Kakek 90 Tahun, Sang Maestro Seni Payung Kertas Asal Kota Malang

Mbah Rasimun pada Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta. (Istimewa)

MALANGVOICE – Usia tak membatasi seseorang untuk berkarya. Ungkapan tersebut amat pas disematkan pada sosok Mbah Rasimun. Pria berusia 90 tahun itu membuktikan bahwa usia senja bukanlah halangan untuk unjuk kreativitas.

Warga Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3, RT 04, RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, ini baru saja didapuk sebagai maestro seni payung kertas. Penghargaan ini diserahkan 17 September lalu, pada acara Penutup Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah.

Mbah Rasimun mendapat penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya. Ini tidak lepas atas dedikasinya yang sangat tinggi dalam melestarikan seni dan budaya Indonesia.

Undangan terkait penghargaan ini kali pertama diterima putra Mbah Rasimun, Rusikin (38), dan Yuyun Sulastri dari Karya Bumi Ngalam (Kabunga) yang selama ini membantu pengembangan karya sang maestro. Keduanya lantas menyampaikan kepada Mbah Rasimun.

Mendengar kabar itu, Mbah Rasimun pun terbang ke Surakarta, menerima langsung menerima penghargaan tersebut. Meski tak lagi muda, di Surakarta Mbah Rasimun masih mampu menunjukkan kelihaiannya mengukir payung kertas di depan para khalayak.

Rusikin sang putra mengaku sangat bangga atas penghargaan yang diperoleh ayahnya.”Tentunya kami dari keluarga sangat berbangga Mbah Rasimun, bapak saya bisa mendapatkan penghargaan, dari Sri Paduka Mangkunagoro IX,” kata Rusikin.(Coi/Yei)

Sanusi, Ubah Limbah Jadi Miniatur

Anwar Sanusi menunjukkan buah karyanya di rumah tempat produksi, Desa Pesanggrahan, Kota Batu. (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Sosok pria berkaos warna hitam tampak sibuk berkutat dengan kayu dan kuasnya saat ditemui di rumah beralamat RT 03/RW 05 Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu, Rabu sore (13/9). Beberapa kayu yang sudah dipotong presisi lantas diolah menjadi sebuah miniatur. Di antaranya, becak, pesawat, perahu pinisi dan jam ornamen ukiran.

Pria ramah dan murah senyum ini adalah Anwar Sanusi. Pria akrab disapa Sanusi memulai usaha kerajinan tangan atau handycraft sejak 2012 silam. Usahanya patut diacungi jempol, karena bahan dasarnya memanfaatkan limbah kayu dan bambu. Khusus bambu dia dapatkan dari pekarangnnya sendiri.

“Inspirasi awalnya ya prihatin banyak limbah kayu hasil mebel terbuang percuma. Daripada dibakar saya olah lagi,” kata Sanusi.

Pada percobaan pertama, lanjut pria kelahiran 11 Agustus 1984, memproduksi 20 karya. Miniatur pertamanya adalah perahu pinisi. Tidak ada kesulitan berarti yang dihadapi. Sebab, Sanusi memang telah memiliki dasar seni. Dia juga konsultasikan kepada teman seniman.

“Pernah lama jadi pelukis sejak 2005. Sebelum buat miniatur ya didesain dengan sketsa dulu,” urainya.

Tak disangka, lanjut Sanusi, produknya cepat laku. Padahal dalam tempat penjual souvenir ada produk serupa buatan asal Yogyakarta. Harganya pun sama dipatok mulai Rp 10 ribu per miniatur.

“Ada evaluasi juga memang. Karena masih manual. Mempengaruhi kehalusan tampilan. Sekarang sudah pakai mesin,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Kini dari buah ketelatenannya, dalam sehari mampu memproduksi 50 karya miniatur. Pemasarannya pun bertambah, yakni di Wana Wisata Coba Talun dan Plaza Batu. Omzet yang dikantonginya setiap bulan Rp 3 juta – Rp 4 juta. Produk lain pun, seperti jam ukir, dikembangkan dengan harga mulai Rp 200 ribu sesuai tingkat kerumitannya.

