Adopsi Anak Tidak Mudah

MALANGVOICE – Ingin punya anak hasil adopsi ternyata tidak mudah, karena persyaratannya rumit dan harus lengkap.

“Kalau mau mengadopsi kita sidang juga lho, bukan persoalan rasa antar kemanusiaan saja tapi hukum negara juga,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batu, Maulidiono saat berbincang dengan MVoice, Kamis (3/9).

Jika anak yang hendak diadopsi masih memiliki orang tua, kata Maulidiono, maka harus ada surat persetujuan dari wali orang tua. Itu nanti yang akan dijadikan dasar pengubahan akte lahir dengan nama ayah yang baru.

Namun, bila anak tersebut dari panti asuhan selain adanya surat izin tertulis berupa surat keterangan panti asuhan, juga akan dilakukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh kepolisian setempat baru kemudian mengurus di Dispendukcapil.

“Kalau anak yatim misalnya, ada yang jelas nama orang tuanya, ada yang tidak jelas nama orang tuanya yang kemungkinan dititipkan atau dibuang. Itu kita penuhi haknya sebagai warga negara, yaitu pengurusan dokumen ini,” tambahnya.

Bahkan pernikahan siri yang anaknya tidak bisa dibuatkan akte lahir juga akan merepotkan. “Kita harus mulai pencatatan sipil nikahnya dan buat akte lahir anak. Intinya ada proses, kalau tidak sabar ya bilangnya rumit,” tandas Kadispendukcapil.-

Pamerkan 9 Koleksi, Museum Angkut Primadona IIMS

Manajer Operasional Museum Angkut, Titik S Ariyanto saat bercerita diruangannya. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Museum Angkut Kota Batu tidak hanya menarik wisatawan, namun juga menpesona profesional, kolektor, dan publik di Jakarta. Dalam event Indonesia International Motor Show (IIMS) yang digelar di JIExpo Jakarta, museum Angkut mengikutsertakan sembilan kendaraan klasik pilihan, yakni empat mobil dan lima motor.

Adapun empat mobil kuno tersebut adalah Roll Roys Silver Shadow tahun 1974, Dodge Depot tahun 1934, Bentley tahun 1952, dan Austin Healy tahun 1951. “Kalau Bentley ini sekelas dengan yang dipakai Ratu Diana di Kerajaan Inggris. Kemudian Dodge Depot ini masih bisa menyala sehingga membuat heboh pengunjung,” kata Manajer Operasional Museum Angkut, Titik S Ariyanto kepada MVoice, Senin (24/8).

Titik menceritakan banyak orang yang geleng-geleng dengan koleksi Museum Angkut, bahkan mendapatkan kunjungan potensial dari Hotman Sitompul, Hauke, dan juga Roy Suryo yang tergabung dalam Perhimpunan Mobil Kuno Indonesia (PMKI).

Bahkan, beberapa orang yang faham sejarah mobil kuno sampai heran ada mobil Austin Healy yang pernah menghebohkan dunia karena mendapatkan predikat kecelakaan termahal dengan korban meninggal 83 orang di Perancis.

“Tapi bukan mobil ini, ya sama aja. Karena mobil yang kecelakaan itu sudah dilelang,” cerita Titik sambil tertawa.

Sementara koleksi sepeda motor yang turut dipamerkan adalah BSA Roundtank tahun 1925, MV Agusta tahun 1950, Ariel tahun 1961, Ambassador tahun 1960, dan Nimbus 4 silinder tahun 1954.

“Bahkan beberapa orang sampai bisik-bisik ingin membeli kendaraan ini. Namun saya tegaskan bahwa ini milik museum untuk pameran, tidak dijual,” kata Titik.

