpustakaan umum di Balai Kota Among Tani masih belum menarik pembaca secara maksimal terutama kalangan anak-anak. Desain perpustakaan harus dibuat semenarik mungkin dan disediakan spot menarik khusus anak-anak. 

“Promosi perpustakaan kota juga harus digalakkan. Selama ini karena lokasi perpustakaan umum ada di balai kota, pengunjung umum merasa segan alias sungkan untuk masuk ke sana,” tutur gadis kelahiran 1995 ini.(Der/Yei)

Karena Kulit Bersisik, Nabila Sukses Bisnis Sabun Handmade Beromzet Jutaan

Aqila the handmade soap. (Anja arowana)
Aqila the handmade soap. (Anja arowana)

MALANGVOICE – Kulit yang halus mulus tanpa cela jadi dambaan semua wanita. Namun tidak dengan Nabila Al Bathaty, warga Malang pemilik bisnis sabun herbal. Dari keadaan kulit yang tak sempurna, Nabila terinspirasi memulai bisnis sabun herbal dan kini meraup untung jutaan rupiah

Sejak kecil Nabila, akrab disapa, punya permasalahan kulit yang bersisik karena terlalu kering. Keadaan kulit yang bersisik itu cukup menganggu dan berlangsung hingga Nabila berkeluarga sampai mempunyai satu anak. Nabila pun tak tahu sebabnya kenapa keadaan kulitnya tak kunjung membaik meski memakai berbagai produk perawatan. Barulah pada tahun 2013, Nabila mencoba sabun herbal buatan temannya. Sejak saat itu Nabila merasakan perubahan signifikan pada kulitnya.

Menjual produk bersama 1 karyawan dan adik. (Anja Arowana)
Menjual produk bersama 1 karyawan dan adik. (Anja Arowana)

“Kok kulit saya jadi membaik lalu lembab dan lembut. Dari situ saya coba buat sendiri di rumah. Bahannya ternyata dari minyak nabati seperti minyak zaitun, dan tanpa bahan kimia sama sekali,” paparnya saat ditemui MVoice.

Lalu ternyata kerabat dan teman Nabila berminat mencoba sabun tersebut. Dan ternyata cocok karena sabun itu sifatnya melembabkan, dan tidak banyak deterjen yang membuat wajah atau kulit terasa ‘ketarik’ atau ketat.

“Nah ternyata setelah saya pelajari, produk sabun kebanyakan mengandung bahan SLS yaitu sejenis zat kimia yang biasanya dipakai untuk sabun pembersih mesin. Harganya memang lebih ekonomis, namun zat ini sudah di larang oleh pemerintah dibeberapa negara maju,” tambahnya.

Barulah Nabila mencoba serius menjadikan sabun herbal sebagai bisnis. Nabila biasanya membeli bahan herbal seperti minyak kedelai, zaitun, jahe, madu, dan banyak lainnya. Kini produk herbal kecantikan Nabila berkembang tidak hanya sabun badan, melainkan sabun wajah, body butter, face oil, dan scrub. Sabun buatan nabila cocok untuk mereka yang berkulit sensitif atau yang ingin merawat kecantikan.

“Tapi, mereka yang memiliki masalah jerawat kronis sebaiknya ke dokter. Herbal saja tidak cukup,” tukasnya.

Lewat Instagram akun @aqila_handmadesoap, Nabila bisa menjual ribuan batang sabun buatan sendiri hingga keluar pulau Jawa. Omzet bisnis wanita berparas ayu ini pun mencapai jutaan rupiah.(Der/Ak)

Mengenal Bagong Kussudiardja, Seniman Indonesia di Doodle Google Hari Ini

Doodle hari ini. (Google/doodle)

MALANGVOICE – Tahukah Anda, sosok yang menjadi inspirasi doodle Google hari ini adalah seniman asal Indonesia, Bagong Kussudiardja. Doodle Google kali ini dibuat untuk merayakan ulang tahun Bagong ke -89.

Bagong merupakan seorang koreografer dan pelukis senior yang karyanya sangat dikenal baik di dalam maupun di luar negeri. Sosok kartunnya dalam doodle digambarkan sedang duduk di kursi sambil menggenggam kuas cat.

Di latar belakang ada lukisan para penari beraneka kostum yang melompat gembira, sepertinya terinspirasi dari beberapa karya Bagong.