Namun yang paling menarik, Sanusi enggan memanfaatkan media sosial dan kemudahan teknologi guna melebarkan pemasaran. Dia mengaku ingin fokus memenuhi kebutuhan lokal Kota Batu.

“Saya fakus pemasaran di Kota Batu saja ,” katanya.(Der/Yei)

Berlatar Belakang Prajurit TNI, Misi Agus Bebaskan Kabupaten Malang dari Narkoba

MALANGVOICE – Letkol Laut CPM Agus Musrichin resmi menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Malang, menggantikan AKBP I Made Arjana. Serah terima jabatan berlangsung 6 September lalu, setelah sebelumnya dilantik di BNN Pusat pada 29 Agustus.

Selain Agus, Letkol CPM Ivan Eka Setya juga menjabat sebagai Kepala BNN Kota Cimahi. Keduanya sama-sama berlatar belakang prajurit TNI. Sekaligus menjadi sejarah baru di internal BNN.

Tugas berat menanti bapak tiga anak ini. Bagaimana tidak, Kabupaten Malang terdiri dari 378 desa dari 33 kecamatan dengan jumlah penduduk hampir 2,5 juta jiwa. Peredaran narkoba di Kabupaten Malang juga masih tinggi.

Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut CPM Agus Musrichin saat serah terima jabatan dengan AKBP I Made Arjana. (ist)

Ditambah, akses masuk ke Kabupaten Malang juga lengkap, baik udara, laut maupun darat. Potensi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pun terbuka luas. “Butuh sinergitas semua pihak dalam memberantas pelaku kejahatan narkoba,” kata Agus, kepada MVoice, melalui pesan singkat WhatsApp.

Kerja sama dengan berbagai instansi telah dilakukan. Di antaranya dengan Pemkab Malang, Polres Malang, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan sampai Dinas Pariwisata. BNN bersama Pemkab Malang gencar mengkampanyekan stop narkoba, baik di acara Bina Desa maupun pada saat safari Ramadhan, beberapa waktu lalu.

Untuk penegakan hukum, BNN telah menggandeng Polres Malang. Tidak sedikit pelaku hingga bandar narkoba dijebloskan ke dalam penjara.

Berawal dari Iseng, Tiga Arek Malang Ini Sukses Bikin Game Android Keren

Game Galactic Rush. (istimewa)
Game Galactic Rush. (istimewa)

MALANGVOICE – Bagi Anda yang gemar bermain game khususnya di Android, pasti pernah mengetahui permainan Galactic Rush. Permainan yang sudah diunduh sekitar 500 ribu orang itu ternyata buatan Arek Malang.

Mengatasnamakan diri dengan Simpleton, pekerjaan yang awalnya hanya iseng, kini ternyata berbuah hasil. Simpleton terdiri dari tiga orang, yakni M Rizka, Febri Abdullah dan Claudio Azis.

Simpleton berdiri pada akhir 2013 lalu. Saat itu M Rizka dan Febri iseng mengikuti perlombaan game yang diadakan Nokia, salah satu perusahaan handphone terbesar di dunia, tak disangka keisengan para alumni SMAN 8 ini berhasil membawa mereka menjadi juara dua.

“Febri jago programming dan saya bagian desain waktu itu bikin game simpel, ternyata menarik dan bisa menang. Akhirnya dari sana keterusan,” kata Rizka yang akrab disapa Mocha.

Dari game yang diberi nama Bunny Beyond itu terus dikembangkan meski berbasis Windows. Namun karena kini Android sedang booming, hingga pada 2014 mereka beralih ke sistem operasi tersebut. Di sanalah Galactic Rush lahir. “Kami kemudian porting ke Android dan muncul Galactic Rush,” lanjut lulusan Universitas Negeri Malang (UM).

Penggarapan semua game, diakui Mocha, tidak perlu tempat khusus. Terpenting ada komputer. Setiap pertemuan selalu terjadwal setiap pekan. Terbukti pengerjaan Galactic Rush memakan waktu empat bulan.

Lewat Galactic Rush, ternyata respon pengguna Android cukup memuaskan. Banyak komentar positif yang terus memberi semangat ketiga Arek Malang itu. Bahkan, dari game itu bisa memmbawa pulang tropi juara 1 Mobile Game Developer Challenge. “Ya, banyak yang bilang game itu memuaskan, kami jadi lega,” ujarnya pria 27 tahun.

