Masih Banyak Ketimpangan, Perempuan Batu Menuntut Hak

0
48
Anggota Sekolah Perempuan Desa saat aksi di Alun-alun Kota Batu (istimewa)

MALANGVOICE – Peran perempuan masih sering dianggap sebelah mata. Baik dalam hal kemiskinan, kekerasan seksual, pemberangusan pendapat dan ekspresi berkeyakinan berbeda, hingga Perda yang diskriminatif.

Menyikapi semua itu, Suara Perempuan Desa yang berada di bawah naungan Sekolah Perempuan Desa (SPD) Kota Batu, menggelar aksi memperingati International Woman’s Day, di Alun-alun Kota Batu, dengan tema Pledge of Pharity.

“Banyak Rancangan Undang-Undang (RUU) yang menjadi tanggung jawab pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan demokrasi bagi perempuan, masih sebatas janji belaka,” ungkap Direktur SPD, Salma Safitri, dalam rilis yang diterima MVoice.

Beberapa RUU yang dinilai timpang, di antaranya RUU Penyandang Disabilitas, RUU Perlindungan Nelayan, RUU PRT, RUU Kekerasan Seksual, RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender, dan RUU PPILN, yang kesemuanya belum dibahas dengan sungguh-sungguh.

“Kondisi ini menyebabkan ketimpangan yang berujung pada kekerasan dan diskriminasi yang terjadi pada perempuan,” imbuhnya.

Salma juga memaparkan data dari Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), AMAN Indonesia, hingga Cedaw Working Group Indonesia (CWGI). Data itu menyatakan, pada 2014 terdapat 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan.

“Ada juga praktek impunitas terhadap pejabat atau tokoh publik yang diduga menjadi pelaku kejahatan seksual, dan ketidakmampuan negara dalam menyediakan layanan pemulihan untuk perempuan,” tandasnya.

Perlu diketahui, seluruh dunia memperingati International Women’s Day setiap tanggal 8 Maret. Tema tahun 2016 ini adalah Pledge of Pharity yang berarti Ikrar Bersama Memperjuangkan Persamaan. SPD merupakan satu dari 100 organisasi perempuan di Indonesia yang akan melakukan peringatan bersama.