Dwi Cahyono: Yayasan Inggil Bukan Penyelenggara Festival ‘Malang Doeloe’

Dwi Cahyono

MALANGVOICE – Yayasan Inggil Malang menegaskan, festival ‘Malang Doeloe’ pada 16 Januari dan 17 Januari mendatang, di Jalan Simpang Balapan, bukan diselenggarakan pihaknya.

Pendiri yayasan sekaligus konseptor ‘Malang Tempoe Doeloe’ (MTD), Dwi Cahyono, mengatakan, sejak merebak informasi adanya festival itu, ia kebanjiran pertanyaan dari publik.

“Banyak warga yang tanya ke saya, bagaimana cara pendaftarannya dan segala macam, saya tegaskan kepada mereka, bahwa bukan Yayasan Inggil yang menyelenggarakan,” kata Dwi kepada MVoice, beberapa menit lalu.

Menurutnya, hingga kini ia tidak tahu siapa panitia penyelenggara acara itu, karena sampai detik ini belum ada komunikasi dari pihak terkait. “Saya sendiri gak tahu siapa yang mengadakan dan bagaimana konsepnya,” tuturnya.

MTD, lanjut Dwi, merupakan sebuah konsep cagar budaya dengan tujuan agar masyarakat menghargai dan melestarikan budaya warisan nenek moyang.

Festival yang diselenggarakan sejak 2004, di Jalan Ijen, itu merupakan salah satu dari rangkaian panjang upaya pelestarian cagar budaya melalui sosialisasi kepada warga.

Dwi juga menerangkan, sebagai konsep, MTD mempunyai misi pada tiap tahun penyelenggaraannya. Pada festival pertama, MTD berhasil mengenalkan documentary board sebagai wahana bagi masyarakat untuk mengetahui asal-usul sejarah Kota Malang.

MTD kedua cukup membanggakan, karena Kota Malang berhasil masuk nominasi kota pusaka dunia, sedangkan festival selanjutnya sukses mengenalkan nama jalan tempo dulu kepada publik, yang saat ini diadopsi Dinas Perhubungan (Dishub).

“Artinya, setiap kali kita adakan MTD, pasti berdampak pada tahun-tahun berikutnya. Acara empat hari yang kami selenggarakan di Jalan Ijen itu hanyalah sosialisasi usaha yang kita lakukan sebelumnya, demi menyelamatkan cagar budaya,” tuturnya.

Dwi Cahyono khawatir jika even yang digelar dengan nama ‘Malang Doeloe’ ini hanya menampilkan sisi kemeriahannya, tanpa ada sumbangsih bagi penyelamatan cagar budaya.

“Jujur saja, sejak kami adakan MTD, masyarkat di Indonesia gemar mempelajari sejarah dan membawa konsep kita ini di daerahnya, contohnya Jakarta,” imbuhnya.

Tak hanya berjaya di level nasional, konsep MTD juga sedang diperkanlkan di dunia internasional sebagai arkeologi publik dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan.