Ayo Cerdas Memilih Tayangan Untuk Anak

0
38
Kelompok KKN 48 (ist)

MALANGVOICE – Di era digital dan globalisasi, media elektronik berlomba-lomba untuk memenangkan hati masyarakat untuk menjadi yang terdepan. Dengan tujuan agar jumlah rating terus naik dan menjadi nomor satu, tidak jarang media elektronik khususnya pertelevisian menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Kualitas konten pertelivisian tidak lagi teratur, sebab kebanyakan konten berisi hal-hal yang tidak memiliki nilai kebaikan. Hal ini cenderung membahayakan, terlebih para konsumen media adalah anak-anak. Anak-anak zaman sekarang cenderung melakukan modelling (menirukan) terhadap apa yang mereka lihat di televisi.

Bersama peserta (ist)
Bersama peserta (ist)
Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 42 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2016 berusaha menyadarkan dan mengedukasi masyarakat mengenai fenomena ini. Kelompok KKN yang berlokasi di desa Sukolilo, kecamatan Wajak, kabupaten Malang menyelenggarakan sebuah acara penyuluhan untuk mengedukasi ibu-ibu di desa Sukolilo agar dapat memilah-milih media dan tayangan untuk anak.

Kegiatan dari divisi Sosial dan Budaya ini dilaksanakan pada hari Senin, 01 Agustus 2016. Mengundang seorang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Winda Hardyanti SSos MSi.

Penyuluhan yang berkonsep seperti parenting sharing ini dilaksanakan pada pukul 10.35 WIB. Antusias ibu-ibu PKK Desa Sukolilo telah terlihat setengah jam sebelum acara dimulai. Pesert menyimak dengan sekesama apa yang dijelaskan Winda.

Winda mengingatkan bahwa sebenarnya saat anak-anak sedang menonton televisi, orang tua tidak sadar anak-anak telah diajari oleh televisi mengenai konten yang ia lihat. Permasalahannya adalah, sering kali konten televisi justru menjerumuskan anak-anak tersebut. Winda juga berbagi informasi bahwa saat anak berusia 0-2 tahun tidak dianjurkan untuk menonton televisi sebab proses belajar anak-anak mengenai kehidupannya akan terganggu.

Winda menerangkan (ist)
Winda menerangkan (ist)
Salah satu dampak buruk yaitu anak-anak sulit untuk berkomunikasi kepada orang lain sebab dari menonton televisi mereka hanya menjadi penonton dan tidak ada interaksi kepada orang lain. Winda menganjurkan agar di usia 0-2 tahun anak-anak agar dapat selalu didampingi dan lebih banyak berkomunikasi bersama orang tua.

Dosen yang pernah mengikuti short course tentang Human Rights di Norwegia ini juga memaparkan bahwa di atas 2 tahun anak-anak hanya boleh menonton televisi sebanyak satu sampai dua jam perhari nya. Hal ini guna meluangkan waktu terhadap dunia sekitarnya. Mendampingi buah hati saat menonton tayangan televisi dianggap sangat penting bagi Winda.

“Sangat penting sekali karena sekarang eranya teknologi informasi, zaman sudah berubah, jadi orang tua juga harus belajar cara mendampingi anak dalam memilih dan menikmati media,” ujar Winda.

KKN 42 UMM 2016 berharap dengan diadakannya acara penyuluhan tersebut semoga dapat mengedukasi dan sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan para orang tua dan anak dalam mengkonsumsi tayangan televisi.