Tak puas dengan Galactic Rush, Simpleton kemudian membuat dua game lain berbasis Android, yakni Magic Rubber Duck dan Everyone Loves Monster. Dari ketiga game itu, Simpleton mendapat keuntungan sekitar Rp 5-10 juta per bulan.

Keuntungan itu didapat dari pembelian item di dalam game dan juga iklan. “Untungnya naik turun sih, sama seperti dagang tapi kami bersyukur saja. Awalnya dulu juga tanpa dana, yang penting ada komputer,” tambah Mocha.

Saat ini, Simpleton terus ingin mengembangkan usahanya. Ke depan, Simpleton akan membuat game untuk PC atau komputer yang dinamakan Paw Paw Paw. Saat ini mereka tengah berusaha menyelesaikan game tentang petualangan yang menggunakan karakter hewan lucu pada 2018 mendatang.

Rizka mengaku, selama membuat game yang paling sulit adalah masih sedikit studio game di Malang. Beda dengan kota lain yang sudah lama berkonsentrasi menciptakan game. Sedikitnya waktu untuk berkumpul bersama tim juga dirasa menjadi halangan karena sudah mempunyai kegiatan sendiri-sendiri.

“Ide itu kadang numpuk, tapi tidak ada waktu buat nggarap. Kami juga ikut komunitas Game Developer Malang dan share atau saling berbagi untuk menciptakan game bagus seperti apa,” tambah pria berkacamata.

Ia berharap, industri game di Kota Malang bisa berkembang dan semakin maju. Anak-anak muda kini dianggap mampu menciptakan game baik dan mengangkat nama daerah. “Sekarang untungnya ada konsentrasi di perkuliahan yang mempelajari tentang game. SDM kita sebenarnya punya, tapi harus ada ide bagus dan keinginan saja,” tandasnya.(Der/Ak)

Puput, Gitaris Andal yang Tak Memiliki Kaki

Paulus Putra Setiawan. (istimewa)
Paulus Putra Setiawan. (istimewa)

MALANGVOICE – Pria berkacamata hitam terlihat serius memainkan jarinya pada sejumlah enam senar gitar berwarna cokelat. Dia adalah Paulus Putra Setiawan. Kelahiran 15 Oktober 27 tahun silam ini seorang musisi, lebih tepatnya gitaris.

Namun, Puput sapaan akrabnya, dilahirkan dengan kondisi tubuh tak sempurna. Dia tak dikarunia dengan dua kaki. Meskipun begitu, tampak tidak ada rasa berbeda dari diri Puput. Dia beraktivitas layaknya manusia normal pada umumnya. Saat bermain di atas panggung, Puput seringkali duduk di sebuah kursi.

Puput tergabung dalam band indie, Pagi Tadi. Band yang digawangi tiga orang itu, dua anggota lainnya ialah Yulius Benu vokalis dan gitaris dan Fransiskus Asisi sebagai bassis.

Tak pernah ada kata minder bagi Puput saat beraksi di panggung. Dia sangat menikmati momen menyuguhkan permainan gitarnya yang beraliran folk tersebut.

“Dinikmati saja. Enjoy, memang sejak kecil suka musik. Jadi tampil percaya diri saja,” kata Puput.

Bungsu dari empat bersaudara itu menguasai beberapa alat musik, tidak hanya gitar saja. Seperti alat musik tradisional gamelan, angklung, biola, keyboard, bahkan perkusi. Untuk aktivitasnya di dunia musik ini sangat didukung keluarga. Saat ini ia disibukkan dengan bermain band dan membuka kursus musik.
Saat manggung, ia tak memakai kursi rodanya, ia berdiri dipanggung, layaknya seorang gitaris pada umumnya.

“Saking cintanya, musik ini sudah seperti kaki kaki saya,” ujarnya.

Bahkan, ia masih tidak ingin bersolo karier. Ia masih ingin tetap berkarya bersama kawan-kawannya dalam sebuah band. Bagi dia, ia tidak melihat kesempatan bermain di panggung hanya semata-mata untuk dirinya, tetapi bersama kawan-kawannya.