“Bagong mengawali perjalanannya dengan mempelajari seni, musik, dan tari Jawa,” seperti yang dikutip MVoice dari Google di laman doodle, Senin (9/10)

Bagong juga berlatih tari Jepang dan India, lalu belajar koreografi dengan koreografer legendaris Martha Graham di Amerika Serikat pada 1957 hingga 1958. Bekal tersebut dipakai mengembangkan tari tradisional di kampung halaman. Bagong mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT) pada 5 Maret 1958 dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 2 Oktober 1978.

Selama hidupnya, lebih dari 200 tari telah diciptakan, dalam bentuk tunggal atau massal, diantaranya; tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an)

Di samping aktif dalam koreografi, juga dikenal dengan lukisan batiknya yang menggunakan berbagai gaya lukisan, dari impresionis, abstrak, hingga realis.

Sang seniman multi-talenta ini tutup usia pada tahun 2004. Bagong merupakan ayah dari dua tokoh seni Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto yang tentunya juga berjasa dalam berkembangan seni di Indonesia.(Der/Yei)

Jadi Wisudawan Tertua di UB, Kakek 71 Tahun Masih Ingin Kuliah Lagi

Mochammad Istiadjid Edi Santoso tersenyum setelah diwisuda. (istimewa)

MALANGVOICE – Menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Kalimat itulah yang paling cocok menggambarkan semangat Prof Dr Dr dr Mochammad Istiadjid Edi Santoso, yang dinobatkan sebagai wisudawan tertua di Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Meski usia menginjak 71 tahun, namun semangat belajar Edi bisa diadu dengan mahasiswa UB lainnya yang diwisuda pada Sabtu (30/9). Hal ini terbukti dari banyaknya gelar yang dia peroleh. Terhitung ada sembilan gelar yang dia sandang di bidang ilmu kedokteran dan ilmu hukum.

Dijelaskannya bahwa mendapat banyak gelar bukanlah tujuan utama dalam hidupnya. Tujuan utamanya adalah belajar demi mendapatkan ilmu dan wawasan yang selama ini diminatinya.

Menurutnya belajar itu menyenangkan dan tidak ada yang sulit asalkan bisa dijalani dengan ikhlas dan disiplin. Hobi belajar ternyata sudah dimilikinya sejak duduk di bangku sekolah rakyat atau Sekolah Dasar.

“Meskipun waktu kecil saya nakal sekali suka nyuri tebu dan main di sungai tapi saya selalu berprestasi di sekolah karena saya tidak pernah meninggalkan waktu belajar,” kata gubes UB tersebut.

Ketekunannya dalam belajar ternyata membuahkan hasil, ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dia meraih predikat pertama siswa terbaik tingkat kabupaten.

Selepas dari SMA dia ternyata diterima di perguruan tinggi ternama, antara lain Teknik Elektro ITB, FT ITS, FK UGM, dan FK Undip.Diantara banyak tawaran dia akhirnya menjatuhkan pilihan di FK UGM karena menurut dia lokasinya paling dekat dengan rumah di Klaten.

Selesai menempuh pendidikan di FK UGM pada tahun 1971. Di tahun 1980, kakek yang sudah mempunyai tiga cucu tersebut mengambil spesialisasi ilmu penyakit saraf atau neurologi.

Pada tahun 1984 hingga 1987 mengambil sesialisasi ilmu bedah saraf. Tidak puas sampai disitu pada tahun 2004, Istiadjid lulus dari doktor Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pasca sarjana dan dua tahun kemudian meraih gelar Guru besar dari UB dengan bidang bedah saraf.

Pada saat pensiun di usia 70 tahun, dekan FK masih memberdayakannya untuk mengajar bidang filsafat (bioetika) dan ilmu hukum kedokteran atau kesehatan.

“Di sela sela kesibukkan saya mengajar saya menyempatkan untuk mengambil kuliah lagi di bidang magister ilmu hukum Unmer pada tahun 2008 dan mengambil gelar sarjana ilmu hukim dari Universitas Wisnu Wardhana pada tahun 2013. Saat itu kedua universitas tersebutlah yang mempunyai program ekstension,” katanya.

Lintas jurusan yang dia ambil bukanlah tanpa alasan. Prof Istiadjid mengatakan bahwa standar kompetensi seorang dokter ada tujuh area diantaranya etika moral medikolegal atau hukum kesehatan profesionalisme dan keselamatan pasien atau patient safety.

