Rumah Mahasiswi UB Itu Besok Dikunjungi Menteri…

0
16
Vidia Mega Permata Sari, bersama sang ayah, di rumahnya yang sederhana. (deny)

MALANGVOICE – Rumah kecil dan sederhana milik Abdul Khodir, di ujung gang sempit Jalan Kelapa Sawit, RT 10/RW 03, Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang, malam ini berubah menjadi riang.

Pasalnya, anak ketiga dari Abdul Khodir, Vidia Mega Permata Sari, berhasil membawa nama baik keluarga. Dia menerima beasiswa Bidik Misi untuk masuk ke Universitas Brawijaya (UB).

Saat ditemui MVoice di rumanya, gadis berkerudung itu masih malu-malu menceritakan kisahnya. Yang pasti, berkat beasiswa itu, rumah Vidia bakal dikunjungi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, besok siang.

Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris itu mengaku tak percaya seorang menteri mau mengunjungi rumah yang ditinggali bersama bapak dan adiknya.

Sejak kecil, Vidia memang selalu berprestasi. Di SD Pisang Candi 1, ia hampir selalu menduduki peringkat atas di kelas. Tak berhenti di situ, beranjak ke tingkat selanjutnya, di SMPN 13 dan SMA Muhammadiyah 1, Vidia selalu tak lepas dari lima besar di kelas.

Atas prestasi membanggakan itu, sang ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan itu tentu tak ingin masa depan anaknya putus karena kurang biaya untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Akhir kelas 12 SMA, Abdul Khodir menyarankan putrinya mengikuti program beasiswa Bidik Misi untuk masuk kuliah. Keinginan sang bapak ditanggapi serius. Vidia yang saat itu mendaftar bersama puluhan teman lainnya, juga atas rekomendasi sekolah, untuk menimba ilmu di UB, akhirnya tercapai.

Beberapa tes ia ikuti, syarat dan ketentuan ia jalani. Hingga berhasil diterima sebagai mahasiswi di universitas terkemuka di Kota Malang itu secara gratis, tanpa dipungut biaya apapun dari kampus.

Usaha Vidia tentu membuat hati Abdul Khodir lega. Penghasilan kuli bangunan yang tak tentu membuatnya cemas bila harus membayar ini itu. Belum lagi beban adik Vidia, Bagus Putra, yang ingin melanjutkan sekolah.

“Saya jelas bangga. Dengan keadaan seperti ini, anak saya bisa kuliah sampai lulus, dan tak perlu membayar,” tutur Abdul Khodir bangga.

Sebelum mendapat kabar bakal dikunjungi sang menteri. Mantan pegawai Universitas Merdeka Malang itu kaget saat didatangi tim dari Jakarta dan perwakilan UB di rumahnya.

Saat itu mereka melarang dia bekerja dan tetap di rumah jelang kedatangan menteri. “Mereka datang untuk survei rumah saya. Saya pikir ada apa, ternyata untuk kedatangan menteri. Ya sudah, dua hari ini saya di rumah, gak kerja,” tuturnya semangat.

Sementara Vidia, belum terpikir apa yang akan dibicarakan dengan M Nasir saat berkunjung ke rumahnya. “Yang pasti terima kasih banyak, itu saja,” katanya malu.

Program Bidik Misi dari Kemenristek dan Dikti itu memang ditujukan bagi yang tak mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Vidia yang masih berusia 19 tahun dianggap pantas mendapatkan itu. Harapan besar kini ada di pundak Vidia dan ribuan anak yang mendapat beasiswa, demi generasi emas dan memajukan Indonesia.