Apalagi, ia bersama band yang berdiri sejak 2015 itu banyak kenangan ketika membuat lagu dan album. Album pertama yang berhasil dicapai berjudul Kembara, dan album kedua berjudul Taizei. Dalam album pertama ada tujuh lagu, dan di album kedua ada delapan lagu. Semua lagu dalam album tersebut bertemakan tentang alam.

“Untuk album pertama kami bahkan melakukan riset langsung ke Gunung Semeru,” kenangnya.

Ada lagu yang berjudul Kembara di album pertama. Lagu ini dipakai soundtrack di film indie Malaysia. Dan lagu Moksa pada album kedua, rencananya akan dijadikan soundtrack film Indonesia berjudul Posesif yang dibintangi Adipati Dolken dan Putri Marino. Film ini dikabarkan akan beredar di bioskop, Oktober mendatang.(Der/Ak)

Mohammad Amin, Satu-Satunya yang Lolos World Class Professor Program 2017

Prof M Amin saat ditemui MVoice di kantornya. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Hanya satu profesor dari semua perguruan tinggi di Malang Raya yang berhasil lolos dalam program World Class Professor 2017 yang diadakan Kemenristek Dikti. Ialah Prof Dr agr Mohammad Amin M.Si, pria yang sehari-harinya mengajar Biologi di Universitas Negeri Malang (UM) ini, tidak menyangka bisa lolos program bergengsi dan cukup selektif itu.

Pria yang akrab disapa Amin itu mengatakan, sejauh ini jumlah publikasi ilmiah dosen di perguruan tinggi Indonesia tertinggal jauh dari negara lain. Kemenristek Dikti mengusung program World Class Professor untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dosen di Indonesia. Program utamnya adalah melaksanakan join research (penelitian gabungan) antara peneliti/dosen dalam negeri dan luar negeri. Kerjasama penelitian itu diutamakan pada perguruan tinggi dengan ranking publikasi ilmiahnya kelas dunia.

Dari total ratusan tim peneliti se-Indonesia, delapan tim diantaranya berasal dari UM. Ketika diumumkan, hanya tim Amin saja yang lolos. Itu artinya Amin dan tim menjadi satu-satunya yang lolos dari semua perguruan tinggi se-Malang Raya.

“Waktu itu UM mendafarkan delapan tim, tapi yang lolos cuma tim saya,” kata dia saat ditemui MVoice di kantornya, Rabu (6/9).

Amin memang sudah beberapa kali melakukan join research. Saat proses pendaftaran program itu, Amin sedang menjalankan join research di bidang Bioteknologi bersama tim peneliti salah satu universitas di Tokyo.

“Memang itu jadi syarat lolos program Wolrd Class Professor. Harus menjalankan riset bersama. Kebetulan riset saya dan peneliti disana (Jepang) itu di bidang yang sama. Jadi penelitian saya ini saya ajukan ke beliau. Bagamana kalau join research saja? Jadi saya punya riset sendiri, begitu pula mereka. Jadi kita bisa publikasi dan punya dua riset sekaligus, karena nama kami tercantum di kedua riset ini,” Amin bercerita.

Proses tersebut sudah dipersiapkan matang oleh Amin selam setahun terakhir. Amin juga dibantu mahasiswanya yang menghubungkannya langsung dengan peneliti di Tokyo Institute of Technology, kampus terbaik peringkat 54 di dunia.

Amin dalam World Class Professor meneliti energi terbarukan dengan mengembangkan bioethanol dari alga dan kandungan pati yang terkandung pada limbah pabrik gula.

“Kelebihannya, bioethanol ini ramah lingkungan dan bahan mentahnya mudah didapatkan. Limbah pabrik gula lumayan banyak dan mudah ditemui. Daripada tidak termanfaatkan, limbah itu bisa dijadikan bioethanol,” kata pria kelahiran Nganjuk 1967 ini.

Amin juga sedang dalam proses penelitian yang lain. Sedikit bocoran, Amin meneliti tanaman yang bisa menyembuhkan dan mencegah penyakit Autisme.