“Oleh karena itu saya ambil hukum. Makanya disertasi saya judulnya pertanggungjawaban perdata malpraktik dokter,” katanya.

Saat ini dia ingin ada anak-anaknya yang bisa mewarisi semangatnya dalam belajar. Dia berharap anak laki-lakinya yang nomer dua bisa melanjutkan kuliah hingga program doktor.

“Saya juga masih ingin belajar dan kuliah lagi jika fisik dan pikiran saya masih mendukung saya ingin kuliah filsafat. Bioetika itu cabang dari ilmu filsafat,” kata kakek yang mempunyai moto hidup life long learning ini.(Der/Yei)

Saleh Marzuki, Profesor UM Raih Award Dosen Inspiratif

Penyerahan penghargaan Dosen Inspiratif.(istimewa)

MALANGVOICE – Prof Dr H M Saleh Marzuki, memperoleh Award Bidang Inspirative Lecturer dari Asosiasi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Jurusan Ilmu Pendidikan (FIP-JIP). Kegiatan yang berlangsung 12-16 September 2017 tersebut, berlangsung di UTC Universitas Negeri Semarang (UNNES), dengan dihadiri 12 anggota Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dan penyelenggara Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Se- Indonesia.

Guru besar emiritus Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) ini dinobatkan sebagai dosen inspiratif atas jasa dan reputasinya dalam dunia pendidikan.

“Prof Saleh Marzuki merupakan inspirator, hasil karya beliau banyak sekali, salah satunya adalah sebagai pencetus pengembangan permainan simulasi P4 (pemasyarakatan dan pengamalan Pancasila) tahun 1982-1984,” jelas Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UM, Prof Dr Bambang Budi Wiyono, saat diwawancari di ruang kerjanya.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan indikator lainnya terkait penilaian Inspirative Lecturer Award. Selain pengalaman dan reputasi dalam dunia pendidikan, indikator lainnya adalah keaktifanya dalam forum-forum pendidikan dan karya pendidikan.

Dalam bidang manajerial Prof Saleh Marzuki juga memiliki pengalaman yang banyak. Pria yang menamatkan studi pascasarjananya di University of Massachusetts, USA tahun 1982 ini pernah menjabat berbagai bidang di UM, yaitu; Kepala Biro AAK, IKIP Malang (1982-1987), Sekretaris Prodi Magister PLS IKIP Malang (1990-2000), Kepala Pusat Pelayanan Masyarakat, LPM IKIP Malang (1990-1993), Pembantu Dekan I FIP IKIP Malang (1994-1997), Dekan FIP IKIP Malang (1997-1999), Pembantu Rektor I UM (1999-2001), Pj. Rektor UM (2001-2002), dan Ymt Pembantu Rektor III (2003).

Sementara itu, dalam bidang lainnya Prof. Saleh Marzuki antara lain; pengabdian kepada masyarakat (International Labour Organization: A Good Presenter and Teaching Techniques for Adult, 2001), karya ilmiah (Educational Policies Pertaining to Urban Migrant in Malang Municipality: Journal of Southeast Asian Education Vol 4 Number 2 December 2003, SEAMEO Regional Center for Educational Innovation and Technology, Bangkok, dan penyaji makalah dan lokakarnya antara lain; Community-Based Basic Laerning Package: A Guide to Developing Suplementary Learning Package for A Literacy Program (Learning from Experience in Indonesia). The International Conference on Literacy ISCO-OKI Malang, Indonesia, 2001

Bambang berharap dengan berbagai prestasi yang diterima oleh civitas akademika UM ini dapat memberikan motivasi kepada para dosen muda agar mampu berkarya lebih baik lagi untuk pengembangan lembaga. Selain itu juga dapat membuka kerjasama antar lembaga guna mewujudkan cita-cita perguruan tinggi sebagai penyelenggara Tridharma Perguruan Tinggi.(Der/Yei)

Konsisten Sejak 1945, Karya Mbah Rasimun Tembus Pasar Internasional

Mbah Rasimun pada Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta. (Istimewa)

MALANGVOICE – Perjalanan panjang mewarnai lika-liku perjuangan Mbah Rasimun, Warga Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3, RT 04, RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Gelar sebagai maestro seni payung kertas, tidak begitu saja didapat dengan mudah.