Ia sendiri mengakui bahwa pihaknya diundang menghadiri IIMS karena publik sudah kadung booming dengan adanya Museum Angkut di media sosial. “Saya datang sekaligus bisa dikatakan sebagai Duta Wisata Kota Batu. Saya membawa informasi soal PHRI, Jatim Park Group, dan Museum Angkut sendiri,” tandasnya.-

Pola Makan Salah Rentan Terkena Osteoarthritis

Yudi Suyyud (kiri)

MALANGVOICE – Penyakit degeneratif tulang sendi atau dalam dunia medis dikenal sebagai Osteoarthritis (OA), ternyata juga menyerang pada usia produktif atau di bawah usia 45 tahun

Senior General Manager Medical Combiphar, Yuddi Suyyud menjelaskan, gaya hidup anak muda yang tidak sehat baik melalui lifestyle maupun makanan, dapat menumbuhkan penyakit ini sejak dini.

“Salah satu yang sering terkena penyakit ini adalah wanita, karena kebanyakan mereka memakai high heels,” kata Suyyud, Sabtu (22/8).

Dijelaskan, pemakaian high heels yang terlalu berlebihan dapat mengganggu tulang persendian utamanya lutut. Berbagai penelitihan menyebut, sebagian besar mereka pemakai high heels mengalami banyak gangguan.

“Selain high heel masalah lain adalah makanan, ini juga penting karena penyakit OA bisa disebabkan karena makanan,” bebernya.

Dijelaskan, konsumsi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat berlebih bisa menjadi penyebab utama penyakit OA.

“Makanan olahan atau makanan kaleng dan asam lemak jenuh, bisa menjadi penyebab termasuk pula garam,” imbuhnya.

Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat agar mengkonsumsi buah dan sayuran, omega 3, minyak zaitun dan perbanyak konsumsi vitamin D untuk mencegah terjadinya OA.

“Untuk pengobatan Combhipar selaku produsen obat memiliki produk hyalone bagi mereka yang menderita OA ini,” tegasnya.-

Tips untuk Manula, Waspadai Penyakit OA

Bagus Putu Putra

MALANGVOICE – Osteoarthritis (OA), penyakit degeneratif sendi tulang yang umumnya diderita pasien usia lanjut, kini menjadi momok tersendiri dalam dunia medis.

Pakar penyakit reumatologi, Bagus Putu Putra Suryana mengatakan, sekitar 70 persen manusia yang berusia 60 tahun mengalami OA pada sekitar lutut mereka.

“Ada beberapa gejala OA salah satunya adalah nyeri sendi, krepitasi, kaku sendi, serta gangguan aktifitas,” kata Bagus Putu dalam Combihealth forum, Sabtu (22/8) di Malang.

Dijelaskan, selain menyerang kaki, OA juga mengena pada bagian tangan, punggung, tulang panggul. Khusus mengena tulang panggul, penyakit OA ini menyebabkan pasien tidak bisa berjalan.

Lebih lanjut, Putra memaparkan, beberapa faktor termasuk usia, kegemukan, jenis kelamin wanita, faktor genetik serta cidera sendi, merupakan penyebab utama timbulnya penyakit ini.

“Penyakit ini juga bisa menyerang mereka yang berusia di bawah 45 tahun,” imbuhnya.

Karenanya, guna mencegah timbulnya penyakit OA sejak dini, perlu dilakukan beberapa tindakan, termasuk mengkontrol berat badan, olahraga teratur serta pencegahan cidera sendi. “Cara terbaik adalah mencegah sejak dini,” terangnya.-

Melatih Kesimbangan Otak Kanan dan Otak Kiri

Peserta festival egrang saat berjalan disaksikan masyarakat Kota Batu. (Fathul/MalangVoice)

MALANGVOICE – Permainan tradisional sudah mulai ditinggalkan. Saat ini, anak-anak dimanjakan dengan game cyber yang mengurangi pergaulan sosial mereka.

Hal inilah yang menjadi dasar diadakannya Festival Egrang dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-70 oleh Pemerintah Kota Batu pada Rabu (19/8) siang hingga sore.

“Saat ini anak-anak kecil lebih suka bermain dengan gadget mereka dibandingkan dengan permainan tradisional, karena itulah kita menggagasnya,” kata Ketua Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Kota Batu, Eni Rahayuningsih.