“Rahasia ya, ada itu nanti saya rilis pastinya. Masih penelitian ini. Asalnya dari buah mengkudu ya,” tutup pria yang juga menjabat sebagai ketua Lembaga Penelitian dan Pemberdayan Masyarakat (LPPM) UM itu.

Untuk diketahui, Amin mengambil pendidikan strata satu di Pendidikan Biologi, IKIP MALANG (1991), kemudian melanjutkan pascasarjana di jurusan Biologi, ITB Bandung (1997). Gelar doktoral di bidang Molekular Genetik didapatnya dari Martin Luther University Halle-Wittenberg Jerman (2003). Selain menjabat sebagai ketua LPPM UM, Amin juga guru besar UM di bidang Bioteknologi. Selain itu, Amin juga sebagai ketua dewan riset Kabupaten Malang.

Tahun 2016 lalu Amin berhasil menemukan cara menghasilkan bibit-bibit kerbau unggul dengan Teknik Molekular. Teknik ini dapat dipakai untuk memprediksi hasil persilangan dengan keturunan yang beragam atau tidak, sehingga upaya konservasi dapat dilakukan sesuai kaidah keilmuan genetik. Dengan Teknik Molekular, prosedur untuk memprediksi keragaman genetik suatu populasi menjadi lebih efesien dan sederhana.(Der/Yei)

Stray Cat Defender, Penolong Kucing Terlantar

Kegiatan SCD. (istimewa)
Kegiatan SCD. (istimewa)

MALANGVOICE – Perkembangbiakan kucing di tengah kota yang tak terkendali memaksa hewan berbulu ini kadang tersisihkan. Manusia yang tak ingin keberadaannya kadang memperlakukan kucing semena-mena, mengusir bahkan menyakitinya.

Tak jarang banyak kasus kematian kucing liar di perkampungan sering terjadi. Atau bahkan tertabrak di jalanan.

Beruntung, di Kota Malang terdapat Stray Cat Defender (SCD). Komunitas yang lebih mempedulikan kucing segala jenis yang mengalami masalah dengan memberikan aksi pembelaan hak hidup pada kucing sakit dan terlantar. SCD dibentuk pada 8 Agustus 2015 lalu, bertepatan dengan International Cat Day.

SCD prakarsai tiga orang atas dasar banyaknya kucing yang sakit dan terlantar serta maraknya animal abuse di Indonesia, khususnya Kota Malang.

Sejak pertama terbentuk hingga sekarang, SCD memiliki 12 anggota yang disebut skuat. Mereka kebanyakan berusia 20-28 tahun dan didominasi mahasiswa. Penanggung jawab SCD, Suci Cisika Putri, mengaku tidak terhitung jumlah kasus yang ditangani terhadap masalah kucing.

“Dari semua kasus itu ada yang selamat dan tidak. Serta ada pula yang sudah diadopsi atau dirilis kembali ke alam liar,” katanya pada MVoice.

Cisi sapaan akrabnya menjelaskan, beberapa kasus kucing yang pernah ditangani SCD antara lain, mengalami sakit parah seperti cancer, tumor, patah kaki, eyeball prolapse, pyometra, dan lain-lain.

SCD juga menangani kucing yang mengalami kasus animal abuse. Beberapa di antaranya yaitu Rambo yang perutnya diikat tali dan digantungi botol body lotion hingga berbulan-bulan. Selain itu Lucas, yang di dalam tubuhnya terdapat peluru hingga meninggal, namun sempat bertahan sekitar tiga bulan.

“Kucing didapat dari mana saja, khusus area Kota Malang. Kucing di’rescue’ jika tim menemukan kasus secara langsung atau menurut laporan dari orang-orang,” jelas Cisi.

Kucing yang direscue apabila sudah sembuh akan dicarikan adopter. Kucing yang disteril melalui program TNR (Trap-Neuter/Spay-Release) akan dilepas kembali di tempat asalnya atau tempat aman, karena tidak mungkin semua bisa ditampung. Program TNR bertujuan untuk mengendalikan populasi kucing di lingkungan sekitar.

Saat ini kucing yang dikeep si shelter berjumlah 24 ekor. Menariknya, SCD tidak mau memberikan lokasi shelter secara gambalng, pasalnya, menurut Cisi, hal itu bisa berdampak pada kelangsungan SCD.