Kakek 90 tahun ini sudah membuat payung kertas sejak tahun 1945. Konsistensinya sampai saat ini, membuahkan hasil berupa penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya 17 September lalu, pada acara Penutup Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah.

Pada mulanya, payung kertas hasil kreasi Mbah Rasimun ini hanya dijual di beberapa lokasi. Namun, atas keteguhan dan keseriusannya, karya tersebut mampu tembus pasar internasional.

Putra Mbah Rasimun, Rusikin (38), menilai, kesuksesan Mbah Rasimun mengangkat Kota Malang di level nasional hingga internasional melalui seni payung kertas memberikan motivasi tersendiri bagi warga sekitar. Tentu saja, itu semua untuk mengembangkan seni pembuatan payung kertas.

Alhasil, warga bersama tokoh masyarakat kini aktif berdiskusi untuk mengembangkan Kampung Payung sebagai destinasi wisata Kota Malang. “Warga dan Pak RW akan berembug dan rapat bagaimana nantinya pengembangan Kampung Payung di lokasi Mbah Rasimun tinggal ini,” ujar Rasikin.

Terpisah, Yuyun dari Karya Bunga Ngalam yang selama ini membantu pengembangan karya Mbah Rasimun mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan kolaborasi payung kertas buatan Mbah Rasimun dengan lukisan Topeng Malang. Karya itu akan dinamakan ‘Payung Ngepot’.

Penggunaan kata Ngepot sendiri merupakan bahasa ‘walikkan’ dari Topeng. “Kami akan bekerjasama dengan seni lukis topeng di Desaku Menanti, sehingga kolaborasi ini diharapkan menjadi hal yang sangat positif mendatang,” kata Yuyun.

Ia menjelaskan, kolaborasi serupa sebenarnya sudah dilakukan Kabunga. Waktu itu payung kertas hasil kreasi Mbah Rasimun dikombinasi dengan lukisan para pelukis ternama Kota Malang. Hasilnya, payung kertas itu laris manis di pasaran hingga dipesan wisatawan dari Jepang, Perancis dan bahkan dalam waktu dekat Mbah Rasimun diundang ke Thailand.

“Kami bangga memiliki maestro seni payung kertas asal Kota Malang. Dan yang positif, setelah Mbah Rasimun mendapat penghargaan warga sekitar semangat untuk mengembangkan seni tersebut. Tentunya ini adalah peluang yang baik bagi tumbuhnya ekonomi warga,” pungkasnya.(Coi/Yei)

Kakek 90 Tahun, Sang Maestro Seni Payung Kertas Asal Kota Malang

Mbah Rasimun pada Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta. (Istimewa)

MALANGVOICE – Usia tak membatasi seseorang untuk berkarya. Ungkapan tersebut amat pas disematkan pada sosok Mbah Rasimun. Pria berusia 90 tahun itu membuktikan bahwa usia senja bukanlah halangan untuk unjuk kreativitas.

Warga Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3, RT 04, RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, ini baru saja didapuk sebagai maestro seni payung kertas. Penghargaan ini diserahkan 17 September lalu, pada acara Penutup Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah.

Mbah Rasimun mendapat penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya. Ini tidak lepas atas dedikasinya yang sangat tinggi dalam melestarikan seni dan budaya Indonesia.

Undangan terkait penghargaan ini kali pertama diterima putra Mbah Rasimun, Rusikin (38), dan Yuyun Sulastri dari Karya Bumi Ngalam (Kabunga) yang selama ini membantu pengembangan karya sang maestro. Keduanya lantas menyampaikan kepada Mbah Rasimun.

Mendengar kabar itu, Mbah Rasimun pun terbang ke Surakarta, menerima langsung menerima penghargaan tersebut. Meski tak lagi muda, di Surakarta Mbah Rasimun masih mampu menunjukkan kelihaiannya mengukir payung kertas di depan para khalayak.

Rusikin sang putra mengaku sangat bangga atas penghargaan yang diperoleh ayahnya.”Tentunya kami dari keluarga sangat berbangga Mbah Rasimun, bapak saya bisa mendapatkan penghargaan, dari Sri Paduka Mangkunagoro IX,” kata Rusikin.(Coi/Yei)

Sanusi, Ubah Limbah Jadi Miniatur

Anwar Sanusi menunjukkan buah karyanya di rumah tempat produksi, Desa Pesanggrahan, Kota Batu. (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Sosok pria berkaos warna hitam tampak sibuk berkutat dengan kayu dan kuasnya saat ditemui di rumah beralamat RT 03/RW 05 Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu, Rabu sore (13/9). Beberapa kayu yang sudah dipotong presisi lantas diolah menjadi sebuah miniatur. Di antaranya, becak, pesawat, perahu pinisi dan jam ornamen ukiran.

