Arif: PDI Perjuangan Siap Rebut Kursi N-1 di Pemilukada 2018

0
4
Arif Wicaksono

MALANGVOICE – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Malang, menegaskan siap merebut kembali kursi Wali Kota Malang pada pemilukada tahun 2018 mendatang.

Ketua DPC, Arif Wicaksono mengatakan, sebagai partai pemenang pemilu di Kota Malang, sudah selayaknya kursi pimpinan eksekutif kembali direbut partai berlambang moncong putih itu.

“Tahun 2018 kita bertekad bulat merebut kembali kursi N-1,” kata Arif kepada MVoice, beberapa menit lalu.

Selama dua periode sejak tahun 2003 sampai tahun 2008 dan tahun 2008 sampai tahun 2013 partai besutan Megawati Soekarno Putri ini berhasil mengantarkan kadernya Peni Suparto menduduki jabatan wali kota.

Hanya saja, pada saat Pemilukada tahun 2013 PDI Perjuangan gagal mengulang kesuksesan serupa dan harus menyerahkan tampuk kekuasaan kepada wali kota terpilih HM Anton.

“Kami sudah pelajari dengan baik segala macam kekurangan pada saat Pemilukada periode lalu, termasuk juga menekankan kepada semua kader agar menurut kepada titah DPP khususnya terkait dengan rekomendasi calon kepala daerah,” tandasnya.

Dalam masa kepepimpinannya ini, Arif sangat yakin tidak akan ada kader yang ‘mbalelo’ atau ‘ngambek’ karena masalah rekomendasi. Bahkan, saat ini, dengan model yang baru tiap DPC saling mensupport dan mensukseskan pemilukada satu sama lain.

“Misal Kabupaten Malang dan Kota Batu kami di Kota Malang akan support mereka, nanti sama jika disini ada gawe dua daerah itu ditambah daerah lain juga siap membantu kita,” bebernya.

Karenanya, DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Minggu (7/1) malam kemarin membentuk 57 ranting dan 5 Pimpinan Anak Cabang (PAC) guna menghidupkan mesin partai dengan mekanisme koordinasi rutin.

“Bahkan kami target membentuk 544 anak ranting dan saat ini sudan terbentuk sekitar 400 lebih. Nanti saya sendiri akan turun langsung untuk koordinasi bersama mereka tiap bulan satu atau dua kali,” tuturnya.

Selain menghadapi Pemilukada 2018, DPC juga menyiapkan mesin untuk menatap Pemilu Gubernur Jawa Timur, Pemilu Legislatif hingga Pemilu Presiden.

“Intinya ada atau tidak ada pemilu mesin partai harus hidup biar tidak vakum. Ketika ada momen baik pemilukada dan sebagainya kita gas kenceng mesin partai itu,” pungkasnya.