Ekspedisi Indonesia Raya (3); Terik di Aconcagua Kuras Tenaga Gorky Cs

0
35

MALANGVOICE – Pendaki gunung tunadaksa berkaki satu asal Indonesia, Sabar Gorky, beserta para pendaki TNI yang diwakili anggota Korps Marinir, kini tengah berada di Plaza de Mulas, Gunung Aconcagua, Argentina, untuk proses aklimatisasi sebelum mencapai puncak Aconcagua (6.962 mdpl).

Plaza de Mulas terletak di ketinggian 4.250 di atas permukaan laut (dpl). Nama Plaza de Mulas sendiri berasal dari satwa Mulas, yang digunakan sebagai pembawa beban untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan pendakian. Satwa ini dapat membawa beban seberat 60 kilogram dari Confluencia.

“Rabu kemarin para pendaki telah melakukan proses aklimatisasi selama kurang lebih 12 jam perjalanan naik turun gunung untuk penyesuaian diri dengan ketinggian,” jelas Manajer Ekspedisi Indonesia Raya, Dar Edi Yoga, beberapa menit lalu.

Selama proses aklimatisasi, jelas Dar Edi Yoga, para pendaki yang terdiri dari Sabar Gorky, Asep Sumanntri, Syatiri Ahmad dan Widya Victoria (jurnalis Kantor Berita Politik RMOL), serta lima anggota TNI yang terdiri dari Letkol (Marinir) Rivelson Saragih selaku komandan satuan tugas pendakian Gunung Aconcagua, Kopda (Mar) Sigit Purwoko, Kopda (Mar) Mar Imam Rozikin, Praka (Mar) Erlando Brojosentiko dan Praka ( Mar) Didik Rudiyanto, akan melakukan pendakian ke Gunung Bonete (5.100 mdpl).

Dalam rilis yang dikirim ke redaksi MVoice, dia menambahkan, tadi malam (waktu Indonesia), para pendaki tengah menanti jadwal cek up untuk dapat melanjutkan pendakian Jumat pagi waktu Argentina.

“Kendala yang dihadapi selama proses aklimatisasi adalah cuaca panas terik, kendati berada di ketinggian di atas 3.000 mdpl. Dan hal itu jelas sangat menguras tenaga para pendaki,” ungkap Dansatgas Pendakian Aconcagua, Letkol Marinir R Saragih.

Meski begitu, tegas Letkol Saragih, kondisi para pendaki dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu apapun. Para pendaki berharap proses summit atack dapat lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Bagi kebanyakan pendaki, Plaza de Mulas dengan tanah tandus dan hamparan salju di sekelilingnya, merupakan kemah kedua setelah Confluencia. Di tempat inilah para pendaki biasa menghabiskan waktu mereka untuk beraklimatisasi atau menunggu membaiknya cuaca.