Hentikan Pengiriman PRT ke 21 Negara

Agusdin Subiantoro, Deputi Penempatan BNP2TKI. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Indonesia menghentikan pengiriman pembantu rumah tangga (PRT) ke 21 negara. Hal ini akibat perlindungan di negara tujuan belum memenuhi standar yang diharapkan.

“Kalau di negara-negara Timur Tengah sudah kita hentikan secara bertahap dimulai tahun 2009, tahun 2011 ada, dan puncaknya adalah 21 negara pada tahun 2015,” ungkap Deputi Penempatan BNP2TKI, Agusdin Subiantono di Batu, Rabu (5/8).

Agusdin menjelaskan. penghentian tenaga kerja hanya untuk PRT dan pekerjaan non profesional lainnya. Sementara untuk bidang pekerjaan formal,Y tetap dipertahankan.

“Kalau di negara lain, misalnya di Timur Tengah itu kan ada warga kita yang menjadi pilot, kerja di migas, ahli perbankan, dan driver. Hanya PRT yang kita hentikan,” tambah Agusdin.

Sampai kapan penghentian pengiriman PRT? Agusdin tidak memberikan penjelasan. Ia hanya mengatakan bahwa penghentian pengiriman PRT jangan dikaitkan dengan penganiayaan.

” Tetapi bahwasanya standar perlindungan di negara tersebut belum bisa memenuhi standar yang kita inginkan,” tegasnya.

Karawitan Bergaung Kembali di Gedung Dewan

Ketua DPRD berbaur dengan angggota karawitan pakarti di gedung dewan (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Pemandangan menarik terjadi di dalam gedung DPRD Kota Malang, Selasa (4/8) sore. Para anggota Pakarti Kota Malang datang untuk berlatih musik karawitan di gedung wakil rakyat tersebut.

Lantunan lagu-lagu khas Jawa seperti Caping Gunung, Sambel Terasi, dsb, didendangkan sangat baik oleh perkumpulan mantan pegawai negeri sipil (PNS) tersebut.

Dapat berlatih kembali di gedung DPRD, merupakan sebuah hal yang sangat dinantikan oleh para anggota Pakarti. Pasalnya, selama bertahun-tahun mereka berlatih di kawasan rumah potong hewan (RPH) Gadang yang dianggap kurang representatif.

Ceritanya, sebelum mereka berpindah latihan ke kawasan Gadang, gedung DPRD adalah markas mereka untuk berkumpul dan berlatih. Lantaran ada pembangunan gedung DPRD beberapa tahun lalu, mereka harus berpindah tempat.

Magdalena Sri Supatmi, salah seorang anggota Pakarti mengatakan pihaknya berterima kasih kepada Ketua DPRD, Arif Wicaksono, lantaran telah memperjuangkan kembali gedung dewan digunakan untuk latihan karawitan.

Selama ini, mereka merasa kesulitan, lantaran lokasi latihan di Gadang cukup jauh dan sulit dijangkau oleh kendaraan umum.

“Alhamdulilah seneng sekali bisa berlatih di gedung ini, karena tempatnya sangat nyaman sekali,” ungkap Magdalena kepada MVoice.

Ia menerangkan, Pakarti selalu latihan rutin satu minggu sekali pada hari Selasa sore. Selain ajang silaturahim, bermain musik karawitan juga merupakan hal yang perlu dilestarikan agar budaya asli tidak tergerus modernisasi.

“Ini adalah sarana kami bersosialisasi dan juga mempertahankan budaya karawitan,” tandasnya.

Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono, yang turut hadir melihat latihan perdana Pakarti di gedung dewan merasa sangat senang bisa memfasilitasi untuk menghidupkan kembali budaya lokal.

“Ini adalah upaya wakil rakyat memfasilitasi mereka, karena saya tahu sendiri lokasi latihan mereka di kawasan RPH tidak representatif,” kata Arif.

Sekertariat dewan, lanjut Arif, bahkan membantu Pakarti dengan membangun panggung kecil sebagai tempat alat musik. Tak hanya itu, karena kondisinya yang sudah tidak diperhatikan lagi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Ia meminta agar satu set alat itu diserahkan kepada sekertariat dewan.

“Nanti akan kami minta untuk diserahkan kepada Sekwan, biar kami anggarkan biaya perawatannya,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.

“Perkumpulan Pakarti ini sejak saya jadi dewan tahun 2004 lalu sudah ada dan sering latihan, hal positif ini perlu kita lestarikan,” kata dia.

Arif juga pernah geram, lantaran alat karawitan tidak ada di gedung dewan dan sempat melacak keberadaanya. Dalam usaha mencari alat tersebut, akhirnya ia bertemu dengan salah satu anggota Pakarti. Dari situlah, sebagai ketua dewan ia berusaha ‘memulangkan’ kembali alat karawitan ke gedung DPRD dan memfasilitasi mereka berlatih.-

Makin Matang, Malang Post Lebarkan Sektor Usaha

Sejumlah petinggi Malang Post (Istimewa)

MALANGVOICE – Memasuki usia ke-17, Malang Post dinilai sudah menjadi media yang cukup matang. Berawal dari jerih payah para pendirinya, kini Malang Post telah disegani berbagai kalangan.