“Kami pernah diusir karena tetangga tidak berkenan adanya banyak kucing. Selain itu bisa mencegah masyarakat membuang kucing di tempat kami,” paparnya.

Untuk menangani kasus over populasi, salah satu cara yang paling ampuh ialah sterilisasi yang dilakukan oleh dokter hewan dan memiliki banyak manfaat. Tidak disarankan untuk suntik KB karena sangat berbahaya bagi kucing. Selain itu, saat ini marak terjadi “breeding”, terutama kucing ras non domestic seperti Persia, Angora, dan sebagainya.

Alasan orang mengembangbiakkan kucing beragam, mulai dari keingingan orang untuk punya kitten yang lucu hingga untuk alasan ekonomi. “Jauh lebih baik kita mengadopsi dari jalan atau shelter daripada membeli. Untuk itu kami tak hentinya mengkampanyekan “adopt don’t buy!” tegasnya.

Selama ini, SCD tidak sendirian. Mereka ditolong para dermawan yang rutin memberikan donasi. Selain itu, lanjut Cisi, dana berasal dari swadaya tim dan usaha mandiri. “Kami menjual produk kreatif serta barang second yang layak pakai. Hasilnya digunakan untuk aktivitas rescue serta operasional tim,” ia menambahkan.

SCD berharap penyiksaan pada hewan lucu ini bisa berkurang. Sehingga penyelamatan juga berkurang. Beberapa kasus yang sering dialami soal kucing berpemilik ialah minimnya pengetahuan owner soal merawat kucing hingga kucingnya sakit bahkan terlantar, serta kucing yang dibiarkan beranak-pinak hingga owner kewalahan.

“Rescue adalah program jangka pendek. Sementara sterilisasi dan edukasi adalah program jangka panjang. Bumi bukan milik manusia saja. Adil dan berbagilah dengan makhluk hidup lain,” pesannya.(Der/Aka)

Bermodal Satu Kaki, Hasilkan Lukisan yang Bikin Kagum Andy F Noya

Saiful Arif saat diundang dalam bakti sosial penyerahan kaki palsu kerjasama Polres Batu dan Kick Andy Foundation. (Aziz Ramadani)
Saiful Arif saat diundang dalam bakti sosial penyerahan kaki palsu kerjasama Polres Batu dan Kick Andy Foundation. (Aziz Ramadani)

MALANGVOICE – Pria mengenakan batik warna biru tampak penuh konsentrasi saat menghadapi selembar kertas putih di atas meja. Dengan hati-hati, dia menggoreskan pensilnya, mulai menggambar sketsa di pelataran lobi Balai Kota Among Tani Kota Batu.

Yang membuat decak kagum, lelaki bernama Saiful Arif ini adalah seniman berkebutuhan khusus atau disabilitas. Tepatnya, ia dilahirkan tanpa dua tangan dan satu kaki kanannya. Sehingga, untuk beraktifitas melukis atau menggambar, dia menggunakan kaki kirinya. Andy F. Noya mengapresiasi semangat Saiful tersebut. Tepatnya saat kehadiran pria yang terkenal dalam acara Kick Andy itu dalam bakti sosial Polres Batu dan Pemkot Batu membagikan puluhan kaki palsu, 9 Agustus silam.

Saiful menghadiahi Andy dengan karya lukisannya yang mengambil objek lukis Andy F Noya. “Saya apresiasi karya Saiful ini. Nanti akan kami undang di Kick Andy,” kata Andy F Noya.

Bungsu dari lima bersaudara itu mengakui kalau dia harus bisa sukses dan berkarya. Hal itu juga sesuai dengan amanah almarhum ayahnya, Sukateman. Sejak ditinggalkan ayahnya dua tahun lalu, Ipul mendapatkan amanah bahwa ia harus menjadi seorang pelukis.

“Ayah sama ibu memang bukan pelukis. Tetapi ayah mendorong saya untuk menjadi pelukis,” kata akrab disapa Ipul ini.

Dunia seni dikenalkan ayahnya sejak Ipul berusia 9 tahun. Persisnya, almarhum Sukateman membelikan seperangkat alat lukis dan menggambar.