Maka dari itu, partisipasi siswa-siswi sekolah di Batu ini sangat diapresiasinya. Karena ternyata, masih banyak yang peduli dengan budaya tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia.

Jika dipikirkan secara mendalam, egrang bukan hanya sebuah permainan penghilang suntuk. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari permainan tradisional ini.

Bila kita perhatikan, orang yang bermain egrang membutuhkan keberanian lebih saat hendak menaiki bambu penopang. Setelah naik, ia harus terus maju karena jika berhenti maka ia akan jatuh.

Seperti yang dijelaskan oleh Wakil Ketua II PHBN Bidang Non Kenegaraan Kota Batu, Drs Achmad Suparto. Bahwa bermain egrang membutuhkan kemampuan untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri.

“Dalam dunia olahraga seni bermain egrang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara gerak motorik dan psikomotor,” ungkap Achmad kepada MVoice, Rabu (19/8).

Ia melanjutkan bahwa dalam bermain egrang, dibutuhkan satu kesatuan gerak tubuh dan intelektual sehingga bisa berdiri, berjalan, dan pada akhirnya adalah tercapainya tujuan.

Seni egrang memang jenis permainan yang populer di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Bahkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan beberapa daerah di Sulawesi, egrang masih berkembang hingga saat ini.

Sayangnya, belum ada literasi yang menyebutkan asal muasal permainan egrang. Namun dari sumber di internet, disebutkan bahwa “egrang” berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang.

Sementara dari daerah Sumatera Barat, egrang dikenal dengan nama “tengkak-tengkak” dari kata Tengkak atau pincang. Untuk bahasa Bengkulu disebut Ingkau yang berarti sepatu bambu.

Ada juga yang menyebut egrang sebagai Jangkungan di Jawa Tengah yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Lalu dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan, egrang disebut Batungkau.

Salah satu warga yang ikut menikmati Festival Egrang tersebut, Evi, mengakui bahwa permainan egrang membutuhkan ketekunan karena ia sering menyaksikan anaknya bermain.

“Anak saya belajar tiap hari kalau di rumah. Ia butuh seimbang dan latihan terus menerus. Saya setuju bahwa Egrang bukan sekedar bermain, apalagi di motori oleh guru-guru sekolah,” tandasnya.-

Egrang Punya Banyak Filosofi

Peserta festival egrang saat berjalan disaksikan masyarakat Kota Batu (Fathul/MalangVoice).

MALANGVOICE – Pemilihan egrang sebagai sebuah festival di Kota Batu, karena mengandung banyak filosofi.

Wakil Ketua II PHBN Bidang Non Kenegaraan Kota Batu, Drs Achmad Suparto menjelaskan, bahwa keunikan bermain egrang adalah mampu membangkitkan tantangan.

“Seni bermain egrang tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan fisik semata, namun juga harus didukung oleh keseimbangan otak kanan dan kiri,” ungkap Achmad kepada MVoice.

Falsafah lainnya, jelas Achmad, adalah bermain egrang membutuhkan kesatuan gerak tubuh dan intelektual sehingga peserta bisa berdiri.

Serta dengan kesatuan tubuh dan intelektual juga, maka peserta bisa berjalan. “Lalu dengan kesatuan tubuh dan intelektul ini pula, kita bisa mencapai tujuan,”tandasnya.-

KPPI Berharap Jangan Direalisasi

Ketua KPPI Kota Malang, Ya'qud Ananda Gudban.

MALANGVOICE – Keputusan Kementerian Pertahanan yang membolehkan PNS di lingkungannya berpologami, sangat disayangkan oleh Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Malang.

Tanpa ingin membenturkan aturan agama dan aturan hukum, Ketua KPPI,Ya’qud Ananda Gudban berharap agar putusan itu tidak direalisasi.

“Kalau kami melihat aturan mengenai hal itu (Poligami PNS) sebenarnya sudah jelas, jadi saya harap agar tidak direalisasi Kemenhan,” kata Nanda kepada MVoice, Sabtu (15/8).