Pria ramah dan murah senyum ini adalah Anwar Sanusi. Pria akrab disapa Sanusi memulai usaha kerajinan tangan atau handycraft sejak 2012 silam. Usahanya patut diacungi jempol, karena bahan dasarnya memanfaatkan limbah kayu dan bambu. Khusus bambu dia dapatkan dari pekarangnnya sendiri.

“Inspirasi awalnya ya prihatin banyak limbah kayu hasil mebel terbuang percuma. Daripada dibakar saya olah lagi,” kata Sanusi.

Pada percobaan pertama, lanjut pria kelahiran 11 Agustus 1984, memproduksi 20 karya. Miniatur pertamanya adalah perahu pinisi. Tidak ada kesulitan berarti yang dihadapi. Sebab, Sanusi memang telah memiliki dasar seni. Dia juga konsultasikan kepada teman seniman.

“Pernah lama jadi pelukis sejak 2005. Sebelum buat miniatur ya didesain dengan sketsa dulu,” urainya.

Tak disangka, lanjut Sanusi, produknya cepat laku. Padahal dalam tempat penjual souvenir ada produk serupa buatan asal Yogyakarta. Harganya pun sama dipatok mulai Rp 10 ribu per miniatur.

“Ada evaluasi juga memang. Karena masih manual. Mempengaruhi kehalusan tampilan. Sekarang sudah pakai mesin,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Kini dari buah ketelatenannya, dalam sehari mampu memproduksi 50 karya miniatur. Pemasarannya pun bertambah, yakni di Wana Wisata Coba Talun dan Plaza Batu. Omzet yang dikantonginya setiap bulan Rp 3 juta – Rp 4 juta. Produk lain pun, seperti jam ukir, dikembangkan dengan harga mulai Rp 200 ribu sesuai tingkat kerumitannya.

Namun yang paling menarik, Sanusi enggan memanfaatkan media sosial dan kemudahan teknologi guna melebarkan pemasaran. Dia mengaku ingin fokus memenuhi kebutuhan lokal Kota Batu.

“Saya fakus pemasaran di Kota Batu saja ,” katanya.(Der/Yei)

Berlatar Belakang Prajurit TNI, Misi Agus Bebaskan Kabupaten Malang dari Narkoba

MALANGVOICE – Letkol Laut CPM Agus Musrichin resmi menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Malang, menggantikan AKBP I Made Arjana. Serah terima jabatan berlangsung 6 September lalu, setelah sebelumnya dilantik di BNN Pusat pada 29 Agustus.

Selain Agus, Letkol CPM Ivan Eka Setya juga menjabat sebagai Kepala BNN Kota Cimahi. Keduanya sama-sama berlatar belakang prajurit TNI. Sekaligus menjadi sejarah baru di internal BNN.

Tugas berat menanti bapak tiga anak ini. Bagaimana tidak, Kabupaten Malang terdiri dari 378 desa dari 33 kecamatan dengan jumlah penduduk hampir 2,5 juta jiwa. Peredaran narkoba di Kabupaten Malang juga masih tinggi.

Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut CPM Agus Musrichin saat serah terima jabatan dengan AKBP I Made Arjana. (ist)

Ditambah, akses masuk ke Kabupaten Malang juga lengkap, baik udara, laut maupun darat. Potensi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pun terbuka luas. “Butuh sinergitas semua pihak dalam memberantas pelaku kejahatan narkoba,” kata Agus, kepada MVoice, melalui pesan singkat WhatsApp.

Kerja sama dengan berbagai instansi telah dilakukan. Di antaranya dengan Pemkab Malang, Polres Malang, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan sampai Dinas Pariwisata. BNN bersama Pemkab Malang gencar mengkampanyekan stop narkoba, baik di acara Bina Desa maupun pada saat safari Ramadhan, beberapa waktu lalu.

Untuk penegakan hukum, BNN telah menggandeng Polres Malang. Tidak sedikit pelaku hingga bandar narkoba dijebloskan ke dalam penjara.

Komunitas