Bappeda Kembangkan Air Lindi Sebagai Sumber Energi Alternatif

0
15
Bappeda Kota Malang

MALANGVOICE – Pemerintah Kota Malang saat ini mengembangkan sumber tenaga baru sebagai alternatif energi terbarukan. Energi itu melalui pemanfaatan Air Lindi sebagai alternatif sumber energi listrik terbarukan.

Inovasi datang saat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang, melakukan paparan dalam acara Penghargaan Energi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2016.

Menteri2Kepala Bappeda, Wasto, mengatakan, asal muasal munculnya inovasi itu tak lepas dari fakta adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi serta laju urbanisasi yang cukup pesat. Hal itu berdampak pada tingginya beban sampah yang mencapai 600 – 800 ton / harinya yang menghasilkan 800 L air lindi per hari nya.

Ia menjelaskan, air lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan pada timbunan sampah atau dalam kehiudpan sehari-hari dianalogikan seperti seduhan air teh. Air lindi itu membawa materi tersuspensi dan terlarut yang merupakan produk degradasi sampah.

“Komposisi air lindi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis sampah terdeposit, jumlah curah hujan di daerah TPA dan kondisi spesifik tempat pembuangan tersebut” kata Wasto.

Air lindi pada umumnya mengandung senyawa-senyawa organik (Hidrokarbon, Asam Humat, Sulfat, Tanat dan Galat) dan anorganik (Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Khlor, Sulfat, Fosfat, Fenol, Nitrogen dan senyawa logam berat) yang tinggi.

“Harapannya adalah terciptanya image yang baik mengenai limbah dalam mewujudkan masyarakat mandiri energi serta memberikan motivasi bagi masyarakat untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomasa disekitar lingkungan untuk konversi ke energi alternatif” ujar Wasto.

Bappeda juga berencana akan mengembangkan potensi kreatif warga dengan membentuk paguyuban bersama sebagai wadah dan tempat berkumpul para inivator untuk berdiskusi dan mengaplikasikan hasil karya mereka.

Tak hanya itu, pemerintah juga bersedia menjembatani hasil karya para inovator ini untuk dipatenkan serta dipasarkan dengan menggandeng Malang Creative Fusion (MCF) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).