Dijelaskan, harusnya segala aturan mengenai PNS sebaiknya jadi satu dengan aturan yang ada di Kementeriam Pendayagunaan Apartur Negara (Kemenpan), sebab bila aturan poligami dibolehkan salah satu kementerian bukan tidak mungkin akan diikuti instansi lainnya.

“Harusnya ada sinkronisasi antar kementerian, jadi aturan untuk PNS bisa seragam,” tandasnya.

Seperti diketahui dalam Surat Edaran Nomor SE/71/VII/2015 dengan judul “Persetujuan/Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai di Lingkungan Kemhan” itu, terdapat aturan PNS boleh berpoligami dengan syarat-syarat tertentu.

Ada tiga syarat kumulatif yang membolehkan PNS di lingkungan Kemenhan untuk berpoligami.-

Wali Kota Minta Yayasan Poltekom Dibenahi

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, HM Anton, mengimbau pihak Politeknik Kota Malang (Poltekom) agar segera memperbaiki kepengurusan yayasan.

Bila yayasan tetap dalam kondisi seperti saat ini, maka Pemkot Malang tidak bisa menggelontorkan anggaran untuk kampus tersebut.

“Secara administrasi tidak dibenarkan jika yayasan atas nama pribadi lalu digelontor dana dari pemerintah, nanti salah kaprah,” kata Anton, Jum’at (14/8).

Ia menjelaskan, seharusnya, yayasan segera diserahkan kepada Pemerintah Kota Malang agar status Poltekom segera bisa dicarikan jalan keluar. Karena, bila yayasan masih atas nama pribadi maka temuan BPK akan menghiasi hasil audit pada tahun mendatang.

“Pemakaian dana APBD tidak boleh salah sasaran, jadi kita tata dulu bagaimana soal kepengurusan yayasan,” imbuhnya.

Selama ini, lanjut Anton, pembina yayasan itu diatasnamakan secara pribadi tanpa disebutkan adanya jabatan wali kota di dalamnya. Karenanya ia berharap ke depan kepengurusan Poltekom harus ditata dengan baik.

“Masalah anggaran kita akan kaji lagi, yang jelas struktur yayasan harus dibenahi dulu, karena kita gak boleh nutup lembaga pendidikan” bebernya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Malang, Wasto mengaku masih mencari cara agar Poltekom bisa secara legal mendapat dana dari APBD.

Dua cara terdekat yakni dengan menjadikan Poltekom sebagai Badan Layanan Umum (BLU) atau membentuk yayasan Pemkot.

“Kita akan kaji bagaimana jika Pemda mengelola perguruan tinggi, tentunya solusi ini butuh referensi dan informasi dari segala hal, termasuk konsekuensinya bagaimana,” beber Wasto.

Mengenai pendanaan Poltekom sampai akhir tahun ini? “Kalau pakai anggaran APBD untuk talangan jelas tidak mungkin karena sudah ada peruntukannya. Nanti kita akan pikirkan solusi untuk anggaran, manakala yayasan sudah beres” jelas Wasto.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Malang menghentikan anggaran Poltekom, lantaran temuan BPK tidak memperbolehkan Dinas Pendidikan membawahi perguruan tinggi.

Konsekuensinya, saat ini kampus dengan 300 mahasiswa ini menjadi terkatung-katung dari segi pendanaan gaji karyawan. Meski setiap mahasiswa dikenakan SPP, namun hasil itu hanya mampu digunakan untuk biaya operasional kampus.-

Omah Munir Ajarkan Pendidikan HAM

MALANGVOICE – Omah Munir punya cita-cita kuat untuk memasukkan mata pelajaran pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Kini, mereka membuat sebuah modul pendidikan HAM yang nantinya akan dimasukkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di dua kota, Batu dan Bogor sebagai pilot project pendidikan HAM.

“Kita fokus pendidikan HAM kepada masyarakat, kepada siswa, atau audience yang berdialog dengan kami secara khusus,” ungkap Direktur Eksekutif Omah Munir, Salmah Safitri kepada MVoice, Kamis (13/8).