“Dari situ saya mulai suka menggambar dan melukis,” kenangnya.

Aktivitas yang ia lakukan, hampir ia kerjakan menggunakan kaki kirinya. Mulai dari membalikkan buku yang ia baca, terutama saat melukis. Namun, semula memang dia cukup kesulitan saat memegang pensil ataupun kuas. Begitu masuk di Yayasan Griya Anita pertengahan 2016 silam, bakat Saiful terus diasah. Terlebih dia mendapat guru lukis juga seniman ternama Kota Batu, Riyanto Sinyo.

“Paling sulit itu ya pas gambar wajah dan tangan. Karena harus detail. Tapi lama-lama saya terbiasa kok,” ujar domisili di Dusun Sumbersari, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu ini.

Kebiasan itu tidak lain buah dari seriusnya mempelajari dasar dasar melukis yang dibimbing Riyanto Sinyo. Bahkan , pada Septembar 2016, Saiful mengikuti pameran pertamanya di Galeri Raos Kota Batu.

Beberapa lukisannya bahkan diborong oleh Dewanti Rumpoko dan dipajang di Balai Kota Among Tani Kota Batu. Dua lukisan itu ialah, lukisan bertemakan anak-anak sekolah dan anak bermain.

“Saya ingin menunjukkan kalau anak seperti saya ini bisa berkarya. Makanya saya berusaha untuk terus berkarya dengan mengasah kemampuan melukis,” pungkasnya.(Coi/Aka)

Sukses Kampung 3G, Bukti Indonesia Raya Tak Cukup Hanya Dinyanyikan

Ketua RW 23 Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, Bambang Irianto, terpilih sebagai ikon prestasi Indonesia. (Bambang Irianto for MVoice)

MALANGVOICE – Nama Kampung Glintung Go Green (3G) Kota Malang telah dikenal banyak orang. Kawasan itu pun kerap menjadi percontohan berbagai wilayah lain, baik lingkup nasional maupun internasional.

Keberhasilan ini tak lepas dari sosok Bambang Irianto. Ketua RW 23 Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, itu berinisiatif mengubah pola hidup warganya hingga sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

Kiprah Bambang Irianto membuatnya terpilih sebagai satu dari 72 ikon prestasi Indonesia oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Penghargaan itu disematkan pada Festival Prestasi Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), 21 Agustus 2017 lalu.

Perjuangan bapak tiga anak itu bukan tanpa jerih payah. Bambang bahkan mengambil risiko mendapat cemooh warganya sendiri akibat pemikiran positifnya sempat tidak diterima. Semua itu bermula ketika ia terpilih sebagai Ketua RW pada 2012 silam.

Saat itu, Glintung terkenal sebagai kawasan kumuh dan kerap dilanda banjir. Secara demografi pun, banyak warga berstatus pengangguran, serta tingkat kesehatan amat rendah. “Saat itu, rata-rata warga tercekik rentenir. Satu-satunya prestasi di kampung saya adalah lomba memandikan jenazah,” cetusnya saat berbincang dengan MVoice belum lama ini.

Melihat kondisi demikian, hati Bambang terketuk untuk mengambil tindakan nyata. Dia mengaku, lagu Indonesia Raya menjadi inspirasi penting dalam setiap strategi yang dicanangkannya.

“Maka saya galakkan kesadaran. Pakai prinsip bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Warga harus sadar bangkit mandiri, meskipun tanpa uang sedikit pun. Harus ada penghijauan,” tegas suami Erni Handayani itu.

Bambang mengajak warga supaya rajin menanam. Kala itu, 90 persen warga menolak. “Karena tanpa uang, sedangkan warga inginnya uang,” lanjutnya. Praktis, dia menggunakan metode lain, yakni menanfaatkan kekuasaannya sebagai Ketua RW.

Stempel dan tanda tangan Ketua RW menjadi senjata jitu bagi Bambang untuk menggugah kesadaran warganya. Betapa tidak, setiap pengurusan administrasi mulai kelahiran hingga kematian, harus melalui pengantar RT/RW.

