Lukisan Remaja Asli Batu Ini Sungguh Mempesona

0
317
Khafivatul Fikriyah menunjukkan tropi penghargaan dengan latar belakang lukisan karyanya (Fathul)
Khafivatul Fikriyah menunjukkan tropi penghargaan dengan latar belakang lukisan karyanya (Fathul)

MALANGVOICE – Biasanya hanya pelukis senior yang sudah memiliki kekhasan ide dalam berkarya. Namun itu tak berlaku bagi Khafivatul Fikriyah (14). Meski masih remaja, karyanya sungguh luar biasa, bahkan sudah diakui seniman Kota Batu.

Ciri-ciri lukisannya, bernuansa lucu khas anak-anak. Namun jika ditelusuri gaya lukisannya, termasuk aliran Naif yang menonjolkan warna mencolok, gambar lucu, serta berbagai obyek ceria.

Pelukis cilik yang tinggal di Dusun Kedung RT 62 RW 09, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, ini telah menghasilkan 20 karya lukis dari studio yang ada di kamarnya sendiri. Semua karyanya punya khas ‘naif’, sehingga pelukis senior Batu seperti Supri Picasso pun memujinya.

“Dia punya kekuatan, karya-karyanya sudah punya bentuk, sehingga tinggal meneguhkan karyanya hingga dewasa nanti,” ungkap Supri, mengomentari karya Ifa, panggilan akrab pelukis cilik itu.

Supri berpesan agar tetap menggunakan ciri khas yang telah dibangunnya. Apalagi di Kota Batu sulit mencari pasangan karya seperti yang dilakukan Ifa.

Kebanyakan perupa di Kota Batu, tambah Supri, sudah punya bentuk tersendiri baik abstrak, realis, termasuk beraliran magis.

Saat ditemui MVoice di rumahnya, Ifa tengah istirahat, karena harus belajar untuk persiapan olimpiade. Di ruang tamu rumahnya, ada satu lukisan raksasa berukuran 200 x 165 cm berjudul Melawan Naga Api. Ia terinspirasi dari film yang sudah lupa judulnya, lalu melukisnya.

“Yang saya suka lukisan berjudul ‘Ekspresi’ ini. Karena lucu, inspirasinya dari topeng-topeng yang ada di museum ketika diajak ayah,” jelas siswi Kelas VII MTs N Batu itu, memaparkan lukisan dengan obyek puluhan wajah berbagai bentuk dan ukuran. Lukisan itu juga dipajang di ruang tamu rumahnya bersama Naga Api.

Inspirasi melukisnya, lanjut anak pasangan Sulisno dan Warsunik itu, biasanya dari jalan-jalan, menonton film, hingga berimajinasi. Saat telah mendapat ide, ia bisa mencurahkannya dalam dua jam melukis. Kecuali lukisan Melawan Naga Api, ia membutuhkan waktu sampai 2 bulan.

“Biasanya Ifa yang memilih kanvas dan ukuran yang mau dilukisnya. Saya hanya mendukung, dia butuh apa saja. Karena sejak kecil memang kelihatan bakatnya. Itu seluruh tembok kamar penuh coretan, sekarang ditiru sama adiknya,” tambah ibu Ifa, Warsunik.