Salmah mengatakan bahwa ia telah membangun kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu jauh-jauh hari, termasuk dialog dengan guru PKN dari sekolah yang bersangkutan terkait modulnya tersebut.

Tidak sampai disitu saja. Salmah juga menjajaki kerja sama dengan Kementrian Agama untuk memasukkan pendidikan HAM di SMP-SMP. Salmah berharap agar ke depan, anak-anak sudah faham terkait HAM sehingga bisa menjaganya.

“Di Kota Batu ini kita kerja sama dengan SMP Negeri 1 dan MTs Surya Buana, sedangkan di Bogor kami ada di SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2,” jelasnya.

Mengenai alasan pemilihan anak-anak SMP dan bukannya SMA atau SD sebagai project pendidikan, Salmah menjelaskan bahwa sesuai riset kepada anak SMP didapat kesimpulan jika mereka lebih bisa faham kondisi HAM dan masih bisa dibentuk.

“Kita mulai dengan SMP, nanti kalau sudah expert mungkin bisa berlanjut ke tingkat lainnya. Mungkin SD nanti ke depannya”jelasnya lebih lanjut.

Adapun modul pendidikan HAM tersebut akan dilaunching pada akhir bulan ini di Batu dan di Bogor. Apalagi respon guru PKN terhadap modul tersebut dinilai Salmah sangat positif.

“Mereka senang, bahkan sudah diuji cobakan dan try out itu siswa-siswanya senang. Karena kita susun modulnya untuk memudahkan guru, dan kepada siswanya pakai cara play. Jadi tidak terasa mereka juga belajar,” sambung Salmah.

Karena fokusnya pada pendidikan HAM, maka Salmah menegaskan bahwa dari Omah Munir tidak bisa serta merta bisa diminta oleh publik untuk membeberkan kasus HAM yang sudah diselesaikannya, atau juga untuk mengadvokasi orang yang dilanggar HAM-nya.

“Kalau turut serta menandatangani petisi, atau mendukung gerakan moral tertentu itu bisa kami lakukan karena itu bagian dari pendidikan. Publik perlu dididik terus menerus dalam hal ini,” jelas Salmah.

Kata Salmah, bersama-sama dengan publik ia akan terus menagih janji pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM yang terjadi melalui petisi dan gerakan moral.

“Omah Munir hanya ada di Batu, tapi bahwa yang ikut bekerja untuk Omah Munir itu ada yang di Jakarta, Surabaya, dan banyak sekali volunteernya,” ungkap Salmah.

Volunteer dan organisasi HAM pendukung Omah Munir inilah yang biasanya melakukan advokasi atau pendampingan pelanggaran HAM. Sedangkan Omah Munir fokus ke pendidikannya.-

Sukses ‘Trisula’ Kota Malang, Suksesnya Rock Kemerdekaan

salah satu band yang tampil di pre event (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Mega konser ‘Rock Kemerdekaan’ bisa diselenggarakan karena adanya dukungan berbagai stake holder yang ada di Kota Malang.

Konser yang bakal digelar di depan Kantor Balai Kota Malang ini, digagas oleh tiga tokoh yakni, Wali Kota Malang HM Anton, Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh, Gus Lukman dan Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) yang juga pemimpin dkross, Ade Herawanto.

Salah seorang rocker, yang juga panitia acara ini, Nonot Yudho, mengaku bangga karena ada pihak yang masih peduli pada musik rock di Kota Malang.

Acara ini juga didukung oleh Dandim dan Kapolresta Malang, ”Jadi kami mewakili rockers mengucapkan terima kasih atas dukungannya,” ucap Nonot.

Personel Band Predator ini menambahkan, dalam acara pre event yang digelar selama tiga hari ini, rupanya banyak diikuti oleh grup band pendatang baru, disamping band rock yang sudah punya nama.

“Kebanyakan band yang ikut adalah band baru, jadi ini sangat bagus bagi regenerasi musik rock Kota Malang,” tandasnya.

Komunitas