“Ada yang mau menikah, saya lihat rumahnya tidak ada tanaman, tidak usah menikah. Ada yang mau melahirkan juga begitu. Saya bilang tidak usah, habis-habisin oksigen saja. Harus menanam dulu baru saya beri stempel,” beber pria kelahiran Malang, 5 Mei 1957 tersebut.

Hobi Membaca Tarot Kerap Dipandang Sebelah Mata, Ini Cerita Hezza

Foto Hezza Sukmasita. (istimewa)

MALANGVOICE – Banyak media baik TV, radio, koran, dan majalah menayangkan ramalan dengan menggunakan kartu Tarot. Banyak yang tertarik, namun mungkin tidak banyak yang mengetahui apa itu kartu Tarot. Selama ini ramalan Tarot identik dengan kaum gypsi atau orang Romani.

Jika Anda sendiri kurang mengerti tentang seluk beluk ramalan kartu Tarot ini bisa dimaklumi, karena ramalan ini lebih populer di dunia metafisik barat.

Dari pelbagai sumber menyebut bahwa kartu Tarot berasal dari Italia. Awalnya, kartu itu bernama Carde da Trionfi atau kartu kejayaan. Tarot mempunyai beberapa gambar atau simbol yang punya makna masing-masing.

Kartu set Tarot paling populer kini adalah Tarot-Rider-Waite-Smith. Dalam satu set kartu Tarot terdapat 56 kartu Minor Arcana dan 22 Major Arcana. Hingga saat ini, Tarot dipercaya memiliki kemampuan meramal masa depan, membaca nasib, atau mencari peruntungan di

Membaca kartu Tarot atau kartu ramal di Indonesia mulai banyak diminati karena selain seru, mereka yang menekuni hobi ini bisa membaca dan memprediksi kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Ialah Hezza Sukmasita, wanita asal Yogyakarta yang kini tinggal di Malang, mengenal kartu Tarot atau kartu dengan gambar-gambar bermakna sejak 2012.

Hezza, akrab dia disapa, mengaku penasaran seberapa berpengaruh tarot dengan keadaan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diprekdisikan. Selain itu, membaca Tarot sangat mengasyikkan dan tentunya terlihat keren.

“Ya cewek baca tarot kan keren gitu ya,” kata dia saat dihubungi MVoice, Kamis (1/9).

Hezza mempelajari cara membaca tarot lewat buku. Arti-arti kartu Tarot dia pelajari satu persatu sambil terus mempraktikkan.

“Tidak ada kesulitan kalau belajar. Tapi kalau praktiknya yang kadang capek, jadi bacanya ngasal aja. Baca tiga orang saja udah capek,” lanjut wanita kelahiran 1990 ini.

Kini Hezza sudah membaca ratusan orang. Banyak teman barunya yang tertarik untuk dibaca Hezza. Wanita berkerudung ini juga punya pengalaman menarik soal Tarot.

Suatu hari, temannya memintanya untuk dibacakan Tarot soal karier. Percaya tidak percaya, ternyata apa yang dibacakan Hezza tidak ada yang meleset. Teman Hezza mendapatkan posisi terbaik di tempatnya bekerja meski harus merelakan sesuatu yang paling di’sayang’ temannya itu.

“Temanku itu akhirnya sangat berterima kasih dan memberi sejumlah uang. Tapi aku tidak ada niat mengkomersilkan Tarot kan, jadi uangnya aku balikin aja,” kata Hezza.

Demikian, Hezza kerap mendapat respon negatif dari lingkungan sekitarnya. Tidak sedikit orang yang memandang sebelah mata soal hobi membaca kemungkinan itu. Menurut Hezza, Tarot adalah sahabat dan media untuk memotivasi orang. Sadar atau tidak disadari, Tarot reader selalu memberikan sugesti untuk klien agar melakukan hal positif dari setiap hasil bacaan Tarot.

Bagi mereka yang ingin belajar Tarot, Hezza menuturkan untuk tidak berhenti membaca buku soal Tarot dan juga praktik. Menurutnya, semakin besar rasa ingin tahu seseorang soal tarot dan juga arti-arti tiap kartunya, maka lebih muda juga bagi orang itu untuk mempelajarinya. Sabar tentu jadi kunci utama untuk menguasai cara baca kartu tarot.(Der/Yei)

Komunitas