Bahkan, Malang Post berhasil membidani lahirnya Malang Ekspress. Senior Editor Malang Post yang juga Direktur Malang Ekpress, Sunavip Ra Indrata, mengatakan, usia 17 tahun menjadi tonggak bagi Malang Post untuk berbuat apa saja.

“Kalau aturan yang berlaku, usia 17 tahun itu boleh melakukan apa saja. Tonggak ini dipakai Malang Post untuk lebih berperan di semua hal. Tidak sekadar menyajikan informasi, tapi juga berkiprah di sektor yang lain, agar keberadaan MP, tidak hanya sebatas koran atau gudang informasi, tapi juga sekaligus teman di semua hal,” ungkapnya.

Wakil Ketua PWI Malang Raya itu menambahkan, Malang Post hadir bagi semua strata dan golongan, termasuk menjadi bagian dari masyarakat dan mewarnai kemajuan Malang Raya yang kian pesat.

Ke depan, Malang Post ingin menambah sektor usaha. Melalui perusahaan milik karyawan, PT Mitra Prima Cendekia, pengembangan usaha dimulai dari sisi EO, travel dan pelatihan-pelatihan berbasis kemasyarakatan. “Ke depan, juga akan sinergi dengan pengembangan radio, televisi dan online. Tapi muara dari itu semua adalah lebih membumikan Malang Post di Malang Raya,” pungkasnya.

Sementara itu, Dirut Malang Post, H Juniarno D Purwanto, mengapreasi kinerja karyawannya yang telah menorehkan berbagai prestasi. Ia menyebut, sejumlah ide Malang Post telah menjadi ikon penting di Malang.

“Seperti Pasar Wisata Tugu, Senam Rampal, maupun M-Teens School Competition, sampai sekarang membekas di hati masyarakat dan selalu dinanti-nanti,” tambahnya.

Konsisten Kawal Isu Kampus

MALANGVOICE – Selain media massa yang sudah mapan, media massa mahasiswa rupanya perlu diapresiasi. Apalagi media mahasiswa di Malang sudah konsisten mengawal kebijakan dan isu kampus secara bertanggung jawab.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), Abdus Somad, mengatakan bahwa kondisi pers mahasiswa di Kota Malang secara umum kondisinya baik. Apakah itu secara pemberitaan yang sudah konsisten, pola wacana yang di sampaikan ke publik kampus, sampai pada pengawalan isu kampus itu sendiri.

“Mereka masih semangat memperjuangkan aspirasi rakyat,  dan semangat idealisme masih menjadi pegangan mereka dalam bergerak di segara penjuru. Hal ini ada pada aspek pemberitaan maupun dalam aspek gerakan mahasiswa,” ungkapnya kepada MVoice, Selasa (28/7).

Sekjen yang saat ini tinggal di Yogyakarta tersebut juga mengapresiasi kondisi pers mahasiswa di Malang yang sudah banyak melakukan inovasi. Inovasi itu, lanjutnya, ada dalam bidang peralihan media dari cetak ke media online.
Bahkan, banyak juga yang sudah memanfaatkan jejaring sosial untuk share produk dan hasil karya mereka.

“Ini sebuah terobosan bagus dari persma (pers mahasiswa -red) Malang. Tetap idealis walaupun  jaman terus berkembang”tandasnya.

Perkuat Silaturahmi, WNI di Australia Sajikan Panggung Apresiasi

Semarak Lebaran yang dirayakan WNI muslim di Australia

MALANGVOICE – Meski telah terlewati, semarak Lebaran masih menyisakan cerita tersendiri bagi warga negara Indonesia (WNI) muslim yang tinggal di Australia.

Para perantau penghasil devisa itu memiliki cara tersendiri dalam merayakan Idul Fitri, setelah sebulan penuh berpuasa di tengah musim dingin Negeri Kangguru.

Dipelopori komunitas Kajian Islam Adelaide (KIA), WNI muslim di Australia menggelar halal bi halal dengan menyajikan panggung apresiasi pelajar Indonesia yang tinggal di sekitar Adelaide. Kegiatan  digelar di Flinders University, Australia Selatan, Sabtu (18/7) lalu.

Ketua KIA, Dwi Irnando, menyampaikan, tujuan digelarnya kegiatan itu sebagai ajang silaturahmi dan saling memaafkan. Dia juga memberi penjelasan tentang komunitas muslim WNI.

“Kajian Islam Adelaide atau KIA berdiri sejak 2008 dan telah menjadi wadah silaturahmi mempertemukan berbagai umat Islam Indonesia yang ada di Australia Selatan,” jelasnya, dalam siaran pers yang diterima MVoice.

Acara yang dikemas santai itu juga dihibur kelompok rebana Elmusafir yang membawakan lagu-lagu religi berbahasa Arab, seperti Salawat untuk Rasul Muhammad maupun lagu religi berbahasa Indonesia. Selain itu, mereka juga membawakan lagu daerah seperti Manuk Dadali (Jawa Barat).

Sebagai pelengkap acara, makanan yang disajikan juga khas Lebaran seperti opor ayam, ketupat, rendang, dan berbagai jenis makanan Indonesia lainnya. “Memang kami ingin mengajak anak-anak dan pengunjung dewasa menikmati nuansa Lebaran layaknya di Indonesia,” pungkasnya.

Komunitas