Tangkal Radikalisme dengan Kebersamaan

0
20
Heri Kiswanto

Oleh : Heri Kiswanto *)

TEROR yang sedang melanda ibu Kota Jakarta tak menyurutkan semangat kebersamaan antar seluruh penduduk di Tanah Air untuk tetap saling support dan menguatkan satu sama lain. Ini bukti bahwa keberadaan masyarakat kita tidak gentar menghadapi situasi kurang kondusif yang terjadi.

Terbukti, hastag (tanda pagar) bertuliskan #Kami Tidak Takut, #Jakarta Kuat, #Jakarta Berani, yang dibuat netizen kini juga marak. Itu menggambarkan sikap tenang masyarakat yang sedang di tengah posisi genting perkotaan yang melanda, begitu nyata dan benar. Apalagi seruan pengguna sosial media dan ajakan positif melawan teror, sudah tidak diragukan lagi keberaniannya.

Bahkan, berjarak ratusan meter dari berlangsungnya rentetan aksi pengeboman dan penembakan, berdiri seorang pedagang sate dan kaki lima menjajakan dagangannya. Di sisi lain, hal ini mengakibatkan korban jiwa dan ancaman keamanan yang menuntut kewaspadaan setiap saat, kapan dan dimanapun.

Isu radikalisme mengatasnamakan agama yang berujung pengeboman, sebelumnya telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Yang lebih terkenal adalah bom Bali I dan II, yang dilakukan kelompok Amrozi dkk. Pada kejadian itu, banyak warga lokal dan luar negeri menjadi korban.

Selain itu, peristiwa serupa yang tak kalah menggemparkan situasi keamanan lain adalah peristiwa bom pada 2003 serta serangan bunuh diri pada 2009 silam di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, Jakarta. Hingga keberadaan jaringan terorisme yang berbaur di lingkungan kita, perlu ditanggulangi dengan intens dan hukuman berat.

Pasalnya paham-paham itu tidak sesuai dengan kesusilaan, pluralitas, bahkan ideologi Pancasila dan kerukunan umat beragama, serta bisa memecah belah sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di bumi pertiwi.

Gerakan Islamic state (ISIS), NII, Jamiyah Islamiah (JI) maupun guncangan bom akhir-akhir ini, jauh dari kepribadian bangsa yang senantiasa menghargai perbedaan keyakinan dan agama. Seperti dalam Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna, “Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan”, yang secara luas diartikan sebagai salah satu keragaman masyarakat Indonesia yang plural.

Artinya, dalam menselaraskan kemajemukan masyarakat di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, adat istiadat, budaya dan agama diperlukan kebersatuan. Sebab, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan interpretasi dari kehidupan sosial bermasyarakat yang berdaulat, saling merangkul dan harmonis.

Dengan solidaritas tinggi, mari menjunjung kembali spirit persatuan dan kesatuan dalam menyikapi pihak-pihak yang berusaha merusak ideologi negara, keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Tentunya dengan merespon dan mewaspadai paham ajaran baru di lingkungan sekitar.

*) Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.